Serangan ketiga datang saat sore mulai meredup, dan kali ini mereka tahu Kalimas tak akan bertahan.
Musuh telah belajar dari dua gelombang sebelumnya. Mereka tidak lagi datang serentak di tengah, tempat senapan mesin Bara menunggu. Mereka mengarahkan tombak mereka ke titik lemah di sambungan antara garis tengah dan sayap kiri yang sudah berdarah, sebuah celah selebar tiga puluh langkah tempat hanya tersisa segelintir orang lelah dengan amunisi yang nyaris habis. Bara melihatnya terjadi seperti melihat air bah menemukan retakan di bendungan.
Ia sudah memperingatkan tentang celah itu sejak siang. Ia telah mengirim Karto berlari ke markas batalion meminta cadangan, dan jawaban yang kembali adalah jawaban yang sama yang selalu kembali dari kota yang jauh dari lumpur: bertahan dengan yang ada. Tak ada cadangan. Tak ada amunisi tambahan. Hanya perintah untuk menahan, ditandatangani oleh tangan-tangan yang tak akan pernah merasakan tanah Kalimas di bawah kuku mereka. Bara telah meremas kertas itu dan menelan kemarahannya, sebab kemarahan tak menutup celah. Hanya tubuh yang menutup celah. Dan ia kekurangan tubuh.
"Mereka menembus!" teriak seseorang. "Sambungan kiri jebol!"
Bara berlari di sepanjang parit, jatuh, bangkit, terus berlari, sambil meneriakkan perintah yang ia sendiri tahu mungkin tak sempat dilaksanakan. Kalau celah itu melebar, seluruh garis akan tergulung dari samping, dan lembah ini akan jatuh sebelum malam. Ia memanggil cadangan yang tak ada. Ia memanggil amunisi yang tak ada. Ia memanggil keajaiban, dan tak ada keajaiban yang menjawab.
Tapi ada seseorang yang sudah lebih dulu di sana.
Kopral Jaya berdiri di mulut celah itu, bertumpu pada kaki yang sejak Bukit 88 tak pernah lagi lurus, kaki yang membuatnya pincang dan membuat para dokter memulangkannya dengan kertas yang menyatakan ia tak lagi layak bertempur. Jaya telah merobek kertas itu berbulan-bulan lalu dan kembali ke front sebagai penasihat, sebagai bayangan dirinya yang dulu, sebagai orang tua yang berdiri di belakang sambil memandang anak-anaknya maju. Sekarang ia tidak berdiri di belakang. Ia berdiri di tempat paling depan dari semua, di titik tempat seluruh perang ini akan diputuskan.
"JAYA!" jerit Bara. "MUNDUR! Itu bunuh diri!"
Sang kopral menoleh. Untuk sepersekian detik, di tengah peluru yang mendesing dan bayangan kelabu yang sudah hampir sampai, matanya bertemu mata Bara, dan Bara melihat di sana sesuatu yang sudah lama ia kenal: kelelahan seorang lelaki yang telah berperang melawan dunia tak masuk akal terlalu lama, dan di balik kelelahan itu, sebuah ketenangan yang menggetarkan.
"Tahan mereka di sini, Bara," Jaya berteriak melintasi keributan, dan ia tersenyum, senyum lelah yang sama seperti di malam sebelum Bukit 88. "Kau dengar aku? Kau tahan garis tengah. Aku tutup celah ini. Bawa mereka pulang."
Lalu ia melangkah maju, ke dalam celah, ke dalam tombak kelabu itu sendirian. Ia membawa dua kotak granat dan senapan mesin yang berat, yang seharusnya butuh dua orang untuk dibawa, dan ia menumpukan tubuhnya yang pincang di bibir tanggul dan mulai memuntahkan api ke arah celah yang menganga. Bayangan-bayangan kelabu itu roboh di hadapannya, menumpuk, dan celah itu yang tadinya menganga mulai tersumbat oleh tubuh dan oleh kehendak satu orang tua yang menolak menyerahkan jalan pulang anak-anaknya.
Bara berlari ke arahnya, tapi tangan-tangan mencengkeramnya — Wira, Galih, entah siapa lagi — menariknya kembali ke garis tengah, sebab garis tengah pun akan jatuh kalau Bara meninggalkannya. Ia berteriak, ia meronta, tapi ia tahu, dengan kepastian yang mematahkan segalanya di dalam dirinya, persis seperti yang ia rasakan saat memandang granat di kaki Tio, bahwa Jaya tahu persis apa yang ia lakukan. Bahwa ini bukan kekalahan yang dipaksakan padanya. Ini pilihan. Pilihan terakhir seorang ayah.
"Lepaskan aku!" Bara meraung, tapi suaranya sendiri terdengar asing, pecah, suara anak kecil. "Itu Jaya! Itu Jaya, lepaskan—"
"Bang Bara, garis tengah!" Wira meneriakkan kata-katanya tepat di telinga Bara, mencengkeram kerah seragamnya, matanya basah tapi tangannya tak goyah. "Kalau Abang pergi, kita semua mati! Itu... itu yang dia tahan untuk apa? Untuk apa kalau kita semua mati juga?"
Kata-kata itu menghantam Bara lebih keras dari granat mana pun, sebab kata-kata itu benar, dan kebenarannya kejam. Ia berhenti meronta. Ia berdiri di garis tengah dan memaksa dirinya menatap ke celah, memaksa dirinya menjadi saksi, sebab paling tidak itu yang bisa ia berikan: matanya, ingatannya, supaya apa yang terjadi di sana tak hilang tanpa ada yang melihat.
Senapan mesin itu menggonggong terus, terus, lama sekali, jauh lebih lama dari yang Bara kira mungkin. Setiap detiknya adalah detik yang dibeli, detik tempat Bara bisa menata ulang garis tengah, menutup sayap, menyiapkan apa yang harus ia siapkan. Detik-detik itu adalah hadiah terakhir dari seorang lelaki kepada anak-anaknya.
Lalu sebuah granat musuh melayang masuk, dan suara senapan mesin itu berhenti.
Hening yang menyusul terasa lebih bising daripada seluruh pertempuran. Bara berdiri membeku di garis tengah, foto seorang wanita dan seorang gadis kecil terasa membakar di dalam sakunya, dan untuk waktu yang lama ia tak bisa bernapas, tak bisa berpikir, tak bisa apa-apa. Celah itu tersumbat sekarang. Tersumbat oleh tubuh-tubuh dan oleh seorang lelaki tua pincang yang telah menepati setiap kata dari janjinya.
Bara menundukkan kepala. Air mata jatuh di lumpur, bercampur dengan darah yang sudah lebih dulu ada di sana. Tapi di tengah dadanya yang hancur, ada satu hal yang tak hancur, satu hal yang Jaya tanamkan dan yang tak bisa direnggut oleh granat mana pun.
Bawa mereka pulang. Itu yang ia diberi. Dan untuk membawa mereka pulang, garis ini harus bertahan, lalu garis ini harus balik menyerang. Pengorbanan itu tak boleh sia-sia. Tidak akan ia biarkan sia-sia.
Ia mengangkat kepalanya, dan api dingin yang dulu hanya pernah menyala sekali, di malam Tio gugur, menyala lagi, kini lebih jernih, lebih tajam, dan lebih dalam.