Bara tinggal di gereja tua itu semalaman, karena ia tak bisa membawa kakinya pergi, karena meninggalkan Wira terasa seperti melanggar janji yang masih hangat di mulutnya. Ia duduk di lantai batu yang dingin di samping ranjang anak itu, dan menyaksikan dr. Asih bekerja dalam cahaya lampu minyak yang gemetar dan kuning, dan untuk pertama kalinya ia memahami bahwa ada jenis keberanian yang tak pernah disebut dalam laporan perang, tak pernah diberi medali, tak pernah diteriakkan dalam pidato—keberanian orang yang harus memutuskan, berulang-ulang, siapa yang ia coba selamatkan dan siapa yang ia biarkan.
Malam itu sebuah konvoi tiba dari front lain, gerobak demi gerobak yang penuh oleh tubuh-tubuh yang patah, berderit masuk ke halaman gereja sampai larut. Ruang yang sudah penuh sesak menjadi mustahil, tubuh-tubuh berbaring berimpitan di setiap jengkal lantai. Dan Bara menyaksikan dr. Asih berjalan di antara mereka dengan lentera di tangan, berhenti di setiap tikar dan ranjang, dan membuat dalam hitungan beberapa detik keputusan yang ia tahu akan menghantui perempuan itu selama sisa hidupnya.
"Ini," katanya pada mantri Sukma yang mengikutinya dengan buku catatan, suaranya nyaris tanpa nada, "siapkan untuk bedah. Sekarang." Ia melangkah, berhenti di tikar berikutnya, berlutut sejenak, menyentuh leher seorang lelaki. "Yang ini juga, kalau ada meja kosong." Lalu ia berhenti lebih lama di depan seorang prajurit yang dadanya naik-turun dengan susah payah, setiap napas adalah perjuangan yang kalah. Bara melihat bahu dokter itu turun sedikit. "Yang ini—berikan morfin. Buat dia nyaman."
Bara mengerti apa arti kalimat terakhir itu, dan pemahaman itu terasa seperti batu dingin di perutnya. Buat dia nyaman berarti ia tak akan dibedah. Berarti morfin yang langka dan berharga itu, yang seharusnya bisa cukup untuk meredakan sakit dua orang yang punya peluang, akan dipakai bukan untuk menyembuhkan melainkan untuk meringankan jalan seseorang menuju kematian yang sudah pasti. Karena di sini, di tempat di mana segalanya kurang—obat kurang, perban kurang, tangan kurang, meja kurang, waktu paling kurang dari semuanya—menyelamatkan satu nyawa sering berarti melepaskan nyawa yang lain.
"Bagaimana Bapak memilih?" Bara mendengar dirinya bertanya, ketika dr. Asih akhirnya duduk sejenak di dekatnya menjelang dini hari, menyandarkan punggungnya yang lelah ke tiang batu yang dingin, kedua tangannya gemetar oleh keletihan yang tak mau pergi sekeras apa pun ia mengusirnya.
Dr. Asih menatap nyala lentera untuk waktu yang lama sebelum menjawab. "Aku tak memilih siapa yang hidup," katanya pelan akhirnya. "Aku terlalu sombong dulu, ketika baru datang ke front ini, mengira aku punya kuasa sebesar itu. Aku belajar dengan cara yang menyakitkan bahwa aku tidak. Yang kupilih adalah ke mana sepasang tangan yang sedikit ini bisa berbuat paling banyak. Yang mungkin selamat dengan operasi, kuoperasi. Yang pasti mati apa pun yang kulakukan, kuberi morfin supaya ia tak pergi dalam ketakutan dan kesakitan, supaya wajah terakhirnya bukan wajah yang menjerit. Itu bukan keadilan, Sersan. Tak ada keadilan di ruangan ini. Itu hanya aritmetika belas kasih—satu-satunya aritmetika yang masih bisa kupertanggungjawabkan pada diriku saat aku mencoba tidur."
Aritmetika. Kata yang persis sama dengan yang dipakai Mayor Hardi di atas peta yang bersih, di gudang yang berbau garam. Dan Bara menyadari, dengan getaran yang menjalar ke seluruh tubuhnya, betapa tipis garis yang memisahkan Hardi yang menghitung nyawa demi kemenangan dari Asih yang menghitung nyawa demi belas kasih—dan betapa segala-galanya garis tipis itu berarti. Yang satu menghitung untuk merebut sesuatu, untuk menang, untuk namanya sendiri. Yang lain menghitung karena memang tak ada cukup untuk semua orang, dan menolak berpaling dari yang harus ia lepaskan, menanggung setiap nama sebagai luka di dalam dirinya sendiri.
"Wira?" tanya Bara, dan ia membenci betapa kecil dan rapuh suaranya keluar.
Dr. Asih menatapnya lama, menimbang sesuatu. "Pahanya bisa kuselamatkan kalau infeksinya belum menyentuh tulang. Kalau sudah sampai tulang—" ia tak menyelesaikan kalimat itu, tapi matanya menyelesaikannya. "Aku akan mengoperasinya besok pagi, paling awal yang bisa, sebelum aku terlalu lelah untuk tangan yang presisi. Itu yang bisa kuberikan padamu. Bukan harapan. Cuma usaha."
Pagi datang dengan cahaya kaca berwarna yang sama, merah dan biru menumpah di atas wajah-wajah yang menderita. Bara menunggu di luar tirai operasi sepanjang pagi, menggenggam bungkusan kunyit pemberian ibunya yang sudah lama kering dan rapuh di sakunya, berdoa pada apa pun yang mungkin masih bersedia mendengar dari tempat seperti ini. Saat tirai akhirnya tersibak dan dr. Asih melangkah keluar, apronnya basah merah segar, wajahnya kosong oleh kelelahan, ia tak langsung bicara—dan dalam keheningan beberapa detik itu Bara merasa seluruh dunia menggantung di ujung benang.
"Kakinya kuselamatkan," kata dr. Asih akhirnya, menyeka dahi dengan punggung tangan yang gemetar. "Untuk sekarang. Sisanya tergantung dia, dan keberuntungan, dan hal-hal yang tak bisa kupotong atau kujahit dengan pisau. Dia muda. Itu membantu." Ia menatap Bara dengan mata yang tiba-tiba terlihat lebih tua dari usianya. "Pergilah ke garis depanmu, Sersan. Aku tak bisa menahannya tetap hidup lebih kuat hanya karena kau berdiri menunggu di sini. Dan ada orang-orang lain yang menunggu kau menjaga mereka, di tempat yang lebih berbahaya dari ruangan ini."
Bara menatap tirai yang menutup kembali, di balik mana Wira tertidur dengan kaki yang masih utuh menempel di tubuhnya, lalu ia menunduk pada dr. Asih—lebih dalam dari yang pernah ia tunduk pada perwira mana pun yang memakai bintang. Karena ia kini tahu, dengan pasti, siapa sebenarnya yang memenangkan perang melawan kematian di tempat seperti ini, dan mereka tak pernah memakai bintang di bahunya, tak pernah disebut namanya dalam kemenangan.