Tiga hari yang mereka beli ternyata bukan hadiah, melainkan tenggang waktu yang dihabiskan musuh untuk mengubah amarah menjadi besi.
Kabar mengalir masuk dalam serpihan, dibawa kurir yang kelelahan dan pengintai yang pucat. Jembatan yang roboh memang memutus aliran utama, memaksa musuh memutar lewat hulu, persis seperti yang diharapkan. Tapi alih-alih melemahkan tekad mereka, kehilangan itu mengeraskannya. Mereka mengosongkan setiap depot, menyeret setiap meriam, mengumpulkan setiap orang yang masih bisa memanggul senapan, dan mengarahkan semuanya pada satu titik: Lembah Kalimas. Bila garis ini jebol, jalan ke selatan terbuka, ke kota-kota, ke desa-desa, ke Sumberarum yang jauh. Dan mereka tahu pula bahwa setelah memutar tiga hari, mereka tak mampu mengulanginya. Ini akan menjadi dorongan pamungkas. Semua atau tidak sama sekali, untuk kedua belah pihak.
Bara merasakannya bahkan sebelum laporan mengonfirmasinya. Ia merasakannya dalam keheningan yang aneh di seberang lembah, jenis keheningan yang ia kenali, keheningan napas yang ditahan sebelum lompatan. Burung-burung pergi. Bahkan lalat tampak lebih sedikit. Tanah sendiri seakan menunggu. Ia telah belajar membaca tanda-tanda ini selama hampir satu setengah tahun di front, sebuah pengetahuan yang ia tak pernah inginkan, bahasa kematian yang kini ia fasih melebihi bahasa apa pun yang diajarkan di sekolah desanya dulu. Angin membawa bau yang berbeda, bau logam dan minyak dan kuda yang berkeringat, bau persiapan dalam skala yang belum pernah ia hirup.
Mereka menggunakan setiap jam yang tersisa. Bara, yang kini dipercayai semua orang dengan cara yang dulu hanya Jaya dipercayai, bergerak di sepanjang garis tanpa henti. Ia mengawasi prajurit menggali parit lebih dalam, menumpuk karung pasir, menanam pancang dan kawat di lereng yang akan didaki musuh. Ia memeriksa amunisi yang menipis dan membaginya dengan adil sampai ke butir terakhir. Ia memastikan setiap orang tahu jalur mundur bila lini pertama jebol, karena ia telah belajar dari mundur yang terorganisir bahwa mengetahui ke mana harus lari adalah perbedaan antara kekalahan dan pembantaian.
Surya bekerja di sisinya, dan keduanya kini bergerak seperti dua tangan dari satu tubuh, perwira muda yang telah kehilangan keangkuhannya dan prajurit yang telah menemukan suaranya. Mereka jarang berdebat lagi. Mereka tak punya waktu, dan mereka tak punya alasan; perang telah mengasah mereka menjadi pasangan yang saling melengkapi.
Mayor Hardi datang dari belakang sekali, mengendarai kuda, memeriksa pertahanan dengan tatapan yang sulit dibaca. Ia memuji jembatan yang roboh. Ia bicara tentang "garis yang harus dipegang apa pun ongkosnya." Tapi Bara melihat sesuatu di balik kata-kata sang mayor yang membuatnya waspada, sebuah keringat tipis di pelipis, mata yang sedikit terlalu sering melirik ke jalan belakang yang menuju keselamatan. Ambisi, Bara pernah berpikir, adalah yang menggerakkan lelaki itu. Kini ia mulai menduga bahwa di balik ambisi itu bersembunyi sesuatu yang lebih tua dan lebih manusiawi: ketakutan. Tapi itu pun, ia simpan untuk nanti.
Di malam kedua, ia mendapati Jaya sendirian di tepi parit, menatap lembah yang gelap, tongkatnya menancap di lumpur di sampingnya.
"Mereka akan datang saat fajar," kata Jaya tanpa menoleh. Bukan pertanyaan.
"Selalu fajar," jawab Bara, dan duduk di sampingnya, dua orang yang telah berbagi terlalu banyak fajar berdarah.
Jaya diam lama. Kaki kanannya yang lumpuh terjulur kaku, dan Bara melihat betapa tua sang kopral sekarang, betapa luka Bukit 88 telah merampas sesuatu yang tak bisa dikembalikan. Tapi matanya masih sama. Mata yang sudah terlalu sering melihat hal yang tak ingin dilihat, dan tetap memilih untuk terus melihat.
"Aku tak bisa berlari lagi, Nak," kata Jaya akhirnya, pelan. "Kau tahu itu. Kalau lini ini jebol, aku bukan orang yang bisa mundur dengan kalian."
"Lini ini tak akan jebol." Bara mengucapkannya dengan keyakinan yang ia paksa, karena prajurit-prajuritnya perlu mendengar keyakinan itu dari mulutnya, dan kadang sebuah kebohongan yang diucapkan cukup keras bisa menjadi tiang yang menahan orang tetap berdiri.
"Mungkin tidak." Jaya menoleh, dan tersenyum, senyum lelah yang Bara kenal dari malam sebelum Bukit 88, senyum yang membuat dadanya dingin. "Tapi kalau jebol, kau jangan menungguku. Kau dengar? Kau bawa mereka pulang. Itu satu-satunya perintah yang masih kupunya untukmu."
"Berhenti bicara begitu," kata Bara, lebih tajam dari yang ia maksud. "Kau selalu bicara begitu sebelum sesuatu yang buruk. Kita akan pulang sama-sama. Semuanya."
Jaya tertawa pelan, tanpa suara, dan menepuk lutut Bara dengan tangan yang masih kuat. "Kau dulu juga bilang begitu padaku. Di malam sebelum bukit." Ia menatap kejauhan lagi. "Aku tak menyesali apa pun, Bara. Aku kehilangan banyak. Reno, Darmo, Tio. Istriku. Putriku. Tapi aku menemukanmu, dan aku melihatmu tumbuh dari anak yang menangis di dasar parit menjadi orang yang dipercayai seluruh batalion. Itu cukup. Itu lebih dari cukup untuk seorang lelaki sepertiku."
Bara tak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat, dan ia menatap lembah gelap yang akan menjadi medan pembantaian saat matahari naik, dan ia menggenggam, di sakunya, bungkus kunyit ibunya dan foto keluarga Jaya yang sudah usang.
Di kejauhan, sangat samar, ia mulai mendengarnya. Bukan tembakan. Belum. Hanya sebuah suara yang lebih buruk: derap ribuan kaki dan roda, denting logam, gemuruh dalam yang naik dari bumi seperti badai yang masih jauh tapi pasti datang. Hitungan mundur, yang telah berdetak sejak jembatan itu runtuh, kini mendekati nol.
Bara berdiri. Ada banyak yang harus dilakukan sebelum fajar. Dan ada, ia tahu, kata-kata yang harus ia ucapkan pada anak-anak buahnya malam ini, kata-kata yang dulu Jaya ucapkan padanya, sebelum langit pecah.