Celah itu sudah tertutup, tapi tertutup oleh kematian, dan kematian bukan pertahanan yang bisa bertahan lama. Bara tahu ia hanya punya sedikit waktu — waktu yang Jaya beli dengan nyawanya — sebelum musuh menyadari bahwa senapan mesin di celah itu sudah bungkam dan datang kembali. Ia tak boleh menghabiskan waktu itu untuk berduka. Duka harus menunggu, seperti selalu, seperti tanah penuh nama yang menunggu di belakangnya.
Ia memanjat ke bibir tanggul garis tengah, tak peduli pada penembak jitu, dan untuk pertama kalinya sepanjang pertempuran ini ia melihat seluruh medan dengan jernih. Ia melihat musuh yang juga kelelahan, juga berdarah, juga kehabisan ombak. Dua gelombang besar mereka pecah di Kalimas, dan gelombang ketiga mereka tersangkut di celah yang Jaya tutup. Mereka renggang sekarang. Mereka ragu. Bara mengenali keraguan itu sebab ia pernah merasakannya sendiri, di seberang parit, seabad yang lalu.
Perang telah mengajarinya banyak hal yang ia tak pernah ingin pelajari, tapi satu di antaranya kini berguna: bahwa pertempuran tidak selalu dimenangkan oleh yang paling kuat, melainkan kadang oleh yang sanggup berdiri sedetik lebih lama setelah keduanya yakin tak ada lagi yang tersisa. Jaya pernah mengatakan itu, di sebuah malam yang dingin, sambil membersihkan senapan. Saat dua orang sama-sama habis, kata Jaya, yang menang adalah yang tak tahu dirinya sudah kalah. Bara dulu mengira itu hanya ucapan orang tua yang lelah. Sekarang ia melihatnya terbentang nyata di hadapannya di tanah berlumpur Kalimas: dua kekuatan yang sama-sama remuk, dan yang akan menang adalah yang berani bangkit lebih dulu.
Inilah saatnya. Bukan untuk bertahan. Untuk membalas.
"Galih!" panggilnya, melompat turun. "Kumpulkan semua yang masih bisa berjalan dari sayap kanan. Wira, ambil semua granat yang tersisa, semua, jangan ada yang ketinggalan. Karto, lari ke sarang senapan mesin kiri, suruh mereka pindah ke titik celah dan tahan dari sana. Cepat!"
"Kita... menyerang, Bang?" tanya Galih, matanya melebar. "Kita cuma tinggal segini."
Bara menatapnya. Lalu ia menatap mereka semua, sisa-sisa orang yang masih berdiri di Kalimas, wajah-wajah lelah berlumur lumpur dan darah, anak-anak muda yang seharusnya sedang menanam padi atau memanggul ikan atau membaca buku di bangku kuliah. Ia melihat di wajah mereka ketakutan yang sama, ketakutan yang ia kenal sampai ke tulang. Dan ia tahu apa yang harus dikatakan, sebab ia pernah mendengarnya dikatakan padanya, di sebuah fajar yang berdarah di kaki bukit yang lain.
"Dengar aku," kata Bara, dan suaranya tidak keras, tapi entah bagaimana terdengar oleh semua. "Di seberang sana ada orang-orang yang sama takutnya dengan kita. Sama lelahnya. Mereka pikir kita sudah habis. Mereka pikir tidak ada lagi yang berani bangkit dari lembah ini." Ia berhenti. "Mereka salah. Di belakang lembah ini ada rumah kita. Ada ibu kita. Ada orang-orang yang kita janji untuk pulangi. Dan di lembah ini — di lumpur ini — ada nama-nama yang tidak bisa pulang. Reno. Darmo. Tio. Naba. Bidin. Dan baru saja, Kopral Jaya."
Suaranya bergetar pada nama terakhir, tapi ia tidak berhenti.
"Selama kita ingat nama mereka, mereka belum benar-benar mati. Mereka maju bersama kita hari ini. Untuk mereka yang tidak bisa pulang — kita yang maju."
Tak ada sorak. Tak ada teriakan heroik. Hanya senyap, dan dalam senyap itu Bara melihat sesuatu mengeras di wajah-wajah muda itu, sesuatu yang sama seperti yang pernah mengeras di dalam dirinya. Wira mengangguk pelan. Galih menyeka air mata dengan punggung tangan yang kotor dan mencengkeram senapannya. Sepanjang garis, orang-orang yang sudah pasrah mati mulai bangkit, satu demi satu, ke bibir tanggul.
Seorang prajurit tua — salah satu dari sedikit yang bertahan dari hari-hari awal — meludah ke tanah dan berkata serak, "Kalau aku harus mati hari ini, aku tidak mau mati sambil bersembunyi di lubang." Yang lain tak berkata apa-apa, tapi mereka mengencangkan tali ransel, memeriksa peluru terakhir, membasahi bibir yang pecah-pecah. Bara melihat di antara mereka beberapa anak yang baru tiga minggu di front, anak-anak yang seharusnya masih di rumah, dan ia merasakan beban itu — beban yang dulu memberati pundak Jaya — menekan pundaknya sendiri. Ia yang menyuruh mereka maju sekarang. Ia yang darah mereka akan jadi tanggungannya. Ia menelan rasa itu, sebab seorang pemimpin tak boleh ragu di saat orang-orangnya butuh ia tak ragu, dan ia berdiri tegak supaya mereka bisa melihat punggung yang tegak.
Bara mengangkat tangannya. Di kejauhan, celah yang Jaya tutup masih bungkam, dan musuh masih ragu, dan langit masih kelabu — tapi di balik kelabu itu, jauh di timur, ada semburat tipis yang mulai menua menuju fajar.
Ia menarik napas dalam-dalam, napas yang membawa bau mesiu dan tanah dan darah dan, jauh sekali, samar sekali, bau jerami pagi di sebuah desa yang ia tinggalkan seabad yang lalu. Lalu suaranya menggema di sepanjang Lembah Kalimas, memecah keheningan, kata yang sama yang pernah dipekikkan seorang lelaki tua di fajar yang lain, kata yang kini menjadi miliknya untuk diwariskan.
"MAJU!"
Dan Bara melompat keluar lebih dulu, ke tanah terbuka, ke arah musuh yang ragu, dan di belakangnya seluruh sisa Kalimas bangkit dan ikut, dan untuk pertama kalinya sejak ombak pertama menghantam, arah pertempuran mulai berbalik.