Jembatan itu lebih kokoh dari yang ia bayangkan dari peta. Tiga tiang penyangga kayu sebesar batang kelapa menancap ke dasar sungai, diperkuat balok-balok melintang, dan di kedua ujungnya berdiri pos jaga dengan lentera dan, Bara menghitung dengan hati mencelos, setidaknya delapan orang. Lebih banyak yang mungkin tidur di tenda di balik gundukan. Aliran sungai di bawah jembatan dangkal tapi cukup deras untuk menutupi sebagian suara.
Bara membaringkan mereka di balik semak di tepi sungai dan berbisik rencananya, dipecah menjadi langkah-langkah kecil agar tak ada yang dilumpuhkan ketakutan oleh keseluruhannya. Naba, dengan kaki yang terluka, akan tinggal di tepi dengan senapan, menjaga jalur mundur, sebuah tugas yang membuat anak itu mengernyit tapi tak membantah karena ia tahu kakinya akan memperlambat semua orang. Karto dan Wira akan bergerak ke hulu untuk mengalihkan, melempar batu, menciptakan keributan kecil yang menarik dua-tiga penjaga menjauh. Bara dan Galih akan menyelinap di bawah jembatan, di antara tiang-tiang, untuk memasang muatan.
"Kenapa Galih?" bisik Wira, dan di balik pertanyaan itu ada kecemburuan seorang penjaga.
"Karena dia ringan dan kecil," kata Bara. "Dia bisa menyelinap di celah tiang yang aku tak bisa. Dan karena aku perlu seseorang yang tangannya tak akan menyenggol apa pun." Ia menatap Galih. "Bisa?"
Galih, yang wajahnya pucat seperti kapur di bawah arang, menelan ludah dan mengangguk. "Bisa, Bang."
Bara merasakan beratnya keputusan ini menekan dadanya saat ia membagi tugas. Galih di bawah jembatan, paling dekat dengan muatan, paling dekat dengan maut. Ia telah memilih anak itu karena alasan yang masuk akal, tubuh kecil dan tangan hati-hati, tapi alasan masuk akal tak pernah meringankan apa pun. Ia teringat Jaya yang menunjuk Pak Darmo ke pabrik gula karena hanya Darmo yang paham peledak, keahlian lebih penting dari sayang, dan Darmo tak pernah kembali. Bara menelan rasa itu. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, dan rasa bersalah adalah barang yang hanya bisa dibawa pulang, tak pernah ditinggal di medan.
Mereka bergerak saat keributan pertama pecah di hulu, suara batu menggelinding lalu cipratan, dan seperti yang diharapkan, dua penjaga mengangkat lentera dan berjalan ke arah suara, menggumam waspada. Bara dan Galih turun ke air. Dingin sungai itu mencengkeram betis mereka seperti tangan mayat. Mereka bergerak di bawah bayangan jembatan, di antara tiang-tiang, langkah demi langkah, sementara di atas mereka papan-papan berderit pelan ditimpa langkah penjaga yang tersisa.
Di sinilah, di kegelapan lembap di bawah jembatan, dengan suara air mengalir dan napasnya sendiri yang terlalu keras, Bara mengeluarkan muatan peledak dan mulai bekerja.
Tangannya gemetar.
Ia membenci itu. Bertahun-tahun ia telah belajar membuat tangannya diam, dan kini, di saat paling membutuhkannya, jari-jarinya bergetar seperti anak desa yang dulu tak bisa menggenggam senapan di pagi pertamanya. Ia menatap sumbu dan detonator dan tumpukan bahan peledak yang dibungkus rapat, dan untuk satu detik yang mengerikan ia tak ingat. Urutan kabel. Penempatan muatan. Cara Pak Darmo menyusunnya.
Lalu ia memejamkan mata, hanya sekejap, dan memanggil bayangan itu. Jari-jari berkumis tebal yang tenang. Suara yang berbisik di reruntuhan. Sebentar lagi. Bara membiarkan tangan Pak Darmo membimbing tangannya sendiri, seolah orang tua itu masih ada, berjongkok di sampingnya dalam gelap. Tempelkan muatan di titik di mana tiang bertemu balok melintang, di sana, di sambungan, karena di sanalah seluruh beban tertumpu. Kalau sambungan putus, sisanya runtuh sendiri. Tangan yang sibuk tidak gemetar.
Dan perlahan, tangannya berhenti gemetar.
Galih memegangi muatan sementara Bara mengikatnya, menyusun sumbu, menyambung kabel detonator dengan jari yang basah dan dingin. Setiap simpul terasa seperti satu jam. Di atas mereka, langkah penjaga lewat, papan berderit, debu jatuh ke wajah Bara. Ia menahan napas. Galih menahan napas. Air mengalir di sekitar betis mereka, dingin dan acuh.
Mereka memasang muatan kedua di tiang tengah, lalu yang ketiga, merangkak melawan arus, jemari kaku dan biru oleh dingin air. Galih bekerja di sampingnya tanpa satu keluhan, hanya napas pendek-pendek yang ia tahan di antara gigi, dan sekali, saat tangan anak itu menyenggol tangannya dalam gelap, Bara merasakan betapa kecil dan dingin jemari itu, jemari yang seharusnya memegang cangkul atau buku atau tangan seorang gadis di kampung halaman, bukan sumbu peledak di bawah jembatan musuh. Bara menggulur kabel detonator ke tepi, ke balik gundukan tanah tempat ia bisa berlindung saat meledakkannya. Hampir selesai. Hampir.
Lalu keberuntungan, yang telah membawa mereka begitu jauh, akhirnya habis.
Seorang penjaga di ujung jembatan menundukkan lenteranya, mungkin mendengar sesuatu, mungkin hanya ingin kencing ke sungai, dan cahaya itu menyapu ke bawah, ke air, ke tempat Galih masih berdiri di antara tiang dengan ujung kabel di tangannya. Untuk sepersekian detik, mata penjaga itu dan mata Galih bertemu.
Penjaga itu membuka mulut untuk berteriak.
Galih bergerak lebih cepat. Ia melempar dirinya ke tepi, menarik kabel terakhir agar tersambung, dan dalam gerakan yang sama berteriak pada Bara satu kata, "SEKARANG!" sebelum tembakan pertama memecah malam. Peluru memercik di air di sekitar Galih. Anak itu meringkuk di bawah lengkung jembatan, terjebak, sementara penjaga berhamburan dan lentera berayun liar.
Bara sudah di tepi, kabel detonator di tangannya, ujung-ujungnya siap disambung. Ia menatap Galih yang terjebak di bawah jembatan, terlalu jauh untuk dijangkau, terlalu dekat dengan muatan. Bila ia meledakkannya sekarang, jembatan runtuh, misi berhasil, dan Galih akan hancur bersamanya.
Waktu melambat, seperti dulu saat granat jatuh di antara dirinya dan Tio.
"GALIH, BERENANG! KE HILIR! SEKARANG!" jeritnya, suaranya pecah.
Galih menatapnya melintasi air dan api, dan dalam tatapan itu ada pengertian yang mengerikan. Ia tahu ia mungkin tak akan sampai cukup jauh. Tapi ia mengangguk, sekali, dan melemparkan dirinya ke arus, menyelam, menghilang di bawah permukaan gelap yang berkilau ditaburi percikan peluru.
Bara menghitung. Satu. Dua. Tiga detik, memberi Galih setiap pecahan waktu yang ia berani curi, sementara penjaga mulai berlari ke tiang, mungkin melihat muatan, mungkin akan melepasnya. Tak ada lagi waktu.
Ia menyambung kabel.