Serangan datang sebelum subuh, dan datang dengan kemarahan yang lebih besar dari sebelumnya. Musuh, yang sudah mencium bahwa Kalimas adalah pintu terakhir, melempar gelombang demi gelombang ke tanggul. Bara dan anak buahnya menahan, mundur beberapa langkah, lalu merebut kembali, lalu mundur lagi. Tanggul itu berpindah tangan tiga kali sebelum matahari naik. Mayat-mayat menumpuk di tepian Kalimas sampai air berubah keruh.
Mereka bertahan. Tapi harganya mengerikan.
Di tengah pagi, saat jeda singkat memberi mereka napas, kabar menyebar dari mulut ke mulut: Mayor Hardi tidak ada di garis depan. Ia tak terlihat sejak serangan dimulai. Beberapa berbisik bahwa ia di gubuk komando di belakang. Beberapa, dengan getir yang tak disembunyikan, berbisik kata yang lebih buruk.
Bara menemukan Hardi di gubuk itu, sendirian. Sang mayor duduk di kursi, peta tergeletak tak tersentuh di mejanya, dan ia menatap dinding dengan pandangan kosong. Tangannya gemetar di atas lutut. Botol entah apa setengah kosong di sudut meja.
"Mayor," kata Bara hati-hati.
Hardi tak menoleh segera. Saat ia akhirnya menatap Bara, wajahnya bukan lagi wajah perwira angkuh yang turun dari kuda kemarin. Itu wajah seorang yang sudah hancur dari dalam. "Kau dengar laporannya?" katanya, suaranya parau. "Sektor barat. Yang katanya akan tertahan kalau kita menahan di sini. Sudah jebol. Tadi malam. Semua yang kita korbankan di sini... sia-sia. Aku mengirim mereka mati untuk membeli waktu yang sudah tidak ada gunanya."
Bara berdiri diam. Ia tak tahu harus berkata apa. Beban yang dibawa sang mayor, beban memutuskan siapa mati untuk siapa, dan lalu mengetahui bahwa perhitungannya salah, bahwa darah itu tertumpah tanpa membeli apa-apa, beban itu telah meremukkannya.
Dan untuk pertama kalinya Bara mengerti, dengan kejernihan yang dingin, bahwa beban itu kini juga miliknya. Setiap perintah yang ia berikan, setiap kali ia menyuruh seseorang menahan titik atau menyeberang tanah terbuka, ia pun sedang memutuskan siapa hidup dan siapa mati. Selama ini ia menganggap dirinya berbeda dari Hardi, lebih bersih, lebih manusiawi. Tapi menatap reruntuhan lelaki di kursi itu, ia melihat bayangan dari apa yang bisa ia jadi bila ia tak hati-hati. Perang punya cara mengubah penjaga menjadi tukang jagal, sedikit demi sedikit, tanpa ia sadar.
"Aku tidak dibuat untuk ini," bisik Hardi, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Bara. "Aku pandai di peta. Pandai di rapat. Pandai membaca angka dan memindahkan pasukan seperti bidak. Tapi angka-angka itu... mereka punya wajah, ternyata. Aku tidak pernah melihat wajahnya sampai sekarang."
Bara bisa membiarkannya hancur di situ. Bisa menyalahkannya, dan ia punya hak untuk itu, sebab di luar gubuk ini anak-anak mudanya sedang sekarat karena perintah lelaki ini. Tapi ia memikirkan Jaya, yang pernah berkata bahwa membenci seseorang tak akan membawa siapa pun pulang. Dan ia memikirkan kenyataan dingin: bila Hardi runtuh sekarang, di tengah serangan, ratusan orang akan kehilangan apa pun bentuk komando yang masih tersisa.
"Mayor," kata Bara, suaranya tegas tapi tanpa kekejaman. "Yang sudah lewat tidak bisa Bapak tarik kembali. Tidak ada gunanya Bapak duduk di sini menghitung dosa. Di luar sana ada tiga ratus orang yang masih hidup, dan mereka butuh seseorang yang berani memutuskan agar mereka tetap hidup. Bapak masih mayor. Tanda di pundak Bapak masih berarti sesuatu buat mereka. Pakai itu. Sekarang."
Hardi menatapnya, dan untuk waktu yang lama tak bicara. "Kenapa kau membantuku?" tanyanya akhirnya. "Aku yang menyuruh anak buahmu mati."
"Bukan untuk Bapak," jawab Bara jujur. "Untuk mereka di luar sana. Sebuah pasukan tanpa kepala mati lebih cepat. Saya butuh Bapak berdiri, supaya mereka berdiri."
Sesuatu bergerak di mata Hardi. Mungkin malu. Mungkin sisa terakhir dari sesuatu yang dulu membuatnya memilih jadi perwira, sebelum ambisi dan kenyamanan mengikisnya. Ia mengusap wajahnya, menyingkirkan botol itu, dan dengan susah payah berdiri. Tangannya masih sedikit gemetar, tapi punggungnya menegak.
"Apa rencanamu, Bara?" tanyanya, dan kali ini ada kerendahan dalam suaranya yang sebelumnya tak pernah ada.
Bara membentangkan peta. Untuk sesaat aneh, prajurit tanpa pangkat menjelaskan strategi pada seorang mayor. Tapi tak ada yang menertawakannya. "Kita tidak punya kekuatan untuk menahan seluruh tanggul," kata Bara. "Tapi kita bisa menahan titik sempit di belokan sungai, di sini, tempat mereka harus lewat satu-satu. Tarik semua orang ke sana. Biarkan mereka mengira kita lemah di tempat lain, lalu hancurkan mereka saat mereka berdesakan di belokan. Kita ubah kelemahan jadi perangkap."
Hardi mempelajari peta, lalu mengangguk perlahan. "Kau seharusnya pakai seragam perwira, Nak."
"Saya lebih berguna dengan lumpur, Mayor."
Hardi nyaris tersenyum, senyum lelah seorang yang telah melihat dasar dirinya dan masih dipaksa berdiri. Lalu ia mengangkat topinya, menegakkan bahu, dan keluar dari gubuk untuk pertama kalinya kembali menjadi seorang komandan, dipapah oleh keberanian seorang prajurit yang tak punya alasan untuk memberinya satu pun.
Bara menatap punggung sang mayor menjauh, dan ia merasakan sesuatu yang aneh berkecamuk di dadanya. Bukan kemenangan. Sesuatu yang lebih sukar. Ia telah menyelamatkan seorang lelaki yang mengirim anak buahnya mati, bukan karena lelaki itu pantas diselamatkan, tapi karena yang hidup membutuhkannya berdiri. Inilah aritmetika perang yang tak pernah ditulis di mana pun: kadang kau harus mengangkat orang yang kau benci, agar orang yang kau cintai punya kesempatan untuk hidup. Jaya pasti akan mengerti, pikir Bara. Jaya selalu mengerti hal-hal seperti ini, jauh sebelum Bara bisa.