Mayor Hardi turun dari kudanya dengan gerakan seorang yang terbiasa diperhatikan. Seragamnya bersih, sepatu botnya mengilap di tengah lautan lumpur dan darah, dan untuk sesaat Bara merasakan jarak yang tak terjembatani antara dunia perwira di kota garnisun dan dunia parit ini. Hardi memandangi pasukan compang-camping itu dengan ekspresi yang sukar dibaca, lalu memanggil para perwira dan sersan yang tersisa ke sebuah gubuk reot di tepi tanggul.
Bara, yang bukan perwira, hampir tak diikutsertakan. Tapi Surya menariknya masuk dengan satu tatapan, dan sersan tua tadi mengangguk membenarkan. Maka Bara berdiri di sudut gubuk, mendengarkan, sementara hujan mulai menetes dari atap reot itu, jatuh ke peta dan menggenang di cekungan kayu yang lapuk.
Hardi membentangkan peta di atas meja kayu yang miring. "Garis Kalimas dalam," katanya, jarinya mengetuk titik di peta, "adalah benteng terakhir sebelum lembah terbuka ke jalan menuju selatan. Di belakang lembah ini tidak ada lagi pertahanan alami. Tidak ada sungai, tidak ada bukit. Hanya jalan datar menuju kota-kota dan desa-desa." Ia menatap mereka satu per satu. "Karena itu, perintahnya jelas dan tak bisa ditawar. Garis ini dipertahankan. Sampai mati. Tidak ada lagi mundur."
Hening menyelimuti gubuk. Bara merasakan dingin yang sudah ia kenal merayap kembali ke perutnya.
"Mayor," kata Surya hati-hati, "berapa bala bantuan yang akan kita terima? Pasukan ini sudah hancur. Amunisi tinggal seperempat. Banyak yang—"
"Bantuan sedang dialihkan ke sektor lain," potong Hardi. "Komando memutuskan sektor barat lebih genting. Kalian bertahan dengan apa yang ada."
"Dengan apa yang ada," ulang Surya pelan, dan ada sesuatu yang patah dalam suaranya, "kita tidak akan bertahan satu hari, Mayor. Kita akan habis."
Hardi menegakkan tubuh, dan untuk pertama kalinya Bara melihat retak di balik ketenangannya, sesuatu yang ia tutupi dengan amarah. "Satu hari," kata Hardi tajam, "adalah satu hari yang kita beli untuk sektor barat menahan dorongan utama. Apa kalian pikir aku tidak tahu apa yang kuminta? Aku tahu persis. Kalian menahan di sini agar ribuan nyawa di tempat lain punya waktu. Itulah perang. Sebagian dikorbankan agar sebagian selamat."
Bara, yang seharusnya diam, mendengar dirinya bicara sebelum ia sempat menahannya. "Dikorbankan oleh siapa, Mayor? Dan dipilih bagaimana siapa yang jadi korban?"
Semua mata berputar padanya. Hardi memicingkan mata, mengukur prajurit kurus berlumpur yang berani bicara tanpa pangkat. "Siapa kau?"
"Bara, Mayor. Yang memimpin penarikan dari Kalimas hulu semalam."
Sesuatu berkelebat di wajah Hardi, pengenalan, mungkin. Nama Bara rupanya sudah sampai ke meja-meja perwira. Tapi ia tak melunak. "Kalau kau yang memimpin penarikan itu, Bara, maka kau tahu betul harga sebuah keputusan. Aku tidak menikmati perintah ini lebih dari kau menikmati melepaskan parit. Tapi seseorang harus memutuskan. Dan keputusan itu jatuh padaku, bukan padamu."
"Lalu kenapa Bapak tidak meminta lebih banyak waktu untuk bantuan?" Bara mendengar dirinya bertanya, tak peduli lagi pada sopan santun pangkat. "Satu hari kita beli dengan tiga ratus nyawa. Berapa nyawa di sektor barat yang Bapak yakin akan terselamatkan oleh satu hari itu? Sudahkah ada yang menghitungnya, atau itu cuma angka di atas kertas?"
Para perwira lain menahan napas. Tak ada yang bicara begitu pada Mayor Hardi.
Bara menatap mata sang mayor, dan untuk sesaat ia melihat sesuatu yang tak ia duga. Bukan kekejaman. Ketakutan. Ketakutan seorang yang dibebani keputusan yang terlalu besar untuk siapa pun, yang tahu bahwa apa pun yang ia pilih, orang akan mati, dan yang menyembunyikan ketakutan itu di balik kekakuan dan ambisi karena itulah satu-satunya cara ia bisa terus berdiri.
Bara tak setuju dengan perintah itu. Setiap serat tubuhnya menolak gagasan menahan garis sampai mati dengan pasukan yang sudah remuk. Tapi ia juga melihat, untuk pertama kalinya, bahwa Hardi pun adalah manusia yang terjebak di mesin yang sama, hanya di tuas yang berbeda.
Setelah Hardi pergi, Surya menarik Bara ke samping, wajahnya keruh. "Kau dengar dia. Sampai mati. Kau tahu apa artinya itu untuk anak-anakmu."
"Aku tahu," kata Bara pelan.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
Bara menatap ke seberang lembah, ke garis pepohonan tempat musuh akan datang. Ia memikirkan Jaya, yang dulu menerima perintah Bukit 88 yang nyaris bunuh diri dan tetap maju, tapi maju dengan cara yang menjaga sebanyak mungkin anak buahnya tetap hidup. Ia memikirkan keseimbangan mustahil antara mematuhi dan melindungi, garis tipis tempat seorang pemimpin harus berjalan setiap hari di tempat ini.
"Kita tahan garis ini," kata Bara akhirnya. "Karena memang harus ditahan, demi orang-orang di selatan, demi desa-desa. Tapi kita tahan dengan otak, bukan dengan dada telanjang. Kita buat setiap nyawa mereka bayar mahal sebelum mereka tembus, dan kita siapkan diri untuk bertahan lebih lama dari yang Hardi pikir mungkin. 'Sampai mati' tidak harus berarti kita yang mati duluan."
Surya menatapnya lama, lalu mengangguk. "Kau tahu," katanya pelan, "dulu di akademi mereka mengajari kami bahwa perintah adalah perintah. Bahwa keraguan adalah penyakit. Aku percaya itu, dan karena aku percaya itu, anak buahku mati di serangan siang hari yang bodoh dulu." Wajahnya gelap oleh kenangan. "Kau mengajariku hal yang tak ada di buku mana pun: bahwa mematuhi tanpa berpikir sama berbahayanya dengan membangkang tanpa alasan. Garis tipis di antaranya, di situlah seorang pemimpin sungguhan berdiri."
Bara tak menjawab. Di luar gubuk, langit mulai gelap, dan di kejauhan, gemuruh artileri musuh mulai lagi, lebih dekat dari kemarin.