Dentuman tunggal itu hanya pembuka. Sedetik kemudian seluruh garis musuh menyala sekaligus, dan langit di atas Lembah Kalimas terbelah oleh suara yang Bara rasakan di setiap tulangnya. Gempuran artileri yang turun bukan hujan, melainkan longsoran, peluru demi peluru menghantam lereng dan parit dan tanah datar di antara dua garis, mengangkat gumpalan tanah sebesar rumah, melemparkan kawat dan pancang dan, sesekali, tubuh, tinggi ke udara fajar yang kelabu.
"TIARAP! KE DASAR PARIT!" teriak Bara, suaranya tenggelam dalam deru, dan ia mendorong dua prajurit muda ke bawah dengan tangannya saat sebuah ledakan menghantam karung pasir hanya beberapa langkah ke kanan, menghujani mereka dengan tanah dan asap. Bumi melompat di bawahnya, sama seperti pagi pertamanya di Sektor Tujuh, seumur hidup yang lalu, saat ia meringkuk seperti anak kecil dengan tangan menutup telinga. Tapi ia bukan anak itu lagi. Ia bangkit setengah, bergerak di sepanjang parit yang berguncang, menarik yang membeku, menekan yang panik, berteriak nama-nama agar mereka ingat mereka punya nama, agar mereka tetap manusia di tengah neraka yang dirancang untuk mengubah manusia menjadi debu.
Gempuran itu berlangsung entah berapa lama. Waktu kehilangan bentuknya. Bara hanya tahu bahwa telinganya berdenging, mulutnya penuh debu, dan setiap kali ia mengira ledakan terburuk telah lewat, yang lebih besar datang. Di sampingnya, Wira menembakkan tanah dari wajahnya dan menatap Bara dengan mata yang liar tapi tetap, dan mengangguk, hanya mengangguk, sebuah janji tanpa kata bahwa ia tak akan lari.
Lalu gempuran berhenti.
Keheningan setelahnya lebih mengerikan daripada suara. Dengung tinggi di telinga Bara, dan di bawahnya, naik dari lembah, sebuah suara baru. Peluit. Lalu teriakan ribuan tenggorokan. Lalu derap.
"MEREKA DATANG!" Bara berdiri, mengabaikan setiap naluri yang menjerit agar tetap di bawah. "KE GARIS TEMBAK! SEKARANG! TETAP RENDAH, TUNGGU ABA-ABA!"
Ia mengintip melewati bibir parit, dan apa yang dilihatnya membuat napasnya tertahan sejenak. Lereng lembah, sejauh mata memandang dalam cahaya fajar yang berdarah, dipenuhi gerakan. Bayangan-bayangan kelabu, bukan ratusan kali ini, tapi ribuan, mengalir turun ke arah Kalimas seperti banjir yang tumpah dari bendungan yang akhirnya jebol. Lebih banyak dari yang pernah ia lihat. Lebih banyak dari yang ia kira ada di dunia.
Untuk satu detik, teror lama itu mencengkeram tenggorokannya. Pikiran bahwa mereka tak mungkin menahan ini. Bahwa lembah ini akan menjadi kuburan mereka semua.
Lalu ia melihat wajah-wajah di sekelilingnya yang menatapnya, menunggu, percaya. Dan ia menelan teror itu, mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih dingin dan lebih berguna. Ia teringat suara Jaya di pagi pertama, keras dan tak gentar di tengah deru. Bertahan. Jangan mundur. Kalau garis ini jatuh, semuanya runtuh.
"Tunggu," kata Bara, dan suaranya entah bagaimana cukup tenang untuk terdengar di sepanjang parit, dari mulut ke mulut. "Tunggu... biarkan mereka dekat... jangan buang peluru..."
Bayangan kelabu itu semakin dekat. Bara bisa melihat wajah-wajah sekarang, mulut yang terbuka berteriak, mata yang lebar oleh teror dan tekad yang sama dengan yang ada di parit ini. Manusia. Selalu manusia. Anak-anak yang dikirim untuk membunuh atau dibunuh oleh orang-orang yang tak pernah mereka temui. Pengetahuan itu, yang dulu hampir melumpuhkannya di pagi pertama, kini hanya menjadi beban berat yang ia panggul sambil terus bekerja. Tak ada waktu untuk filosofi. Hanya untuk bertahan, dan menjaga yang di sebelahnya bertahan.
Lima puluh meter. Empat puluh.
"SEKARANG!" teriak Bara. "TEMBAK!"
Garis Kalimas meledak dalam api. Seluruh parit menyalak sekaligus, senapan dan senapan mesin dan mortir, dan gelombang pertama bayangan kelabu itu tersapu, jatuh, tapi yang di belakang terus datang, melompati yang tumbang, berteriak, menembak balik. Peluru mendesing melewati telinga Bara, menghantam karung pasir, menjerit dari logam ke logam. Di sebelahnya seorang prajurit tersentak dan jatuh ke dasar parit, dan Bara tak bisa berhenti untuk melihat siapa, karena berhenti berarti mati, dan mati berarti dua puluh orang lain yang ia jaga ikut mati.
Ia menembak, dan memuat, dan menembak lagi, dan suaranya tak pernah berhenti, memanggil, memerintah, menahan garis dengan kemauannya sendiri. "Wira, kanan! Galih, tetap menunduk! Karto, bawa peluru ke ujung! Tahan! Tahan posisi!" Gelombang pertama pecah di kaki pertahanan mereka, mengalir di sepanjang kawat, mencari celah. Beberapa mencapai bibir parit dan di sana pertempuran menjadi tangan ke tangan, brutal dan dekat, bayonet dan popor dan tinju.
Bara melihat Jaya, jauh di belakang garis kedua, berdiri di atas tongkatnya yang menancap di lumpur, tak bisa berlari tapi menolak berbaring, menembakkan pistol tuanya dengan ketenangan seorang yang sudah berdamai dengan segalanya. Mata mereka bertemu sekilas melintasi kekacauan, dan Jaya mengangguk, sekali, dan dalam anggukan itu ada seluruh kepercayaan yang pernah ia berikan.
Gelombang pertama akhirnya surut, terhempas balik, meninggalkan lereng yang dipenuhi tubuh. Parit Kalimas masih bertahan. Tapi saat Bara menyeka darah dan debu dari matanya dan menatap ke seberang lembah, jantungnya mencelos. Karena di balik gelombang yang baru saja mereka patahkan, mengalir turun dari punggung bukit, gelombang berikutnya sudah datang. Lebih besar. Dan di belakangnya, gelombang lagi.
Ini bukan serangan. Ini ombak yang akan terus datang sampai salah satu dari mereka habis.
Bara mengisi senapannya dengan tangan yang anehnya tak gemetar, dan berteriak agar mereka bersiap, dan di langit timur fajar terus merekah, merah dan emas dan tanpa ampun, menyinari lembah yang baru saja mulai membara.