Garis dalam Kalimas bertahan, untuk hari itu dan malam itu, dibeli dengan nyawa Bidin dan banyak nama lain yang Bara tulis di bawah cahaya lampu yang ditutupi telapak tangan. Buku catatannya kini hampir penuh, setiap halaman padat dengan nama dan tanggal dan kata-kata kecil agar ia tak lupa siapa orang itu sebelum menjadi sebuah nama. Tio. Darmo. Reno. Sapto. Dan kini Bidin, dengan catatan di sampingnya: "yang pura-pura tidak peduli, tapi tinggal."
Pada pagi keempat, jeda akhirnya datang. Musuh, yang juga berdarah hebat di Kalimas, menarik diri untuk menyusun kekuatan. Untuk pertama kalinya sejak fajar gempuran, ada keheningan yang cukup panjang untuk bernapas, untuk menghitung, untuk membalut luka tanpa peluru mendesing.
Karto, sang kurir, tiba dengan karung pos pertama dalam berminggu-minggu. Pos di tengah perang seperti ini adalah keajaiban kecil, dan para prajurit mengerumuninya seperti anak-anak mengerumuni penjual gula-gula. Surat dari rumah, dari ibu, dari kekasih, dari dunia yang masih punya warna selain cokelat lumpur dan merah darah. Bara membagikan surat-surat itu satu per satu, menyebut nama, dan setiap kali ada nama yang pemiliknya sudah tiada, ia menyisihkan suratnya ke tumpukan terpisah, tumpukan yang membuat dadanya berat.
Ada satu surat untuknya. Tulisan tangan yang ia kenal, tulisan ibunya, walau goresannya kini lebih gemetar dari yang ia ingat. Bara menyingkir ke sudut, membuka amplop cokelat itu dengan tangan yang tiba-tiba gemetar, dan membaca.
Kata-kata ibunya, seperti biasa, sederhana. Kabar tentang panen yang kurang baik, tentang tetangga yang anaknya juga dipanggil perang, tentang Komandan, bukan si kucing, melainkan ayam jago tua mereka yang ternyata masih hidup. Lalu, di paragraf terakhir, sesuatu yang membuat darah Bara membeku.
Ibunya menulis bahwa kabar burung telah sampai ke Sumberarum. Bahwa perang katanya bergerak ke selatan. Bahwa orang-orang di desa mulai gelisah, sebagian mulai mengemasi barang. Bahwa Pak Lurah berkata, bila garis di utara jebol, tak ada lagi yang menghalangi perang sampai ke lembah-lembah selatan, sampai ke desa-desa seperti milik mereka. "Tapi jangan kau cemaskan kami," tulis ibunya, dengan goresan yang Bara tahu ditulis justru karena ia mencemaskan. "Kau jaga dirimu di sana. Pulang dalam keadaan apa pun. Asal pulang."
Bara menurunkan surat itu, dan untuk waktu yang lama hanya menatap dinding parit.
Di sekelilingnya, anak-anak buahnya masih membaca surat mereka sendiri. Galih tertawa pelan pada sesuatu yang ditulis adiknya. Naba menangis diam-diam membaca surat dari kekasih yang mungkin sudah berhenti menunggunya. Seorang prajurit baru menempelkan amplop ke hidungnya, mungkin mencari sisa wewangian rumah di kertas itu, sesuatu yang lebih nyata daripada bau mesiu dan darah yang sudah menempel di setiap pori mereka. Dunia kecil yang rapuh itu, dunia surat dan rumah dan orang-orang yang menunggu, adalah satu-satunya hal yang membuat tempat ini bisa ditahan.
Selama ini perang adalah abstraksi geografis yang aneh. Sektor Tujuh, Bukit 88, Brangas, Kalimas, nama-nama tanah yang ia tebus dengan darah saudaranya tapi tak benar-benar ia miliki, tak benar-benar berarti rumah. Ia bertempur karena Jaya menyuruhnya, karena anak-anak di sebelahnya, karena tak ada pilihan lain. Tapi kini, membaca tulisan tangan ibunya yang gemetar, perang itu tiba-tiba punya alamat. Punya bau jerami pagi. Punya sawah belakang rumah tempat ia mengikat berkas padi di kehidupan yang lain.
Garis Kalimas yang ia tahan, jika jebol, membuka jalan ke selatan. Dan di ujung jalan selatan itu, di antara desa-desa yang akan dilintasi perang, ada Sumberarum. Ada ibunya, menumbuk beras, menunggu.
Jaya menemukannya di sudut itu, membaca wajah Bara seperti ia selalu bisa membaca wajahnya. "Kabar buruk?"
Bara menyerahkan surat itu. Jaya membacanya pelan, lalu mengembalikannya. Ia tak berkata kata-kata penghiburan kosong. Ia tak pernah begitu.
"Sekarang kau mengerti," kata Jaya akhirnya, suaranya pelan, "kenapa aku bertahan begitu lama, walau aku sudah kehilangan segalanya yang membuatku ingin pulang. Karena bahkan ketika rumahmu sendiri sudah jadi abu, masih ada rumah orang lain yang berdiri di belakang garis ini. Masih ada ibu orang lain yang menumbuk beras. Garis ini bukan cuma tanah, Bara. Garis ini adalah jarak antara perang dan dapur ibumu."
Bara melipat surat itu dan menyimpannya di saku, di sebelah bungkus kunyit yang sudah lama mengering dan foto istri-putri Jaya. Pusaka-pusaka kecil yang ia bawa di dadanya, masing-masing sebuah alasan untuk tak menyerah.
Ia berdiri, dan saat ia berdiri, sesuatu di dalam dirinya mengeras dengan cara yang baru. Sebelumnya ia bertahan demi anak-anak di sebelahnya. Kini ia bertahan demi seseorang yang tak bisa ia lihat, demi sebuah dapur sederhana di selatan, demi semua dapur sederhana yang ada di belakang garis ini. Perang ini, akhirnya, bukan lagi abstraksi. Perang ini adalah tentang melindungi rumah.
"Kita tahan Kalimas," katanya pada Jaya, dan suaranya tak gemetar. "Apa pun ongkosnya. Tidak ada yang lewat dari sini ke selatan. Tidak selama aku masih bernapas."
Jaya menatapnya, dan mengangguk perlahan. "Itu," katanya, "baru suara seorang penjaga."
Sebelum berpaling, Jaya menyentuh lengan Bara, dan suaranya melembut. "Dulu aku iri pada lelaki sepertimu yang masih punya rumah untuk dilindungi. Aku sudah tidak punya, kau tahu. Cuma abu. Tapi malam ini aku sadar, melihatmu, bahwa rumahku bukan lagi tembok dan atap. Rumahku adalah kau, dan Wira, dan anak-anak yang kau jaga. Kalian yang kuantar pulang." Ia menepuk lengan Bara sekali, lalu pergi terpincang ke dalam gelap, meninggalkan Bara dengan surat ibunya di saku dan beban baru yang terasa, anehnya, bukan seperti beban, melainkan seperti alasan.