Mundur di tengah pertempuran, Bara belajar malam itu, adalah seni yang lebih sukar dari menyerang. Saat menyerang, kau hanya perlu maju dan tak menoleh. Saat mundur, kau harus menoleh terus, menghitung terus, melepas tanah selangkah demi selangkah sambil menjaga agar musuh tak mencium bahwa kau sedang pergi. Sekali mereka tahu, mundur berubah jadi pembantaian.
Bara membagi anak buahnya menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama, yang terluka dan yang menggendong mereka, berangkat lebih dulu di bawah pimpinan Galih, lewat parit komunikasi lama yang ditemukan Bidin. Kelompok kedua, inti regu, menyusul setelahnya. Dan kelompok ketiga, paling kecil, tinggal di parit untuk terus menembak, untuk membuat musuh percaya bahwa garis ini masih penuh dan masih kuat. Bara menempatkan dirinya di kelompok terakhir.
"Bapak ikut kelompok kedua," kata Bara pada Jaya. "Kaki Bapak—"
"Kakiku tidak bisa lari," potong Jaya, "tapi tanganku masih bisa menembak. Aku tinggal denganmu di belakang." Ia menatap Bara, dan tak ada ruang untuk membantah dalam tatapan itu. "Sekali ini saja, biar orang tua ini berguna. Kau pimpin, aku jaga punggungmu. Seperti dulu, terbalik."
Maka mereka tinggal, segelintir orang di parit yang ditinggalkan, menembak dengan irama yang sengaja dijaga agar terdengar ramai. Mereka berpindah-pindah dari satu lubang tembak ke lubang lain, menembak dari sini lalu dari sana, menyalakan ilusi bahwa parit masih penuh penjaga. Bara melempar granat ke air sungai untuk meniru ledakan ranjau. Bidin, yang ternyata punya bakat licik, menumpuk topi-topi baja di atas tongkat dan menggerakkannya di balik karung pasir, umpan untuk penembak jitu musuh, agar mereka membuang peluru ke boneka.
Jam-jam itu terasa seperti merangkak di atas pisau. Setiap kali musuh melancarkan dorongan kecil untuk menguji garis, kelompok Bara membalas dengan sekuat tenaga, lalu menahan napas menunggu apakah tipuan mereka termakan. Berkali-kali Bara yakin mereka sudah ketahuan. Berkali-kali ia salah, dan rasa lega itu lebih melelahkan daripada rasa takut.
Di sela tembakan, Bara memergoki Jaya menyeka peluh dingin dari dahinya, kaki pincangnya menjulur kaku di lumpur. Sang kopral menangkap tatapannya dan menyeringai lemah. "Jangan menatapku seperti itu," gumam Jaya. "Aku belum mati. Cuma tua." Tapi Bara melihat betapa lambat gerakannya kini, betapa banyak yang harus ia bayar untuk setiap perpindahan dari satu lubang tembak ke lubang lain, dan untuk pertama kalinya Bara benar-benar mengerti bahwa lelaki yang dulu menariknya keluar dari ketakutan kini adalah bayangan dari dirinya yang dahulu. Ia menelan perasaan itu. Tak ada ruang untuk duka di tengah tipuan yang sedang ia rajut.
Lewat tengah malam, kurir dari Galih merangkak kembali: kelompok terluka sudah mencapai garis kedua di Kalimas dalam dengan selamat. Bara menutup matanya sejenak, membiarkan kelegaan itu mengalir, lalu menghapusnya. Belum selesai. Masih ada mereka, sembilan orang di parit hantu ini.
"Sekarang giliran kita," bisik Bara. "Satu per satu. Yang paling ujung lebih dulu. Aku terakhir."
Mereka menyelinap keluar dari parit dalam interval yang dihitung, memanfaatkan setiap jeda mendung yang menutupi bulan. Bara mendorong tiap orang berangkat dengan satu sentuhan di bahu, satu sebutan nama, dan menatap punggung mereka menghilang ke dalam parit komunikasi sampah yang menuju keselamatan. Naba. Galih kembali untuk menjemput. Bidin, yang mendengus tapi pergi. Satu demi satu, sampai tinggal ia dan Jaya.
"Bapak duluan," kata Bara.
"Kau pikir aku akan membiarkan murid memimpin dari depan dan mati di belakang?" Jaya tersenyum di gelap, gigi-giginya yang lelah berkilat. "Kita pergi sama-sama. Sekali ini."
Maka mereka merangkak bersama, dua orang, satu muda dan satu pincang, menyeret diri di lumpur parit komunikasi sementara di belakang mereka, di parit yang baru saja mereka tinggalkan, terdengar musuh akhirnya menyadari bahwa mereka telah menembaki bayangan sepanjang malam. Teriakan amarah pecah. Peluru menyapu parit kosong itu, mengoyak boneka dan topi baja dan karung pasir, mencari tubuh yang sudah tak ada di sana.
Setengah jalan, kaki pincang Jaya tersangkut di akar yang muncul di dasar parit, dan sang kopral tersungkur dengan erangan tertahan. Bara berbalik, mencengkeram lengannya, menariknya bangkit. "Tinggalkan aku kalau aku memperlambatmu," desis Jaya, tapi Bara hanya mengeratkan cengkeramannya. "Bapak yang mengajari saya tidak meninggalkan siapa pun," bisiknya. "Saya tidak akan mulai dari Bapak." Mereka terus merangkak, dua tubuh saling menopang dalam gelap, sementara peluru menyapu di atas kepala mereka mencari sasaran yang sudah tak ada.
Bara dan Jaya tiba di garis kedua saat fajar pertama menyentuh punggung bukit. Bara berbalik, menghitung kepala satu per satu di cahaya kelabu, dan dadanya naik turun dengan sesuatu yang nyaris seperti tangis.
Sembilan berangkat dari parit belakang. Sembilan tiba.
Ia kehilangan orang dalam pertempuran malam itu, ya. Tiga gugur saat gelombang pertama, dua lagi sebelum mundur dimulai. Nama-nama itu sudah ia tulis dalam hati untuk ditulis di buku nanti. Tapi puluhan yang seharusnya mati bila mereka bertahan membabi buta di parit yang terkepung, puluhan itu kini bernapas di garis kedua, basah dan gemetar dan hidup.
Jaya merebahkan diri ke dinding parit baru, menyeka keringat dari dahinya yang berkerut. "Dulu," katanya pelan, "aku akan berteriak agar kita tinggal dan mati dengan terhormat. Kau ajari aku sesuatu malam ini, Nak. Bahwa membawa mereka pulang lebih terhormat daripada mati gagah di tanah yang tak lagi bisa kita pegang."
Bara tak menjawab. Ia hanya menatap ke arah selatan, ke kedalaman Lembah Kalimas, tempat sisa-sisa batalion akan berkumpul, dan bertanya-tanya dalam diam berapa banyak lagi tanah yang harus mereka lepas sebelum tak ada lagi tanah untuk dilepas.