Mereka berangkat dua jam sebelum tengah malam, saat gempuran artileri musuh justru paling deras, karena Bara tahu satu hal yang ia pelajari dari malam pabrik gula: keributan adalah selimut terbaik. Telinga yang tuli oleh dentuman tak akan mendengar lima bayangan menyelinap melalui celah di kawat. Mata yang silau oleh kilatan ledakan tak akan melihat lumpur bergerak.
Wajah mereka dilumur arang, sama seperti dulu, sebuah ritual yang membuat dada Bara terasa berongga. Ia menyusun mereka dalam barisan tunggal: dirinya di depan, lalu Karto yang hafal medan, lalu Naba dan Galih yang membawa peledak terbungkus kain berlapis agar tak berdenting, dan Wira menutup di belakang dengan senapan siap. Mereka bergerak melalui titik buta yang sudah Bara petakan selama tiga malam, merangkak melewati tanah tak bertuan di antara dua kilatan, membeku setiap kali cahaya menyapu.
Hujan besi turun di atas mereka, bukan menimpa, tapi melewati, peluru-peluru artileri yang melengkung jauh di atas kepala menuju garis Kalimas di belakang. Setiap dentuman menggetarkan tanah di bawah perut Bara, dan ia memaksa dirinya tak memikirkan bahwa setiap peluru itu mungkin jatuh di parit tempat anak-anak buah lain berlindung. Fokus. Jangan lihat. Hanya jalan. Suara Jaya, di kepalanya, seperti selalu.
Hutan menelan mereka setelah hampir satu jam merangkak. Di bawah kanopi gelap, dentuman menjadi lebih jauh, lebih teredam, dan tiba-tiba suara napas mereka sendiri terdengar terlalu keras. Bau hutan malam menggantikan bau mesiu, lembap dan hijau, tanah humus dan daun busuk dan sesuatu yang manis dari bunga yang mekar entah di mana, sebuah keganjilan yang membuat dada Bara terasa aneh, bahwa keindahan masih sempat tumbuh sejauh ini di belakang garis pembunuhan. Reno akan menyukainya, pikirnya, dan menampar pikiran itu pergi karena tak ada ruang untuk hantu sekarang.
Karto memimpin sekarang, kakinya menemukan jalan setapak yang tak terlihat mata biasa, mengelilingi ranting kering yang akan berderak, membaca medan dengan naluri kurir yang sudah bertahun melintasi negeri yang tak ingin dilintasi. Mereka bergerak seperti air, lambat dan diam, dan Bara menghitung langkah dalam hati untuk menjaga napasnya tetap, satu cara lama yang ia pelajari dari Pak Darmo untuk menahan agar tangan dan pikiran tak berkhianat.
Di tepi rawa, mereka nyaris mati.
Patroli musuh muncul dari arah yang tak terduga, tiga orang dengan lentera berpenutup, langkah mereka berdecap di lumpur. Bara mengangkat tangan terkepal, dan kelima tubuh membeku, tenggelam perlahan ke dalam air rawa yang dingin sampai hanya hidung dan mata yang muncul. Air itu berbau busuk dan dingin menusuk sampai ke tulang, persis seperti parit Sektor Tujuh di hari-hari hujan. Bara menahan napas dan menatap melalui alang-alang saat sepatu but musuh lewat sejengkal dari kepalanya.
Salah satu dari mereka berhenti. Tepat di sana. Bara bisa mendengarnya bernapas, mencium bau tembakau yang menempel di seragamnya. Lentera berpenutup itu bergoyang, lingkaran cahaya redupnya menyapu permukaan rawa. Bara menutup matanya, sebagian wajahnya di bawah air, dan dalam kegelapan itu ia tak melihat musuh. Ia mendengar seorang lelaki lelah mengeluh pelan tentang kakinya, dalam bahasa yang tak ia mengerti tapi dengan nada yang ia kenali sepenuhnya. Nada manusia yang ingin pulang dan tidur. Bara menahan jarinya jauh dari pelatuk. Bila ia menembak sekarang, semua selesai, untuk mereka berlima dan untuk Kalimas.
Lalu lelaki itu meludah, menggumam, dan berjalan pergi. Cahaya menjauh. Bara menunggu sampai gemerisik langkah itu benar-benar hilang, lalu menunggu lebih lama lagi, sampai paru-parunya membakar. Baru kemudian ia mengangkat wajah dari air, perlahan, dan keempat kepala lain muncul di sekitarnya seperti bunga teratai gelap, menghirup napas tanpa suara.
Mereka merangkak keluar dari rawa, basah kuyup dan menggigil, dan terus bergerak. Dingin sekarang menjadi musuh kedua, merayap masuk lewat seragam basah, membuat gigi Galih bergemeletuk sampai Bara harus menekan bahunya dan berbisik agar bernapas lewat hidung, pelan, agar suaranya tak mengkhianati mereka.
Mereka hampir mencapai lembah jembatan saat bencana datang.
Naba, yang membawa setengah muatan peledak, menginjak akar yang tersembunyi dan jatuh, dan saat ia jatuh, sesuatu yang tajam, entah kawat atau ranting patah, menusuk dalam ke betisnya. Anak itu menahan jeritannya, menggigit lengannya sendiri sampai darah, tapi Bara melihat wajahnya memucat dan kain di kakinya menggelap dengan cepat. Mereka tak bisa berhenti di sini, di tempat terbuka, dengan patroli yang baru saja lewat.
Bara berlutut di sampingnya. "Bisa jalan?"
Naba mengangguk, lalu menggeleng, lalu mengangguk lagi dengan rahang terkatup. "Bisa. Aku bisa." Suaranya gemetar tapi keras kepala.
Bara mengikat luka itu cepat dengan kain dari lengan bajunya sendiri, mengencangkannya sampai Naba meringis. Lalu ia mengambil setengah muatan peledak dari punggung Naba dan memindahkannya ke punggungnya sendiri, menambah beban yang sudah membungkukkannya. Wira diam-diam mengulurkan tangan dan mengambil sebagian, membagi beban tanpa diminta, persis seperti yang Bara akan lakukan.
"Sedikit lagi," bisik Bara, lebih kepada dirinya sendiri daripada yang lain. "Sedikit lagi."
Kata-kata Pak Darmo, di malam pabrik gula. Sebentar lagi. Sebentar lagi. Bara merasakan dingin di tulangnya yang bukan hanya dari rawa. Ia memandang Naba yang terpincang di sampingnya, wajah anak itu kaku menahan sakit di setiap langkah, dan ia teringat betapa mudahnya satu kecelakaan kecil, satu akar tersembunyi, mengubah seluruh hitungan. Di tanah ini tak ada yang berjalan sesuai rencana. Yang ada hanya rencana yang bertahan cukup lama untuk diganti rencana berikutnya. Itu pun pelajaran Jaya. Bara menggenggamnya erat malam ini, karena ia tahu malam akan menuntut lebih banyak lagi sebelum berakhir.
Di kejauhan, melalui celah pepohonan, ia akhirnya melihatnya: garis gelap jembatan kayu yang membentang di atas anak sungai yang berkilau pucat, dan di sekitarnya, titik-titik cahaya kecil. Penjaga. Lebih banyak dari yang ia harapkan. Bara berhenti, memberi isyarat agar yang lain merapat ke tanah, dan menatap sasaran yang telah membawa mereka melintasi neraka basah ini.
Bagian tersulit, ia tahu, belum dimulai.