Pagi datang kelabu dan basah, kabut menggantung rendah di atas Lembah Kalimas seperti selimut yang enggan diangkat. Bara duduk di tepi parit dangkal dengan secarik kertas dan pensil tumpul yang ia pinjam dari Sersan Tarno. Ia menatap kertas kosong itu lama sekali. Lebih lama daripada yang ia habiskan untuk membaca peta jembatan.
Lima nama. Itu jumlah yang ia putuskan. Lebih dari itu, mereka terlalu mudah ketahuan di hutan dan rawa. Kurang dari itu, mereka tak akan bisa membawa peledak sekaligus melindungi diri. Lima, termasuk dirinya. Berarti empat nama lagi.
Ia mengerti sekarang, dengan kejernihan yang menyakitkan, apa yang dirasakan Kopral Jaya dulu saat memilih siapa yang ikut ke pabrik gula. Saat itu Bara hanya seorang yang dipilih, anak muda yang ditahan dengan tatapan dan diberi tahu, "Belum waktumu." Kini ia di sisi lain meja itu. Kini ia yang harus menunjuk siapa yang dibawa ke bahaya dan siapa yang ditinggalkan, dan tahu bahwa keduanya bisa sama-sama berakhir di tanah.
Ia memilih dengan kepala, bukan hati, karena hati akan menipunya. Pertama: seorang prajurit bernama Karto, kurir penghubung yang hafal medan belakang lebih baik dari siapa pun, kakinya cepat dan mulutnya tertutup. Kedua: Naba, sebaya Wira, tenang dan bertangan mantap, yang pernah merangkak tiga ratus meter membawa air tanpa menumpahkan setetes pun. Mereka berdua diperlukan karena keahlian, bukan karena Bara menyayangi atau tidak menyayangi mereka.
Lalu pensilnya berhenti.
Dua nama tersisa, dan inilah yang membuat tangannya gemetar untuk pertama kali sejak lama.
Wira menemukannya sebelum ia memutuskan. Anak itu, yang kini bukan anak-anak lagi, berjongkok di hadapannya dengan wajah keras yang baru.
"Aku ikut," kata Wira. Bukan pertanyaan.
"Aku belum menulis namamu."
"Tulis." Wira menatapnya lurus. "Bang Bara mengajariku tetap rendah. Bang Bara menarikku dari granat di puncak Bukit 88. Aku ada karena Bang Bara. Sekarang giliranku menjaga di sebelahmu. Itu yang kau ajarkan, kan? Jaga orang di sebelahmu."
Bara membuka mulut untuk menolak, dan kata-katanya sendiri kembali menamparnya. Ia tak punya jawaban. Kalimat itu adalah miliknya, diwariskan dari Jaya, dan kini dilemparkan kembali padanya seperti pisau yang ia asah sendiri.
"Kau baru pulih," kata Bara lemah.
"Aku sudah pulih." Wira menyentuh bekas luka di pelipisnya. "Dan aku tak mau duduk di belakang sambil mendengar kabar siapa yang tak kembali. Aku sudah cukup lama duduk di belakang."
Sebelum Bara sempat menjawab, Galih datang. Anak itu yang dulu membeku dalam baku tembak pertamanya seperti Bara dulu, yang ia tuntun melewati tembakan tanpa mempermalukannya. Sekarang Galih tegak, walau matanya masih menyimpan ketakutan yang jujur, jenis ketakutan yang Bara lebih percayai daripada keberanian palsu.
"Aku dengar," kata Galih, suaranya pecah sedikit di tengah. "Aku ikut juga."
"Galih—"
"Aku tahu aku bukan yang terbaik. Tapi aku ringan, aku bisa menyelinap di celah sempit, dan aku..." Ia menelan ludah. "Aku tak mau jadi orang yang selalu dijaga. Aku mau menjaga juga. Sekali saja. Biar aku berarti."
Bara menatap keduanya. Wira dengan keras kepalanya yang baru, Galih dengan keberanian rapuhnya yang tulus. Setiap naluri di tubuhnya berteriak untuk menulis dua nama lain, prajurit asing yang kehilangannya akan kurang merobek dadanya. Itulah yang akan dilakukan orang yang melindungi dirinya sendiri.
Tapi ia teringat malam di parit Sektor Tujuh, saat ia memohon ikut ke kawah pengintaian dan Jaya menahannya. Belum waktumu. Saat itu Jaya menyelamatkannya. Tapi Jaya juga, Bara kini paham, telah merampas sesuatu dari Reno dan Tio dengan membiarkan mereka pergi alih-alih dirinya. Tak ada pilihan yang bersih. Tak pernah ada. Menahan mereka bukan kebaikan; itu hanya memindahkan beban ke pundak orang lain yang juga punya ibu menunggu.
"Kalian sadar apa yang kalian minta," kata Bara akhirnya, suaranya rendah. "Empat kilometer di belakang garis mereka. Kalau ketahuan, tak ada yang menjemput. Tak ada artileri yang menutupi. Hanya kita."
"Kami sadar," kata Wira.
Galih hanya mengangguk, rahangnya gemetar tapi matanya tetap.
Bara menulis kedua nama itu. Tangannya tak lagi gemetar saat menuliskannya, dan ia membenci dirinya sendiri karena itu, karena tangan yang mantap berarti ia telah belajar memanggul beban semacam ini tanpa hancur. Tangan yang sibuk tidak gemetar, kata Pak Darmo. Tapi kadang itu bukan karena keberanian. Kadang itu hanya karena hati telah belajar diam.
Malam itu Jaya mendatanginya, terpincang dengan tongkat kayu yang ia ukir sendiri. Ia menatap kertas berisi lima nama itu lama.
"Dua yang kau sayangi," kata sang kopral pelan. "Wira dan Galih."
"Aku tak punya pilihan. Mereka menolak tinggal."
Jaya mengangguk, matanya jauh. "Aku dulu juga begitu. Memilih dengan kepala dan menangis dengan hati. Kau tahu rahasianya?" Ia menatap Bara. "Tak ada rahasia. Kau hanya menanggungnya. Itu sebabnya aku tak pernah ingin kau jadi pemimpin, Nak. Karena aku tahu beban ini, dan aku tak ingin kau memikulnya." Ia menepuk bahu Bara dengan tangan yang masih kuat walau tubuhnya tak lagi. "Tapi kau memikulnya lebih baik dari aku. Bawa mereka pulang. Kelimanya."
Bara melipat kertas itu dan menyimpannya di saku, di samping bungkus kunyit ibunya yang sudah mengering bertahun, dan foto seorang wanita serta gadis kecil yang Jaya titipkan padanya seumur hidup yang lalu.
Lima nama. Ia bersumpah pada dirinya sendiri, dalam keheningan yang dipotong gemuruh jauh, bahwa kelimanya akan ia tulis ulang di daftar yang hidup, bukan di daftar yang ia hafal untuk diingat. Tapi sumpah, ia tahu terlalu baik, adalah hal yang paling mudah dibuat dan paling mahal ditepati di tanah ini.