Fajar itu datang seperti semua fajar lain di Lembah Kalimas, kelabu dan basah, dengan kabut yang merayap pelan di atas air sungai. Bara berdiri di sudut parit, punggungnya menempel pada karung pasir yang dingin, menatap garis pepohonan di seberang yang masih hitam. Ia tak tidur. Sejak perbincangan di bawah pohon mati semalam, sejak Jaya menyerahkan segalanya padanya dengan suara yang lebih lembut dari yang pernah ia dengar, Bara tak bisa memejamkan mata. Ada sesuatu yang menggantung di udara pagi itu, sesuatu yang lebih berat dari kabut.
Lalu langit terbelah.
Bukan satu dentuman. Bukan sepuluh. Seluruh ufuk timur menyala sekaligus, garis api panjang yang berkedip seperti gigi raksasa, dan sepersekian detik kemudian suaranya tiba, gelombang demi gelombang yang menghantam dada Bara sampai jantungnya seolah ikut bergetar. Tanah di bawah kakinya melonjak. Karung pasir di atas parit pecah dan menghujani mereka dengan pasir dan kerikil. Bara menjatuhkan diri ke dasar parit, menutup kepala, dan dunia menjadi guruh yang tak putus.
"Tiarap! Tetap rendah!" teriaknya, tapi suaranya tenggelam. Ia bahkan tak yakin ada yang mendengar.
Ini bukan gempuran yang ia kenal. Selama berbulan-bulan di Sektor Tujuh, ia telah belajar membaca artileri musuh, irama serangannya, jeda di antara salvonya. Tapi yang ini tak punya irama. Yang ini adalah kemarahan murni, dituangkan dari langit tanpa hemat, seolah musuh telah menyimpan setiap peluru meriam mereka selama setahun hanya untuk pagi ini. Tanah berguncang begitu lama sampai Bara lupa rasanya tanah yang diam.
Di sampingnya, seorang prajurit muda, Naba namanya, meringkuk dengan mata terpejam rapat, mulutnya komat-kamit. Bara merangkak ke arahnya, menutupi tubuh anak itu dengan tubuhnya sendiri, dan meletakkan tangan di kepalanya, mendorong ke bawah. Gerakan yang sama yang dulu Jaya lakukan padanya. Gerakan yang kini sudah mengakar di tulangnya.
"Aku di sini," teriak Bara ke telinga Naba. "Dengar suaraku. Kau tidak sendirian. Tetap rendah, dan kau hidup."
Sebuah ledakan jatuh begitu dekat sampai udara terasa diisap keluar dari paru-parunya. Dinding parit di kanan mereka runtuh, mengubur sebagian, dan dari balik debu terdengar jeritan. Bara ingin berlari ke sana, tapi ia tahu pelajaran paling pahit dari Jaya: seorang pemimpin yang mati karena lari ke setiap jeritan tak bisa menyelamatkan siapa-siapa. Ia menahan dirinya, menghitung dalam hati, menunggu jeda yang tak kunjung datang.
Jaya tiba-tiba ada di sampingnya, merangkak dengan kaki kanannya yang pincang menyeret di lumpur. Wajah tuanya berlumur tanah, tapi matanya tenang, tenang yang menakutkan, tenang seseorang yang sudah melihat akhir dunia berkali-kali.
"Mereka melunakkan kita," kata Jaya, dekat sekali ke telinga Bara agar terdengar. "Ini bukan serangan. Ini pembuka. Mereka mau meratakan parit ini sebelum infanteri mereka datang. Bisa berjam-jam. Bisa berhari-hari."
"Berapa lama kita bisa bertahan?" Bara berteriak balik.
Jaya tak menjawab langsung. Ia menatap anak-anak muda yang berlindung di sepanjang parit, tubuh-tubuh kecil yang gemetar di bawah hujan besi. "Selama mereka masih bernapas," katanya akhirnya, "kita bertahan. Kau pegang itu. Jangan kau yang lebih dulu putus asa daripada mereka. Mereka membaca wajahmu sekarang, Bara. Setiap detik."
Bara menelan ludah dan mengangguk. Ia menyeka tanah dari wajahnya, lalu memaksa dirinya berdiri sedikit, cukup untuk dilihat, cukup untuk terdengar di sela dentuman.
"Pegang senapan kalian!" teriaknya, dan suaranya, yang ia kira akan pecah, justru keluar mantap. "Cek amunisi! Yang terkubur, gali kawanmu! Kita masih di sini! Kita masih bernapas! Mereka mau kita lari, tapi kita tidak ke mana-mana!"
Beberapa kepala terangkat. Mata-mata ketakutan itu mencari wajahnya, dan menemukan sesuatu di sana yang membuat tangan-tangan yang gemetar kembali mencengkeram baja. Galih, prajurit yang dulu membeku di tembakan pertamanya dan kini sudah jadi lain, merangkak menggali kawannya yang terkubur. Komandan, si kucing tua, entah bagaimana selamat, melesat di sepanjang dasar parit dan menghilang ke dalam liang amunisi, seolah ia pun tahu di mana harus berlindung.
Gempuran itu berlangsung sepanjang pagi, lalu sepanjang siang, tak juga reda. Telinga Bara berdengung sampai ia tak yakin masih bisa mendengar. Ia bergerak di sepanjang parit dari satu prajurit ke prajurit lain, menyentuh bahu, menyebut nama, menjaga mereka tetap di dunia ini. Setiap kali ada yang tumbang, ia menahan diri untuk tak menghitung. Menghitung adalah pekerjaan untuk nanti, untuk malam, untuk buku catatannya.
Saat siang merangkak menuju petang, Bara merangkak di sepanjang parit untuk menghitung yang masih bernapas. Lumpur dan asap melekat di lidahnya, dan setiap kali ia melewati sosok yang tak bergerak ia menahan diri untuk tak berhenti. Galih masih hidup, menggali kawannya yang terkubur dengan tangan telanjang. Naba masih hidup, gemetar tapi mengangguk saat Bara menyentuh bahunya. Beberapa wajah yang ia kenal sejak garis Brangas sudah tak ada di tempatnya, dan lubang itu di dadanya akan ia isi nanti, di malam hari, di buku catatannya. Sekarang ia hanya menyentuh yang hidup dan menyebut nama mereka, agar mereka tahu mereka masih ada, masih dihitung, masih dijaga.
Menjelang senja, dentuman mulai jarang, lalu berhenti. Keheningan yang tiba terasa lebih asing daripada guruh tadi. Bara mengangkat kepala perlahan di atas bibir parit yang sudah tak berbentuk, dan menatap ke seberang Sungai Brangas yang kini berkabut asap.
Di garis pepohonan, di balik tirai senja yang merah, sesuatu mulai bergerak. Banyak. Sangat banyak. Bayangan demi bayangan, gelombang demi gelombang, lebih banyak dari yang pernah ia lihat seumur hidupnya.
Fajar tadi adalah milik mereka, sadar Bara, jantungnya mengeras. Fajar yang sudah lama mereka nanti. Dan kini mereka datang untuk menagihnya.
"Ke posisi," bisik Bara, lalu suaranya naik menggema di sepanjang parit yang hancur. "KE POSISI! Mereka datang!"