Pukulan terakhir di belokan sungai datang saat fajar ketiga. Musuh, yang lelah dipermainkan oleh perangkap Bara, mengubah taktik. Mereka tak lagi berdesakan di lorong sempit. Mereka melebar, menyeberangi Kalimas di beberapa titik sekaligus, mengabaikan korban demi menumpuk tekanan dari segala arah. Garis Bara mulai retak, tak karena kalah berani, tapi karena tak cukup tangan untuk menutup setiap celah.
"Kita harus mundur ke garis dalam," teriak Surya di sela ledakan. "Kalau tidak, kita terpotong di sini!"
Bara tahu Surya benar. Tapi mundur dari belokan berarti melintasi tanah terbuka di belakang, dan musuh akan menembaki punggung mereka sepanjang jalan. Mereka butuh seseorang menahan belokan, menahan lorong itu cukup lama agar yang lain bisa menyeberang ke garis dalam. Seseorang, atau beberapa orang, yang tahu mereka mungkin tak akan ikut menyeberang.
Sebelum Bara sempat memikirkannya sampai tuntas, Bidin sudah berdiri di sampingnya, menyandang senapan mesin yang dirampas dari sarang musuh yang jatuh, dan dua kotak amunisi terakhir mereka.
"Aku tinggal," kata Bidin datar, seolah membicarakan cuaca.
"Bidin—"
"Jangan buang waktu berdebat, anak desa." Bidin meludah, kebiasaannya yang sudah Bara hafal. "Aku tua. Kakiku tidak secepat anak-anakmu. Kalau aku ikut menyeberang, aku cuma akan jadi yang pertama ditembak punggungnya, dan aku akan menyeret orang lain yang menungguku. Tapi aku bisa duduk di belokan ini dengan benda ini," ia menepuk senapan mesin, "dan membuat mereka berpikir dua kali untuk lewat. Beri orang-orang waktu menyeberang."
Bara membuka mulut, lalu menutupnya. Ia tahu, dengan kepastian yang menyakitkan, bahwa Bidin benar. Bahwa dalam aritmetika perang yang kejam ini, satu orang menahan agar puluhan lolos adalah perhitungan yang tepat. Itulah perhitungan yang sama yang Tio buat saat menutup granat, yang Darmo buat di pabrik gula. Perhitungan yang selalu meninggalkan lubang di dada Bara yang tak pernah menutup.
Untuk sesaat ia tergoda mencari jalan lain, cara untuk menahan belokan tanpa mengorbankan siapa pun, sebuah keajaiban kecil yang akan menyelamatkan semua orang. Tapi tak ada keajaiban di tempat ini. Tak pernah ada. Ia sudah cukup lama di sini untuk berhenti memohonnya. Yang ada hanyalah pilihan-pilihan buruk, dan keberanian untuk memikul akibat dari yang paling sedikit buruknya. Dan Bidin, lelaki yang selama ini berpura-pura tak punya hati, menawarkan diri memikul yang terberat.
"Kenapa," tanya Bara, suaranya tercekat, "kenapa kau yang selalu bilang setiap orang cuma peduli pada kulitnya sendiri?"
Bidin tertawa, suara serak yang jarang sekali Bara dengar. "Karena itu omong kosong yang kukatakan supaya aku tidak perlu peduli pada siapa pun. Lebih gampang begitu. Tidak ada yang patah kalau mereka mati." Ia menatap Bara, dan untuk pertama kalinya tak ada sinisme di matanya, hanya sesuatu yang lelah dan jujur. "Kau merusaknya, kau dan anak desermu si Tarjo itu. Kalian membuatku peduli lagi. Brengsek kalian."
Bara merasakan matanya panas. "Aku akan ingat namamu. Kau dengar aku, Bidin? Selama aku ingat namamu, kau belum benar-benar mati. Itu janjiku."
Bidin menatapnya lama. Lalu sesuatu yang sangat langka melintas di wajah tuanya yang keras: bukan senyum, tapi sesuatu yang dekat dengan kedamaian. "Bawa mereka pulang, Bara," katanya, kata-kata yang sama yang dulu Jaya ucapkan, seolah kalimat itu adalah pusaka yang berpindah dari satu penjaga ke penjaga lain. "Sekarang pergi. Jangan buat pengorbananku sia-sia dengan berdiri di sini meratapiku."
Bara mencengkeram bahu Bidin sekali, keras, lalu berbalik dan berteriak perintah mundur. Ia memimpin penyeberangan, mendorong setiap orang melintasi tanah terbuka di antara ledakan, sementara di belakangnya senapan mesin Bidin menggelegar tanpa henti, menahan lorong belokan, membuat setiap musuh yang mencoba lewat membayar dengan nyawa.
Suara senapan mesin itu menjadi metronom keselamatan mereka. Selama ia menggelegar, Bara tahu Bidin masih hidup, masih menahan. Satu per satu anak buahnya menyeberang ke garis dalam, Tarjo, Naba, Galih, Surya, semua, basah dan terengah tapi hidup.
Lalu, saat orang terakhir mencapai keselamatan, senapan mesin itu berhenti.
Bara berbalik, menatap ke belokan yang kini diselimuti asap. Tak ada lagi tembakan dari sana. Hanya keheningan yang lebih keras dari segala ledakan. Ia berdiri di tepi garis dalam, dada naik turun, dan menatap titik tempat Bidin terakhir berdiri, lelaki sinis yang menyembunyikan hati paling besar di balik ludah dan dengusan.
"Bidin," bisiknya, pada angin. Sebuah nama lagi untuk ditulis di buku. Sebuah nama lagi untuk dibawa pulang.
Di sebelahnya, Tarjo menangis tanpa suara. Bara meletakkan tangan di kepala anak itu, mendorong ke bawah, gerakan yang sama, warisan yang sama. "Tetap rendah," bisiknya, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Tarjo. "Dia membelimu hari ini. Jangan sia-siakan."
Malam itu, di bawah cahaya yang ditutupi telapak tangan, Bara membuka buku catatannya dan menulis nama Bidin. Ia berhenti lama, memikirkan kata apa yang pantas ditaruh di sebelahnya, kata yang akan membuat seseorang yang membaca buku ini suatu hari tahu siapa lelaki itu sebenarnya. Akhirnya ia menulis: "Yang pura-pura tidak peduli, tapi tinggal di belokan supaya kami bisa pulang." Ia menutup buku itu, dan untuk waktu yang lama duduk dalam gelap, mendengarkan air Kalimas mengalir, membawa entah apa lagi ke hilir. Satu nama lagi di dadanya. Satu nama lagi untuk dibawa pulang.