Wira sudah berbaur kembali di antara mereka seolah ia tak pernah pergi, walau Bara tahu betul ia berbeda sekarang. Anak itu menembak tanpa ragu, mengganti magasin dengan tangan yang tak gemetar, dan tidur sebentar-sebentar dengan satu mata seperti veteran. Bekas luka di pelipisnya menarik kulit menjadi garis pucat setiap kali ia mengernyit. Bara mengawasinya dari ujung lubang perlindungan di Lembah Kalimas, dan merasakan campuran bangga dan pedih yang sudah lama ia kenal. Inilah harga yang dibayar untuk bertahan hidup: kau berubah menjadi sesuatu yang lebih keras, dan sebagian dirimu yang lama dikubur tanpa upacara.
Gempuran artileri musuh sudah berjalan tiga hari. Tak terus-menerus, tapi cukup untuk membuat tidur mustahil dan saraf compang-camping. Garis pertahanan Kalimas menahan, tapi semua orang merasakannya: tekanan itu menumpuk seperti air di balik bendungan yang retak. Suplai musuh mengalir tanpa henti dari belakang, peti demi peti peluru dan mortir, dan selama aliran itu tak putus, mereka tak akan pernah kehabisan tenaga untuk mendorong.
Letnan Surya memanggilnya ke pos komando lapangan yang tak lebih dari sebuah lubang beratap seng dan tanah. Mayor Hardi ada di sana, membungkuk di atas peta yang sudah lusuh, jarinya menelusuri garis-garis biru yang melengkung di belakang posisi musuh. Di sudut, duduk di peti amunisi dengan kaki kanan terjulur kaku, ada Kopral Jaya. Sang kopral tak lagi memimpin regu sejak luka di Bukit 88; ia kini penasihat, mata tua yang dipinjamkan komando untuk membaca medan. Tapi kehadirannya saja masih membuat dada Bara sedikit lebih tenang.
"Lihat ini," kata Surya, dan suaranya tak lagi membawa keangkuhan akademi yang dulu. Berbulan-bulan lumpur telah mengikis itu. "Semua suplai mereka melewati satu titik. Jembatan kayu di atas anak Sungai Brangas, di Lembah sempit di belakang garis mereka. Mereka tergantung padanya. Kalau jembatan itu hilang, mereka harus memutar tiga hari ke hulu."
"Tiga hari," ulang Hardi pelan. "Tiga hari yang bisa menyelamatkan Kalimas, atau setidaknya memberi kita napas untuk mengatur ulang."
Bara menatap peta itu lama. Ia tahu apa yang akan diminta sebelum ada yang mengucapkannya. Ia merasakannya naik di tenggorokan seperti rasa logam.
"Berapa jauh di belakang garis mereka?" tanyanya.
"Empat kilometer. Mungkin lima." Surya tak menghindari matanya. "Lewat hutan, lalu rawa, lalu lembah terbuka. Penjagaan padat. Tak ada jalan masuk yang aman."
Jaya bersuara dari sudut, serak seperti tanah kering. "Gudang gula." Hanya dua kata, tapi cukup. Bara menoleh padanya, dan untuk sesaat keduanya kembali ke malam itu, ke arang yang dilumur di wajah, ke jari-jari Pak Darmo yang tenang menyusun sumbu, ke bola api yang mengangkat mereka dari tanah dan merenggut satu di antara mereka selamanya.
"Bukan gudang gula," kata Bara. "Itu tiga kilometer. Ini lebih jauh, lebih dijaga, dan kita tak punya Pak Darmo." Suaranya datar, tapi nama itu menggores sesuatu di udara. "Dia satu-satunya yang paham peledak. Tanpa dia, gudang itu tak akan pernah meledak."
"Aku tahu," kata Surya. "Karena itu aku tak akan memerintahkanmu. Bukan ini. Tidak setelah semua yang kupelajari." Ia menelan ludah, dan Bara melihat anak muda yang dulu mengirim orang mati demi teori, kini menolak melakukannya lagi. "Aku menanyakanmu. Bisa atau tidak. Dan kalau kau bilang tidak, aku akan menulis bahwa tak ada cara, dan kita bertahan di Kalimas sampai tanah ini habis darahnya."
Hening menggantung di lubang itu, dipotong dentuman jauh yang menggetarkan debu dari langit-langit seng. Bara memikirkan Wira yang menembak tanpa ragu. Memikirkan Galih yang masih terlalu muda. Memikirkan desa-desa di selatan, yang menurut kabar terakhir kini terancam bila garis ini jebol, desa-desa seperti Sumberarum, seperti rumahnya, seperti ibunya yang masih menunggu di stasiun yang dijanjikan.
"Peledaknya," kata Bara akhirnya. "Apa kita punya yang cukup untuk merobohkan jembatan?"
"Sersan Tarno mengumpulkannya dari sisa logistik," jawab Surya. "Cukup. Kalau dipasang di tempat yang benar."
"Dan siapa yang tahu tempat yang benar?"
Surya tak menjawab. Tak ada yang menjawab. Karena jawabannya berdiri di lubang itu, dengan tangan yang pernah menggali kubur Tio sampai berdarah dan mata yang pernah menatap Pak Darmo menyalakan sumbu terakhirnya.
Jaya akhirnya berkata, pelan, hanya untuk Bara, "Darmo mengajarimu lebih dari yang kau kira, Nak. Aku melihatnya. Cara dia memasang muatan, kau mencatatnya tanpa sadar. Tangan yang sibuk tidak gemetar. Ingat itu."
Bara menutup matanya sejenak. Di balik kelopaknya ia melihat reruntuhan pabrik gula, ayunan kayu yang masih bergoyang di rumah kosong, boneka kain di lantai berdebu. Ia membuka mata.
"Aku perlu tiga malam untuk memetakan jalur," katanya. "Dan aku perlu memilih sendiri siapa yang ikut. Tak boleh ada yang dipaksa. Ini bukan perintah komando. Ini permintaan."
"Disetujui," kata Hardi cepat, terlalu cepat, dan untuk sesaat Bara melihat sesuatu di mata sang mayor yang tak ia sukai: bukan kepedulian, tapi perhitungan. Sebuah jembatan yang roboh akan terlihat bagus di laporan. Tapi Bara menyimpan itu. Sekarang bukan waktunya.
Malam itu ia berbaring menatap langit yang sesekali terbelah cahaya jingga dari mortir jauh. Komandan, si kucing yang kini tua dan kurus dengan satu telinga robek, meringkuk di lekuk lengannya, mendengkur seolah dunia tak sedang runtuh. Bara mengusap kepalanya, dan memikirkan jembatan empat kilometer di seberang garis, dan memikirkan berapa banyak nama yang mungkin harus ia tambahkan ke daftar yang sudah ia bawa di dadanya.
Ia tahu rencana ini nekat. Ia tahu peluangnya tipis seperti kabut pagi. Tapi ia juga tahu, seperti Jaya pernah tahu, bahwa kadang satu nyawa yang nekat dipertaruhkan bisa membeli pulang sepuluh nyawa lain. Itu satu-satunya aritmetika yang masih masuk akal di tempat yang tak masuk akal ini.
Esok ia harus memilih. Dan memilih, ia sudah belajar, adalah beban yang lebih berat daripada peluru mana pun.