Lembah Kalimas tidak lagi mengenal pagi. Sejak gelombang pertama menghantam tepi pertahanan semalam, langit menjadi gulungan asap kelabu yang tak punya batas, dan matahari hanya hadir sebagai noda pucat di baliknya, seperti mata yang enggan membuka. Bara berjongkok di balik tanggul karung pasir yang sudah robek di banyak tempat, merasakan tanah berdenyut di bawah lututnya setiap kali meriam musuh meletus di kejauhan.
"Mereka datang lagi!" teriak Galih dari sisi kanan, suaranya pecah oleh kering dan ketakutan. "Banyak. Lebih banyak dari tadi."
Bara mengintip lewat celah di antara dua karung. Di seberang lapangan berlumpur, bayangan-bayangan kelabu itu bangkit dari parit-parit dangkal mereka dan mulai bergerak, serentak, seperti pasang yang tak mau surut. Ia sudah melihat ombak semacam ini berkali-kali sepanjang malam, dan setiap kali ombak itu pecah di garis mereka, ia kehilangan satu nama lagi. Tanah di belakangnya, di belakang lembah ini, adalah jalan terbuka. Jalan ke kota-kota di selatan. Jalan ke desa-desa. Jalan ke Sumberarum, tempat seorang ibu masih menanak nasi untuk dua orang meski hanya satu yang ada di rumah.
Bau di parit itu sudah lama melampaui apa yang sanggup ditahan hidung manusia — mesiu yang membakar tenggorokan, lumpur yang masam, dan di bawah semua itu, bau manis-busuk yang tak pernah benar-benar hilang sejak ombak pertama. Bara sudah berhenti memperhatikannya. Tubuh punya cara melindungi diri sendiri, menumpulkan apa yang tak sanggup ia rasakan terus-menerus. Begitu pula hatinya, pikirnya kadang-kadang, di malam yang langka saat sempat berpikir. Tumpul supaya tetap bisa berjalan.
"Tahan tembakan," kata Bara, suaranya rendah tapi tegas, menjalar di sepanjang barisan lewat mulut ke mulut. "Biarkan mereka dekat. Jangan boros peluru. Kita tidak punya peluru untuk diboroskan."
Di sampingnya, Wira menyeka keringat bercampur lumpur dari dahinya. Anak itu tak lagi gemetar seperti dulu di tepi Bukit 88. Lengannya yang pernah patah dan disembuhkan setengah-setengah kini memegang senapan dengan keteguhan yang membuat dada Bara terasa penuh sekaligus pedih. Ia telah mengubah anak ini. Perang telah mengubah anak ini.
"Bang," bisik Wira. "Kalau lini ini jebol—"
"Tidak akan," potong Bara.
"Tapi kalau—"
"Kalau jebol, kita tutup lagi dengan tubuh kita. Tapi tidak akan jebol selama aku masih bisa berdiri. Mengerti?"
Wira menatapnya, lalu mengangguk. Bara meletakkan tangannya sebentar di kepala anak itu, sebuah gerakan yang sudah tak perlu ia pikirkan lagi, gerakan yang dulu Jaya berikan padanya di malam pertamanya yang dingin. Estafet kecil. Lalu ombak kelabu itu sudah cukup dekat.
"SEKARANG!" pekik Bara.
Garis pertahanan Kalimas meledak menjadi suara. Senapan menggonggong di sepanjang tanggul, mesin penggiling kematian berderak dari sarang di sayap kiri, dan barisan kelabu di depan mulai roboh, satu demi satu, dua demi dua, lalu berpuluh-puluh. Tapi mereka terus datang. Mereka selalu terus datang. Bara membidik, menarik pelatuk, memuat, membidik lagi, dan ia berhenti membiarkan dirinya melihat wajah-wajah itu, sebab ia tahu setiap wajah itu pernah punya ibu juga.
Ia pernah mengenal seorang serdadu musuh yang terjerat kawat berduri, bertahun lalu, di parit yang lain. Ia pernah memberinya air dan roti dan melepaskannya, dan lelaki itu memberinya foto seorang ibu dan seorang adik. Foto itu masih ada, terselip di antara barang-barangnya, bersama foto yang lain. Bara tak pernah bisa lagi menarik pelatuk tanpa mengingat bahwa di seberang sana mungkin ada orang yang juga menyimpan foto seperti itu. Pengetahuan itu adalah beban. Tapi melepaskan pengetahuan itu — menjadi orang yang tak lagi melihat manusia di balik seragam kelabu — adalah harga yang lebih mahal dari nyawanya sendiri. Jadi ia membidik, dan menembak, dan membayar harga yang lebih murah, dan membenci dirinya sedikit setiap kali.
Seorang prajurit muda di sebelah Galih terlempar ke belakang, dadanya merah, dan tak bergerak lagi. Naba — anak dari kampung nelayan, sekampung dengan Galih, yang datang naik kereta yang sama dengannya dulu. Bara mengenal betul namanya, betul wajahnya, dan justru itu yang membuat dadanya seolah ikut tertembus. Bara mengertakkan rahang dan terus menembak. Nanti. Ia akan menangisinya nanti, saat ada waktu untuk menangis. Sekarang ia hanya boleh menjaga yang masih bernapas.
Ombak itu menghantam tanggul. Beberapa sosok kelabu berhasil sampai ke kawat berduri, terjerat, menjerit, dan jeritan itu menyatu dengan jeritan dari pihak Bara sendiri sampai tak bisa dibedakan lagi siapa berteriak untuk siapa. Bayonet beradu. Lumpur berubah menjadi merah hangat yang menguap di udara dingin. Bara menendang, menusuk, menarik, dan untuk sesaat yang panjang dunia hanya berupa napas yang membakar dada dan tangan yang tak boleh berhenti bergerak.
Lalu, sama tiba-tiba seperti datangnya, ombak itu surut. Yang tersisa di lapangan adalah gundukan-gundukan kelabu yang tak bergerak, dan rintihan, dan asap.
Bara merosot ke dasar parit, dadanya naik-turun. Di sebelahnya, Galih menangis tanpa suara, masih menggenggam senapan Naba. Wira memandangi tangannya sendiri yang berlumur darah orang lain. Sepanjang garis, orang-orang yang masih hidup hanya diam, terlalu lelah untuk bersorak atas kemenangan yang sama sekali tak terasa seperti kemenangan.
Karto, sang kurir, datang merangkak di sepanjang parit, wajahnya abu. "Bang Bara. Sayap kiri. Mereka kehilangan separuh orang. Komandan kompi di sana... sudah tidak ada. Mereka minta perintah."
Bara menutup matanya sejenak. Setiap jengkal lumpur ini ditebus dengan darah, dan harga itu tak pernah berhenti naik. Ia bangkit, lututnya gemetar, dan menatap ke seberang lapangan tempat ombak berikutnya pasti sedang berkumpul.
"Bilang ke mereka," kata Bara, suaranya serak tapi tak goyah, "kita tidak mundur satu langkah pun. Di belakang lembah ini tidak ada parit lagi. Yang ada cuma rumah kita."