Ia berangkat kembali ke garis depan pada subuh yang basah dan dingin, berjalan sendirian sejauh persimpangan, lalu menumpang gerobak suplai yang berderit pelan menuju front. Di belakangnya, Kota Garda dan gereja tua dengan jendela kaca berwarnanya mengecil dalam kabut pagi, membawa serta Wira yang ia tinggalkan di sana—untuk pertama kalinya sejak hari-hari awal di parit Sektor Tujuh, ia melangkah ke arah peluru tanpa anak itu berada di sisinya.
Rasanya seperti meninggalkan sebagian dari tubuhnya sendiri di belakang. Bara duduk di bagian belakang gerobak, di antara peti-peti amunisi dan karung-karung beras, menatap jalan berlumpur yang lambat mundur di belakang roda, dan merasakan kekosongan yang aneh di tempat di mana Wira biasa berada—bahu yang biasa ia tepuk untuk menenangkan, suara yang biasa berkata Bang dengan nada bertanya seorang murid, mata yang selalu mencari arah di wajahnya. Ia telah menjadi Kopral Jaya bagi anak itu, tanpa pernah memintanya. Dan kini ia mengerti, dengan cara yang baru dan tajam, betapa sepi sebenarnya posisi yang dulu ditempati Jaya—betapa berat menjadi tempat orang lain mencari keberanian, sementara kau sendiri kehabisan tempat untuk mencarinya.
Gerobak itu melewati barisan yang bergerak ke arah berlawanan—pasukan baru, gelombang wajib militer yang terbaru, wajah-wajah yang bahkan lebih muda dari Galih dan Naba, mata-mata yang belum pernah melihat seseorang mati di depan mereka. Mereka menatap Bara dan rombongan kecilnya yang compang-camping dengan campuran rasa ingin tahu dan ngeri, mencari di wajah para veteran sebuah jawaban atas pertanyaan yang belum berani mereka ucapkan dengan suara keras: apakah aku akan pulang? Bara menatap balik mereka dan tak menemukan apa pun yang pantas untuk dikatakan. Tak ada kata yang bisa menyiapkan seseorang untuk apa yang menanti di sana. Hanya lumpur yang bisa mengajarkannya, dan lumpur adalah guru yang kejam.
Saat ia tiba kembali di posisi regunya di garis pertahanan, Bidin dan Galih dan Naba dan sisa regu yang selamat dari tonjolan menyambutnya dengan keheningan yang penuh arti, keheningan yang lebih banyak bicara daripada kata. Tak ada yang bertanya tentang Wira dengan suara; mereka bertanya dengan mata, mata yang takut akan jawabannya, dan Bara menjawab dengan satu anggukan kecil—masih hidup, kakinya selamat—dan ia melihat bahu mereka semua turun beberapa senti, beban yang sama yang mereka pikul bersama tanpa pernah ada yang menamainya.
"Kabar dari belakang?" tanya Bidin akhirnya, menyodorkan sebuah kaleng kopi yang sudah dingin dan pahit.
"Mereka mengoperasinya. Kakinya selamat, untuk sekarang. Dia tinggal di rumah sakit lapangan sampai pulih." Bara menerima kaleng itu, meneguk pahitnya yang dingin, dan rasanya seperti pulang. "Dan ofensif musuh tinggal hitungan hari, Bidin. Mungkin kurang. Mereka memajukan meriam di sepanjang front, malam-malam terdengar mesinnya bergerak. Hardi sudah memindahkan semua yang bisa dipindah ke garis Kalimas. Tonjolan itu, semua yang kita bayar di sana—berhasil. Mereka tertipu. Mereka menghabiskan tiga hari menggempur lubang yang kita pertahankan."
Bidin mendengus, asap kopi mengepul tipis di udara dingin. "Jadi tiga hari, dua kawan kita di tanah itu, dan Wira nyaris kehilangan kaki—semua itu cuma untuk membeli waktu buat para perwira menggambar ulang peta mereka."
"Membeli waktu," kata Bara pelan, menatap ke arah front, ke padang luas yang kini terbentang sunyi dalam ketenangan yang menipu, ketenangan yang sudah ia kenali sebagai tarikan napas panjang sebelum sesuatu yang sangat besar. "Itu yang mereka mau. Dan itu yang kita berikan. Sekarang giliran kita memakai waktu itu—untuk diri kita sendiri. Untuk bertahan hidup melewati apa yang akan datang."
Malam itu ia berjalan perlahan menyusuri parit yang baru, dari pos ke pos, menghafal ulang wajah-wajah orang yang dipercayakan padanya, yang baru maupun yang lama. Ia berhenti di tiap pos, bertukar sepatah dua kata yang ringan, menanyakan kabar kaki, kabar perut, kabar rumah, dan kadang—saat ia menemukan seorang prajurit muda yang tangannya gemetar menatap kegelapan—ia meletakkan tangannya di bahu itu, sebentar, diam. Ia tak melakukannya karena ada buku panduan militer yang menyuruhnya. Ia melakukannya karena seseorang dulu pernah melakukannya untuknya, di malam pertamanya yang gelap dan menakutkan, dan kelembutan kecil itu telah menjadi salah satu alasan ia masih hidup untuk meneruskannya kepada orang lain.
Di pojok parit, di bawah sehelai terpal yang menetes-netes air hujan semalam, ia menemukan Komandan—si kucing maskot yang entah dengan sihir apa selalu menemukan jalan kembali ke regu, dari satu posisi ke posisi yang lain, melintasi seluruh kekacauan dan kehancuran front seakan kematian tak punya kuasa sedikit pun atasnya. Bara mengangkat kucing tua itu, dan ia mendengkur di dada Bara, hangat dan tenang dan acuh tak acuh pada seluruh perang umat manusia.
"Kau juga tidak mau pulang, ya," gumam Bara, mengusap kepala kucing itu dengan ibu jarinya. "Atau mungkin kau tahu sesuatu yang kami semua tidak tahu. Bahwa selama masih ada satu saja dari kami yang hidup di lubang ini, masih ada yang harus dijaga. Masih ada alasan untuk bertahan."
Ia menatap ke utara, ke arah dari mana badai itu akan datang. Tanahnya kini kering, retak, menunggu hujan musim semi—hujan yang, ia tahu dengan kepastian yang dingin, akan datang bersama sesuatu yang jauh lebih buruk dari air. Ia membenamkan wajahnya sejenak ke bulu Komandan yang hangat, mengumpulkan apa pun ketenangan yang masih bisa ia rebut dari malam itu, lalu meletakkan kucing itu kembali ke tempatnya yang kering. Ada pekerjaan yang harus dilakukan sebelum langit terbelah, dan tak banyak lagi waktu tersisa untuk mengerjakannya.