Malam itu terasa lebih panjang dari malam mana pun yang pernah Bara lalui, dan ia telah melalui banyak. Waktu seakan mengental, setiap menit ditarik panjang seperti kawat yang dibengkokkan sampai nyaris putus. Di seluruh garis Kalimas, prajurit-prajurit tak tidur. Mereka membersihkan senapan untuk kesepuluh kalinya, mengasah bayonet yang sudah tajam, menulis surat dengan tangan gemetar di bawah cahaya redup yang ditutupi telapak agar tak terlihat dari seberang.
Bara berjalan di sepanjang parit, dari satu orang ke orang lain, dan menyadari bahwa ia sedang melakukan persis apa yang dulu Jaya lakukan di malam-malam seperti ini. Berhenti di samping seorang anak yang gemetar dan menekan bahunya. Bercanda kecil yang tak lucu hanya agar tawa pendek memecah ketegangan. Memastikan kaus kaki kering, perut terisi sebisanya, tangan tahu ke mana harus bergerak saat pikiran lumpuh oleh teror. Ia tak merencanakan ini. Itu mengalir keluar dari dirinya, sebuah warisan yang telah meresap ke tulangnya tanpa ia sadari.
Ia menemukan Galih, lengannya terbalut, bersandar di dinding parit dengan mata terbuka menatap langit-langit gelap.
"Kau seharusnya di belakang," kata Bara lembut. "Lenganmu—"
"Aku tak mau di belakang." Galih menoleh, dan ada sesuatu yang baru di matanya, sesuatu yang ditempa di bawah jembatan yang meledak. "Aku berarti, Bang. Kau bilang sendiri. Aku mau berarti lagi."
Bara duduk di sampingnya. Ia tak menyuruhnya kembali. Ia hanya menepuk lutut anak itu, sekali, sebuah pengakuan tanpa kata, dan Galih menerimanya seperti medali.
Di sudut parit yang paling terlindung, Bara mengumpulkan inti regunya. Wira, Galih, Karto, Naba yang kakinya terbalut tapi menolak dievakuasi, dan selusin wajah muda lain yang menatapnya dengan campuran takut dan percaya yang membuat dadanya sesak. Ia mengeluarkan benda-benda dari sakunya satu per satu, dan menatanya di atas peti amunisi di bawah cahaya redup, seolah menggelar relik di altar.
Bungkus kunyit dan bawang ibunya, mengering dan rapuh setelah bertahun-tahun, bungkus daun pisang yang sudah cokelat seperti tembakau tua. "Ini dari ibuku," katanya. "Hari aku berangkat, dia menyelipkan ini dan bilang, pulang dalam keadaan apa pun, asal pulang. Aku dulu menertawakannya. Sekarang ini benda paling berharga yang kupunya. Karena selama aku menyimpannya, aku ingat ada tempat yang menungguku. Kalian semua punya tempat seperti itu. Jangan pernah lupa di mana letaknya."
Lalu foto kecil yang sudah usang, seorang wanita dan gadis kecil yang tersenyum. "Ini istri dan putri Kopral Jaya. Dia menitipkannya padaku sebelum Bukit 88, supaya ada yang ingat mereka kalau dia tak kembali. Dia kembali. Tapi aku tetap menyimpannya. Karena ada satu hal yang dia ajarkan padaku, dan aku mau kalian mengingatnya malam ini, di atas segalanya."
Ia menatap mereka satu per satu, wajah-wajah muda dalam cahaya redup, dan suaranya menjadi pelan tapi setiap kata terdengar jelas.
"Selama kau ingat namanya," kata Bara, "dia belum benar-benar mati. Itu yang dia bilang waktu Reno gugur. Reno yang membaca puisi supaya ingat dunia pernah punya keindahan. Dan Pak Darmo, yang tangannya tak pernah gemetar, yang mati supaya gudang amunisi musuh meledak dan ratusan dari kita hidup. Dan Tio. Tio yang menutup granat dengan tubuhnya supaya aku bisa duduk di sini malam ini bicara pada kalian." Suaranya retak, dan ia membiarkannya. "Mereka semua mati. Tapi mereka tidak hilang. Mereka ada di setiap napas yang masih kalian ambil. Mereka membeli napas itu."
Hening menggantung di parit, hanya dipotong gemuruh jauh yang terus mendekat.
"Besok fajar mereka datang," lanjut Bara. "Aku tak akan berbohong pada kalian. Sebagian dari kita tak akan melihat matahari benar-benar terbit. Itu kebenarannya, dan kalian pantas mendengar kebenaran dari orang yang menyuruh kalian maju." Ia menelan ludah. "Tapi dengar aku. Aku tak menyuruh kalian maju demi bendera. Bukan demi jenderal yang tidur di kasur empuk malam ini. Aku menyuruh kalian maju demi orang di sebelah kalian. Demi tempat yang menunggu kalian pulang. Demi desa-desa di selatan yang akan dilewati musuh kalau kita gagal. Itu saja. Tidak lebih. Tapi itu cukup. Itu satu-satunya alasan yang masuk akal di tempat yang tak masuk akal ini."
Ia melihat Wira mengangguk pelan, rahangnya keras. Melihat Galih menggenggam senapannya lebih erat. Melihat ketakutan di wajah yang termuda, dan ia tak mencoba menghapusnya, karena ia tahu sekarang apa arti ketakutan itu.
"Kalian takut," katanya, lebih lembut. "Bagus. Berarti kalian masih manusia. Selama kalian takut, kalian masih punya hati. Yang harus kalian lakukan cuma satu: melangkah maju walau takut. Itu namanya berani. Bukan tidak takut. Tetap melangkah. Dan kalian tidak sendirian. Aku di sebelah kalian. Kita semua bersaudara di sini."
Kata-kata itu bukan miliknya. Mereka milik Jaya, yang mengucapkannya pada Bara di malam sebelum Bukit 88. Dan sebelum itu, mungkin milik orang lain lagi, prajurit tak bernama di perang yang lebih tua, diturunkan dari satu tangan ke tangan lain di tempat-tempat tergelap. Estafet kelembutan yang menolak putus.
Mereka duduk bersama sampai larut, berbagi sebatang rokok yang dihisap bergiliran, memanaskan bubur encer di kaleng bekas dan, untuk satu malam terakhir, menyebutnya soto istana. Komandan, si kucing tua, berkeliling dari pangkuan ke pangkuan, dan setiap tangan yang mengusapnya melakukannya seolah menyentuh sesuatu yang suci. Tawa muncul sesekali, kecil dan rapuh, tapi nyata.
Lalu, jauh sebelum mereka siap, langit di timur mulai memucat. Kelabu pertama merayap ke ufuk. Dan dari seberang lembah, gemuruh itu, yang telah mendekat sepanjang malam, akhirnya berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang dimulai dengan satu dentuman tunggal, dalam dan menggetarkan, jauh di garis musuh.
Bara berdiri, dan menatap fajar yang merekah, dan tahu malam terpanjang telah berakhir, dan yang terpanjang dari segalanya baru akan dimulai.