Lembah Kalimas dalam, yang seharusnya menjadi titik kumpul yang teratur, adalah pemandangan kekacauan saat Bara dan anak buahnya tiba. Ratusan prajurit dari berbagai kompi yang tercerai-berai berkerumun di sepanjang tepian sungai dan di balik tanggul, sebagian terluka, sebagian hanya menatap kosong ke depan dengan mata orang yang telah meninggalkan sebagian jiwanya di parit. Tak ada yang tahu siapa yang memimpin siapa. Perwira yang masih hidup berteriak perintah yang saling bertentangan. Logistik berantakan: tak cukup perban, tak cukup air bersih, dan amunisi ditumpuk tanpa pembagian.
Bara berdiri di tepi keramaian itu, menyerap pemandangannya, dan merasakan sesuatu yang asing menjalar di dadanya. Bukan ketakutan. Sesuatu yang lebih berat: tanggung jawab yang tak ia minta.
"Lihat mereka," gumam Bidin di sampingnya, meludah. "Tentara tanpa kepala. Setiap orang menunggu orang lain memberi tahu harus apa, dan tak ada yang berani."
Seorang prajurit muda dari kompi lain mendekati Bara, matanya liar. "Kalian dari Kalimas hulu? Benar garis depan sudah jebol semua? Benar musuh akan sampai sini siang ini?" Suaranya naik, panik, dan kepanikan menular seperti tifus. Beberapa kepala di sekitar mereka menoleh, mendengarkan, menunggu jawaban yang akan menentukan apakah mereka akan bertahan atau berhamburan lari.
Bara merasakan semua mata itu. Ia bisa berkata jujur, bahwa ya, garis sudah jebol, bahwa ia tak tahu berapa lama lagi. Atau ia bisa diam dan membiarkan kepanikan memakan mereka. Atau—
Ia menarik napas, dan saat ia bicara, suaranya keluar tenang, jelas, cukup keras untuk didengar lingkaran di sekelilingnya tapi tak berteriak, suara yang ia pelajari dari Jaya tanpa pernah sadar ia mempelajarinya.
"Garis hulu sudah kami lepas," kata Bara. "Dengan sengaja. Bukan karena kalah, tapi karena kami pilih membawa orang pulang ketimbang mati sia-sia. Dan kami berhasil. Kalian dengar? Kami mundur dengan teratur, dan sebagian besar dari kami masih bernapas." Ia menatap prajurit panik itu, lalu yang lain, satu per satu. "Musuh memang datang. Tapi mereka juga lelah, juga berdarah menyeberangi sungai. Kalau kita berdiri di sini sebagai gerombolan ketakutan, kita habis. Kalau kita berdiri sebagai pasukan, kita tahan mereka. Pilihannya cuma itu, dan pilihan itu ada di tangan kita, bukan tangan mereka."
Lingkaran itu hening. Bara mendengar air Kalimas mengalir di belakangnya, mendengar rintih seorang yang terluka di kejauhan, mendengar napasnya sendiri. Ia tak tahu apakah kata-katanya akan menahan mereka atau membuat mereka berhamburan. Ia hanya tahu bahwa diam akan lebih buruk.
Lalu seseorang, seorang sersan tua dari kompi yang tak Bara kenal, mengangguk pelan. "Kau benar, Nak. Apa yang harus kami lakukan?"
Pertanyaan itu, ditujukan padanya, seorang prajurit biasa tanpa pangkat perwira, mengejutkan Bara. Tapi ia tak menunjukkannya. Ia mulai membagi tugas seolah ia telah memimpin seumur hidupnya: yang terluka ringan ke satu sisi untuk dibalut bergiliran, yang sehat membangun posisi tembak di sepanjang tanggul, amunisi dikumpulkan dan dibagi rata, air bersih dijatah dan dijaga. Ia tak tahu dari mana datangnya kemampuan ini, ketenangan ini, kecuali bahwa ia telah menyaksikan Jaya melakukannya berkali-kali di Sektor Tujuh, dan kini tangan-tangan itu bergerak melalui tangannya sendiri.
Letnan Surya muncul dari keramaian, wajahnya kuyu, seragamnya yang dulu rapi kini compang-camping seperti yang lain. Perwira muda yang dulu datang penuh teori dari akademi itu kini menatap Bara dengan sesuatu yang sudah lama menggantikan keangkuhannya: hormat.
"Mereka mendengarkanmu," kata Surya pelan, berdiri di samping Bara sambil mengamati pasukan compang-camping itu mulai bergerak dengan tujuan. "Lebih dari mereka mendengarkan pangkat di pundakku. Kau tahu kenapa?"
Bara menggeleng.
"Karena kau pernah berdiri di tempat mereka berdiri sekarang," kata Surya. "Karena kau takut bersama mereka, bukan di atas mereka." Ia tertawa kecil, getir. "Itu satu hal yang tak diajarkan akademi padaku. Aku belajar dari lumpur. Dari melihatmu."
Bara tak tahu harus berkata apa. Ia hanya menepuk bahu Surya, lalu kembali bekerja. Tapi di dalam dirinya, sesuatu bergeser. Ia bukan lagi anak desa yang melompat keluar parit dengan jantung berdebar di Bukit 88. Ia kini menjadi titik tempat orang-orang yang ketakutan berlabuh, sama seperti dulu Jaya menjadi titik tempat ia berlabuh.
Jaya sendiri mengawasinya dari kejauhan, duduk di sebuah peti amunisi dengan kaki pincangnya diluruskan. Saat Bara lewat, sang kopral memanggilnya dengan satu anggukan kecil. "Kau lihat yang baru saja kau lakukan?" katanya pelan. "Tiga ratus orang yang siap berhamburan, dan kau buat mereka berdiri lagi cuma dengan suaramu. Aku berperang dua puluh tahun untuk belajar melakukan itu. Kau melakukannya dalam setahun." Ia menggeleng, separuh kagum, separuh sedih. "Tempat ini menua dengan cepat, Nak. Hati-hati. Ia akan minta lebih dan lebih darimu, dan kau akan terus memberi, sampai kau lupa menyisakan sedikit untuk dirimu sendiri."
Komandan, si kucing, muncul entah dari mana, melompat ke tumpukan karung pasir, dan duduk mengawasi seluruh lembah dengan tenang seolah ia memang sang komandan sungguhan. Beberapa prajurit menunjuknya dan tertawa kecil, tawa pertama yang Bara dengar sejak fajar gempuran. Tawa kecil itu, di tengah segala kehancuran, terasa seperti kemenangan yang lebih besar dari apa pun.
Tapi kelegaan itu tak bertahan lama. Sebab dari arah selatan, dari jalan yang menuju markas batalion, terdengar derap kuda. Seorang perwira tinggi datang, dan di wajahnya tertulis perintah yang akan mengubah segalanya.