Perangkap di belokan sungai berhasil, untuk sementara. Musuh berdesakan di lorong sempit itu, dan pasukan Bara yang terpusat menghantam mereka sampai air Kalimas tak bisa lagi disebut air. Tapi keberhasilan kecil itu tak menghapus kenyataan: mereka kalah jumlah, kalah amunisi, dan setiap jam yang berlalu menggerus apa yang tersisa dari semangat mereka.
Maka mulailah hal yang Bara tahu akan datang tapi berharap tak akan ia saksikan. Orang-orang mulai lari.
Pertama hanya satu, seorang prajurit muda yang ditemukan Galih merangkak menjauh dari garis di tengah malam, ranselnya ditinggal, matanya seperti binatang yang terjebak. Lalu dua lagi. Lalu bisik-bisik menjalar di sepanjang tanggul bahwa garis ini sudah ditakdirkan jatuh, bahwa tinggal di sini berarti mati, bahwa selatan masih terbuka untuk yang berani lari.
Bidin menyeret seorang desertir muda ke hadapan Bara, mencengkeram kerahnya. "Aku tangkap dia di parit komunikasi belakang," kata Bidin, suaranya keras dan dingin. "Sudah melepas tanda kesatuan. Kau tahu hukumannya, Bara. Di buku, hukuman untuk ini cuma satu."
Prajurit itu, yang tak lebih tua dari Wira, gemetar hebat. Air mata dan ingus bercampur di wajahnya yang kotor. "Saya tidak mau mati di sini," isaknya. "Saya cuma... saya cuma anak tukang sepatu. Saya tidak pernah minta jadi tentara. Ibu saya sakit. Kalau saya mati, tidak ada yang merawatnya. Saya cuma mau pulang."
Bidin mendengus. "Setiap orang di sini mau pulang. Setiap orang punya ibu. Kalau satu boleh lari, semua akan lari, dan kita semua mati. Tegakkan aturan, Bara. Tembak dia di depan yang lain, atau besok tidak ada lagi yang tinggal."
Bara menatap anak itu, dan ia tak melihat seorang pengecut. Ia melihat dirinya sendiri di malam pertamanya di parit, saat jarinya membeku di pelatuk, saat ketakutan begitu besar sampai ia hampir tak bisa bernapas. Bedanya, dulu ada Jaya di sebelahnya, ada tangan keras yang lembut di kepalanya, ada saudara-saudara yang menahannya agar tak hancur. Anak ini, entah bagaimana, sendirian dengan ketakutannya.
Aturan ada di pihak Bidin. Bara tahu itu. Sebuah pasukan yang membiarkan desersi tanpa hukuman akan runtuh dari dalam, dan runtuhnya pasukan berarti matinya semua, bukan hanya satu. Ada logika dingin yang tak bisa dibantah dalam kata-kata Bidin.
Tapi ada logika lain, logika yang Jaya tanamkan dalam dirinya selama berbulan-bulan, yang berbisik bahwa di tempat yang mencoba mencabut kemanusiaan mereka setiap hari, menyerahkan kemanusiaan adalah kekalahan yang lebih dalam dari kalah perang.
Bara memikirkan malam pertamanya, saat Sapto mengambang mati di air parit dan jarinya sendiri membeku di pelatuk. Ia memikirkan apa yang akan terjadi seandainya Jaya, alih-alih berjongkok di hadapannya dan menyuruhnya menangis, malah menyeretnya ke depan regu dan menembaknya sebagai contoh. Ia tak akan ada di sini. Tak akan ada Wira, tak akan ada satu pun nyawa yang ia bawa pulang sejak itu. Seluruh rantai itu, seluruh estafet itu, bergantung pada satu keputusan seorang kopral keras untuk memperlakukan seorang anak ketakutan sebagai manusia, bukan sebagai pengecut.
"Lepaskan dia, Bidin," kata Bara.
Bidin menatapnya seolah ia gila. "Apa?"
"Lepaskan." Bara berjongkok di hadapan anak itu, menatap matanya. "Siapa namamu?"
"Tarjo," bisik anak itu.
"Tarjo. Dengar aku." Bara meletakkan tangan di bahunya, dan anak itu tersentak seolah menunggu pukulan. "Aku tidak akan menembakmu. Tidak ada yang akan menembakmu. Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu lari sendirian ke selatan, karena kau akan mati di jalan, atau lebih buruk, kau akan dikejar dan ditembak seperti binatang. Dengar. Ketakutan itu bukan aib. Aku takut sekarang. Bidin takut, walau dia tidak akan pernah mengakuinya." Bidin mendengus, tapi tak membantah. "Yang membuat kita tetap manusia bukan tidak takut. Tapi tidak meninggalkan orang di sebelah kita sendirian dengan ketakutannya. Kau tinggal. Tapi kau tinggal di sebelahku. Kau tidak akan sendirian lagi. Itu janjiku."
Anak itu menangis, kali ini bukan tangis takut, melainkan tangis seseorang yang menemukan, di dasar jurang, bahwa ada tangan yang tak melepasnya. Ia mengangguk, berkali-kali.
Bidin menatap Bara lama, lalu memalingkan wajah dan meludah. "Kau lembek," gumamnya. Tapi ada sesuatu dalam nadanya yang tak sekeras kata-katanya. "Kalau dia lari lagi dan membuat yang lain ikut, itu di tanganmu."
"Di tanganku," kata Bara setuju.
Malam itu Tarjo berjaga di sebelah Bara, dan ia tak lari. Dan keesokan paginya, saat seorang prajurit lain mulai goyah, Tarjo-lah yang merangkak ke sisinya, meletakkan tangan di bahunya, dan menggumamkan kata-kata yang baru saja diberikan padanya. Estafet kelembutan, diturunkan sekali lagi, di tempat yang paling tak mungkin.
Malam itu Jaya mendengar apa yang terjadi, dan ia mencari Bara di sudut parit. "Bidin mau menembak anak itu," kata sang kopral, bukan bertanya. "Dan kau menghentikannya." Ia duduk dengan susah payah di sebelah Bara, kaki pincangnya diluruskan. "Dulu, sebelum aku kehilangan keluargaku, aku akan setuju dengan Bidin. Aturan adalah aturan. Pasukan yang lembek mati." Ia menatap kegelapan. "Lalu aku belajar bahwa pasukan yang kehilangan jiwanya juga mati, cuma lebih lambat dan lebih menyakitkan. Kau memilih yang benar, Nak. Mahal, tapi benar."
Bara menyaksikan Tarjo dari kejauhan, anak yang dua jam lalu nyaris ditembak kini menjaga kawan yang lain, dan untuk sesaat, di tengah lembah yang sekarat, ia merasakan sesuatu yang menyerupai harapan. Tapi ia tahu, harapan di tempat ini selalu berongkos. Dan ongkosnya, kali ini, akan dibayar oleh orang yang paling tak ia duga.