Dunia terbelah menjadi cahaya dan suara.
Bara pernah melihat gudang gula meledak, fajar palsu yang mengangkat tubuhnya dari tanah. Tapi ini lebih dekat, lebih besar, dan untuk sesaat ia mengira ia ikut hancur bersamanya. Gelombang panas menampar wajahnya, melemparnya mundur ke balik gundukan, dan langit di atas lembah itu menyala jingga lalu putih, seolah matahari yang salah telah lahir di tengah malam. Tiang-tiang jembatan terangkat, patah, dan seluruh bentangan kayu itu melengkung ke tengah seperti tulang punggung yang patah, lalu runtuh ke dalam sungai dengan raungan yang ia rasakan di gigi-giginya.
Pecahan kayu sebesar lengan beterbangan. Air menyembur tinggi, lalu jatuh kembali sebagai hujan. Penjaga-penjaga yang tadi berlari ke tiang lenyap dalam kobaran, dan Bara tak mengizinkan dirinya memikirkan mereka sebagai apa pun selain bayangan, karena memikirkannya sebagai manusia, dengan ibu dan adik dan keluhan tentang kaki yang lelah, akan menghancurkannya di tempat ia berdiri. Nanti. Ia akan menanggungnya nanti, bila ia hidup.
Telinganya berdenging, dunia teredam dan jauh, seolah ia mendengar segalanya dari dasar sumur. Asap menggumpal turun ke permukaan sungai, pekat dan berbau belerang dan kayu terbakar, dan di tengahnya pecahan-pecahan jembatan yang membara melayang turun seperti kunang-kunang besar yang sakit. Tanah di bawah punggung Bara masih bergetar dari sisa ledakan. Ia memaksa dirinya bangkit, lututnya lemas, dan mencari.
"Galih!" Suaranya sendiri terdengar seperti dari bawah air. "GALIH!"
Hilir. Galih menuju hilir. Bara berlari menyusuri tepi sungai, tersandung dalam gelap yang kini diterangi reruntuhan jembatan yang terbakar, matanya menyapu permukaan air yang kacau oleh puing dan riak. Tembakan masih terdengar di belakang, tapi kacau sekarang, tanpa arah, penjaga yang selamat menembak ke kegelapan dengan panik. Wira dan Karto muncul dari hulu, berlari menyusul, wajah mereka liar oleh ledakan.
"Bang Bara!" Wira mencengkeram lengannya. "Kita harus lari! Mereka akan kirim semua orang!"
"Galih masih di air!"
Mereka mencarinya bersama, menyusuri tepi, dan untuk satu menit yang terasa seabad Bara mengira ia telah kehilangan satu lagi, satu nama lagi untuk daftar yang ia bawa di dada, dan satu lagi yang ia pilih sendiri untuk dibawa ke kematian. Beban itu mulai menutupinya seperti air rawa, dingin dan menenggelamkan.
Bara merasakan air dingin merendam sepatu butnya saat ia berlari, dan setiap detik tanpa Galih terasa seperti tangan yang mengencang di lehernya. Ia teringat Reno, terlentang di tanah tak bertuan dengan buku puisi beberapa jengkal dari tangannya yang tak lagi bergerak. Ia teringat tubuh Tio yang melemas di pangkuannya. Tidak lagi, ia berkata pada dirinya sendiri, marah dan memohon sekaligus. Tidak Galih. Tidak malam ini. Tidak setelah anak itu menarik kabel terakhir agar mereka semua bisa pulang.
Lalu Karto berseru, setengah berbisik, dan menunjuk. Di antara akar pohon yang menjorok ke sungai, terjepit dan setengah tenggelam, ada sosok yang bergerak lemah. Galih. Mereka menariknya keluar, dan anak itu terbatuk-batuk memuntahkan air sungai, gemetar hebat, kulitnya sedingin batu, tapi hidup. Sebuah luka panjang menganga di lengannya, entah dari pecahan kayu atau peluru, dan ia tak bisa berdiri tanpa dipapah. Tapi ia hidup.
"Aku sampai," bisik Galih di antara batuk, dan ada sesuatu seperti tawa yang patah di suaranya. "Aku berarti. Sekali saja, aku berarti."
Bara mencengkeram tengkuknya, menempelkan dahi ke dahi anak itu sejenak, terlalu penuh untuk bicara. Lalu ia menarik diri, karena penuh adalah kemewahan yang tak bisa mereka beli sekarang.
"Naik. Kita pulang."
Mereka mengangkat Naba yang menunggu di pos mundur dengan kakinya yang terluka, memapah Galih di antara mereka, dan berlari, atau yang menyerupai berlari, kembali ke dalam hutan, melawan arah datang mereka. Suara di belakang mulai terorganisir; terompet, teriakan, derap kuda. Musuh tahu sekarang, dan mereka marah. Bara mendorong kelompoknya melintasi rawa, melintasi titik buta, sementara di belakang langit masih menyala oleh jembatan yang membara, sebuah suar yang menandai apa yang telah mereka lakukan.
Mereka kehilangan jejak waktu dalam pelarian itu. Hanya ada langkah berikutnya, dan napas berikutnya, dan tangan yang menahan Galih agar tak jatuh. Naba pingsan dua kali dari kehilangan darah dan mereka menyeretnya. Wira tak pernah melepaskan beban di punggungnya. Karto menemukan jalan tempat tak ada jalan. Dan Bara, di depan, hanya terus melangkah, karena berhenti berarti merasakan, dan merasakan akan membuatnya runtuh.
Fajar mulai mengintip kelabu di balik bukit saat mereka akhirnya tersuruk melalui celah kawat terakhir, kembali ke garis Kalimas. Kaki Bara nyaris tak bisa lagi ia rasakan, dan beban peledak yang tersisa terasa seperti ia memanggul seluruh malam itu di punggungnya. Tangan-tangan kawan menarik mereka ke dalam parit. Letnan Surya ada di sana, dan Jaya, terpincang secepat tongkatnya membawanya. Bara jatuh berlutut di lumpur yang akrab, kelima napas masih bergerak, kelima jantung masih berdetak, dan untuk satu momen yang langka di tanah ini, ia telah menepati sumpah. Lima nama. Kelimanya kembali.
Tapi saat ia mengangkat wajah, ia melihat sesuatu di mata Jaya, dan di langit yang terbelah fajar di kejauhan, dan ia tahu, dengan kepastian dingin seorang yang telah terlalu lama berperang, bahwa kemenangan kecil ini hanyalah napas yang ditarik sebelum pukulan yang sesungguhnya. Mereka memutus suplai musuh. Mereka memenangkan tiga hari.
Tapi musuh yang terluka, ia tahu, adalah musuh yang paling berbahaya. Dan tiga hari, di tanah ini, bukanlah keselamatan. Itu hanya hitungan mundur.