Gelombang pertama menghantam saat langit masih menyimpan sisa merah. Mereka datang menyeberangi Brangas di tempat yang dangkal, ratusan, mengabaikan rekan-rekan mereka yang tumbang ke air dan terbawa arus. Bara menembak sampai laras senapannya panas, sampai jarinya mati rasa di pelatuk, sampai ia berhenti melihat wajah dan hanya melihat bayangan yang harus dijatuhkan agar bayangan di sebelahnya, agar Galih dan Naba dan anak-anak yang ia pimpin, tetap bernapas.
Garis Kalimas bertahan, malam itu. Tapi bukan garis mereka yang ia cemaskan.
Di antara gelombang, saat musuh menarik diri untuk menyusun ulang barisan, Bara berjalan menyusuri parit menghitung yang tersisa. Ia berhenti di setiap orang, menyentuh bahu, menyebut nama. Sebagian menjawab dengan suara serak. Sebagian hanya menatap dengan mata yang sudah pergi entah ke mana. Naba muntah di pojok parit, lalu mengusap mulut dan kembali mengisi senapannya tanpa diperintah, dan Bara merasakan campuran bangga dan pilu yang tak punya nama. Anak itu masih terlalu muda untuk wajah sekeras yang baru saja ia lihat. Mereka semua terlalu muda.
Kabar itu datang lewat seorang kurir yang merangkak di parit penghubung, wajahnya putih, satu lengannya menggantung tak berguna. "Sayap kiri," katanya tersengal. "Posisi Kompi Tujuh Belas. Mereka... mereka tembus. Garisnya jebol. Musuh sudah di belakang mereka."
Bara merasakan dingin merayap dari perutnya. Ia membuka peta lusuh di pangkuannya, di bawah cahaya redup yang ditutupi telapak tangan agar tak terlihat penembak jitu. Posisi Kompi Tujuh Belas adalah pengunci sayap kiri mereka. Bila itu jatuh, musuh bisa berputar ke belakang parit Bara, dan mereka akan terjepit di antara sungai dan kepungan. Tikus dalam karung.
"Berapa jauh mereka tembus?" tanya Bara.
"Saya tidak tahu, Bang. Saya cuma disuruh lari sebelum terlambat. Komandan kompi kami... sudah tidak ada."
Jaya merangkak mendekat, mendengar semuanya. Ia menatap peta itu lama, lalu menatap Bara, dan Bara tahu apa yang akan dikatakan sang kopral bahkan sebelum ia bicara. Ini bukan lagi soal bertahan di parit ini. Ini soal kapan mereka harus melepasnya.
"Kalau kita tinggal," kata Jaya pelan, hanya untuk Bara, "kita habis di pagi hari. Mereka akan mengelilingi kita dan kita tidak punya cukup peluru untuk menahan dua arah. Kalau kita lari sekarang, tanpa perintah, kita meninggalkan posisi dan setengah dari mereka akan mati di tanah terbuka saat mundur."
"Lalu apa yang harus saya lakukan," kata Bara, bukan bertanya, lebih seperti berdoa.
Jaya tidak menjawab. Itulah jawabannya. Ia telah menyerahkan segalanya semalam. Beban ini kini milik Bara seorang.
Bara memejamkan mata sejenak. Ia mendengar napas anak-anak muda di sekelilingnya, mendengar rintih yang terluka, mendengar Komandan mengeong pelan di suatu tempat dalam gelap. Wajah Tio melintas di benaknya, lalu wajah Jaya yang dulu, di Bukit 88, mengangkat tangan dan berteriak "MAJU!" karena ada perintah, karena ada artileri kawan yang menunggu. Tapi kini tak ada artileri yang menunggu. Tak ada kemenangan yang bisa dibeli dengan tetap di sini. Hanya kematian yang dibeli dengan harga penuh dan tak dapat apa-apa.
Ada keberanian dalam melompat keluar parit. Tapi ada keberanian lain, yang lebih sunyi, yang tak pernah diceritakan dalam lagu-lagu perang, keberanian untuk mengakui bahwa tanah tertentu tak sebanding dengan anak-anak yang berdiri di atasnya.
"Kita mundur," kata Bara akhirnya. Suaranya tenang, dan ketenangan itu mengejutkan dirinya sendiri. "Tapi kita tidak lari. Kita mundur dengan kepala dingin. Setiap orang pulang."
Jaya menatapnya, dan di mata tua itu ada sesuatu yang menyerupai kelegaan, dan sesuatu yang menyerupai kebanggaan. "Jaya muda akan tinggal dan mati di sini," katanya nyaris berbisik. "Kau lebih pintar dariku, Nak."
Bara tak punya waktu untuk menanggapi. Ia memanggil Galih dan Bidin, prajurit veteran sinis yang selalu mendengus tapi tak pernah benar-benar pergi. "Bidin, kau yang paling tahu medan belakang. Cari jalur mundur yang terlindung, lewat parit komunikasi lama ke arah Kalimas dalam. Galih, kau bantu yang terluka, satu per satu, jangan ada yang ditinggal."
"Yang tidak bisa jalan?" tanya Bidin datar.
Bara menatapnya. "Kita gendong."
Bidin mendengus, tapi tak membantah. Ia meludah ke lumpur, menyandang senapannya, dan mulai bergerak. Di belakang sikap sinisnya, Bara tahu, ada seseorang yang akan menggendong sampai punggungnya patah sebelum meninggalkan kawan.
Surya menghampiri Bara di tengah kesibukan itu, wajahnya pucat di bawah lumpur. "Tanpa perintah dari batalion," kata sang letnan pelan, "ini bisa disebut meninggalkan posisi. Mereka bisa menyeretmu ke pengadilan militer kalau ada yang mau cari kambing hitam atas kekalahan ini."
Bara menatapnya. Dulu, kalimat itu akan keluar sebagai ancaman dari mulut Surya yang penuh teori akademi. Kini ia keluar sebagai peringatan dari seorang kawan. "Biar mereka seret aku," kata Bara. "Asal yang kuseret pulang lebih banyak dari yang mereka seret ke pengadilan." Surya menatapnya lama, lalu mengangguk, dan tak berkata apa-apa lagi. Ia mengangkat senapannya dan ikut bekerja, dan dalam diam itu Bara tahu sang letnan telah memilih untuk berdiri di pihaknya.
Di seberang sungai, suara musuh mulai terdengar lagi, teriakan dan peluit dan derap yang menyiapkan gelombang berikutnya. Sayap kiri yang jebol berarti waktu mereka tinggal sedikit. Bara berdiri di celah parit, memandang anak-anaknya yang mulai bergerak mundur dalam gelap, dan ia tahu bahwa malam ini akan menjadi ujian terberat dari segala yang pernah Jaya wariskan padanya.
Bukan ujian membunuh. Bukan ujian bertahan. Ujian membawa pulang.