Jeda di Kalimas berlangsung lima hari, lima hari yang Bara gunakan untuk membangun kembali pertahanan, membagi amunisi yang menipis, dan menambal semangat anak buahnya yang compang-camping. Bala bantuan kecil tiba dari belakang, beberapa lusin prajurit, sebagian terlalu muda, sebagian veteran yang dipindahkan dari sektor yang sudah jatuh. Bara menerima mereka, menyebut nama mereka, dan mulai menjahit mereka menjadi sesuatu yang menyerupai pasukan.
Pada hari kelima, sebuah pedati logistik datang berderak dari arah selatan, membawa perban dan peluru dan sedikit makanan. Dan turun dari pedati itu, di antara peti-peti, dengan langkah yang masih sedikit kaku, seorang prajurit muda yang membuat napas Bara tertahan di tenggorokan.
Wira.
Lebih kurus dari yang Bara ingat, dengan bekas luka baru yang merah di pelipisnya dan sesuatu di matanya yang dulu tak ada. Anak yang dulu gemetar di malam Bukit 88, yang dulu berbisik "Bang Bara, saya takut," kini berdiri di tanah Kalimas dengan punggung tegak dan rahang yang keras. Perang telah mengambil sesuatu darinya dan menggantinya dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih dingin dan lebih tajam.
"Wira," kata Bara, dan untuk sesaat segala beban komando jatuh dari pundaknya, digantikan oleh kelegaan yang murni, kelegaan seorang kakak yang menemukan adiknya hidup. Ia memeluk anak itu erat-erat. "Kamu seharusnya masih di rumah sakit. Lukamu—"
"Lukanya sudah cukup baik," potong Wira. Suaranya pun berbeda, lebih dalam, lebih mantap. "Mereka mau menahan saya lebih lama. Saya menolak. Saya dengar apa yang terjadi di sini, Bang. Saya dengar tentang Bidin." Sesuatu berkelebat di matanya, duka, lalu ditelan kembali. "Saya tidak bisa duduk di kasur bersih di belakang sementara kalian mati satu per satu di sini. Tempat saya di sini. Di sebelah Abang."
Bara menatapnya, dan ia melihat dirinya sendiri di anak itu, gema dari semua yang Jaya tanamkan dalam dirinya, kini berbuah dalam diri generasi berikutnya. Ia ingin menyuruh Wira kembali ke belakang, ke keselamatan, ke kasur bersih. Setiap serat sayang dalam dirinya menginginkannya. Tapi ia tahu, dengan kepahitan yang sudah ia kenal, bahwa ia tak punya hak itu. Sama seperti Jaya tak pernah punya hak menghentikan Bara dari menjadi dirinya sendiri.
"Kamu yakin?" tanya Bara pelan. "Begitu kamu berdiri di garis ini lagi, tidak ada jalan kembali yang mudah."
Wira mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah buku kecil, lusuh, halaman-halamannya menguning. Bara mengenalinya seketika, dan dadanya mencelos. Buku puisi Reno. Buku yang ia kira sudah ia kubur bersama Tio di Sektor Tujuh, di tanah yang kini sudah jauh di belakang garis musuh.
"Bagaimana—" Bara tak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Sebelum kita mundur dari Sektor Tujuh," kata Wira, "Abang menyuruh saya memindahkan tanda-tanda nama di makam. Saya... saya menggalinya. Buku ini. Saya tidak tega meninggalkannya di tanah yang akan diinjak musuh. Saya simpan. Saya bawa ke rumah sakit. Saya membacanya tiap malam, saat saya tidak bisa tidur karena sakit." Ia membuka halaman pertama, tempat tulisan tangan Reno masih terbaca: Supaya aku ingat bahwa dunia pernah punya keindahan. "Ini yang membuat saya bertahan, Bang. Ini yang membuat saya ingat kenapa kita melakukan semua ini. Bukan untuk membunuh. Tapi untuk menjaga supaya dunia masih punya keindahan. Reno menulis itu. Tio menjaganya. Sekarang giliran saya."
Bara mengambil buku itu dengan tangan gemetar, menyentuh halaman yang sama yang dulu disentuh tangan Reno, lalu tangan Tio, dan kini tangan Wira. Sebuah benang tak terlihat membentang dari masa lalu ke masa kini, dari yang gugur ke yang hidup, sebuah estafet yang menolak putus walau kematian terus mencoba memutusnya.
"Simpan ini," kata Bara, mengembalikan buku itu ke tangan Wira. "Kamu penjaganya sekarang. Sama seperti Reno, sama seperti Tio."
Wira menerimanya, dan mengangguk, dan dalam anggukan itu ada sebuah sumpah yang tak perlu diucapkan.
Lingkaran itu, sadar Bara saat menatap anak yang dulu ia tuntun dan kini berdiri sejajar dengannya, akhirnya penuh. Ia dulu murid Jaya. Wira dulu muridnya. Dan kini Wira bukan lagi murid, melainkan saudara seperjuangan, prajurit sejati yang berdiri di sisinya bukan karena takut atau karena diperintah, tapi karena memilih. Estafet kelembutan, estafet keberanian, telah menyelesaikan satu putaran penuh.
Tapi kelegaan itu, seperti semua kelegaan di tempat ini, berumur pendek. Di kejauhan utara, di balik garis pepohonan seberang Kalimas, debu mulai naik, tebal dan luas, debu dari sesuatu yang besar bergerak. Musuh telah selesai menyusun kekuatan. Mereka datang lagi, dan kali ini Bara tahu, dengan kepastian dingin yang sudah ia kenal, bahwa menahan saja tak akan lagi cukup.
Ia menatap debu yang naik itu, lalu menatap Wira di sebelahnya, lalu Jaya yang pincang, lalu Surya, lalu Galih dan Tarjo dan Naba dan semua wajah yang ia pertaruhkan setiap pagi. Dan di benaknya, sebuah pikiran mulai tumbuh, pikiran nekat dan gelap, gema dari sebuah malam jauh di pabrik gula dengan Darmo dan tangannya yang tak gemetar.
Bila menahan tak cukup, mungkin yang harus mereka lakukan bukan bertahan sama sekali. Mungkin yang harus mereka lakukan adalah menyerang, jauh ke belakang, ke jantung yang memberi makan ombak ini, dan memutusnya.
Ia belum tahu bagaimana. Tapi ia tahu, menatap debu yang mendekat itu, bahwa pikiran itu takkan meninggalkannya.