Hari-hari terakhir sebelum ofensif punya rasa yang aneh di lidah, manis dan mengerikan secara bersamaan, seperti buah yang terlalu matang tepat di ambang busuk. Tak ada lagi yang bisa dikerjakan untuk persiapan; parit sudah digali sedalam yang sanggup digali tubuh-tubuh yang lelah, karung pasir sudah ditumpuk, amunisi sudah dibagi rata sampai butir terakhir, posisi tiap orang sudah dihafal sampai bisa dijalani dengan mata tertutup. Yang tersisa hanyalah menunggu. Dan menunggu, Bara tahu dari pengalaman pahit, adalah pekerjaan yang paling berat dari semua pekerjaan perang—lebih berat dari menggali, lebih berat kadang dari bertempur, karena dalam menunggu, pikiran punya terlalu banyak waktu untuk menyiksa dirinya sendiri.
Bara mengenali dengan persis apa yang terjadi pada orang-orangnya di malam-malam terakhir itu, karena ia pernah berada di sisi lain dari semua itu, dulu, sebelum Bukit 88. Mereka mulai menulis. Di sudut-sudut parit yang terlindung, di bawah cahaya temaram lilin yang dilindungi telapak tangan dari angin, prajurit-prajurit membungkuk di atas kertas yang kumal dan basah, menulis surat-surat yang tak akan mereka kirim sampai mereka tahu apakah mereka masih hidup—atau, lebih jujurnya, surat-surat yang mereka titipkan diam-diam pada kawan agar dikirim seandainya mereka tidak. Galih menulis dengan lidah terjulur sedikit di sudut bibir, seperti anak sekolah yang sedang mengerjakan soal sulit. Naba menulis satu halaman penuh, lalu merobeknya pelan-pelan menjadi serpihan, lalu mulai menulis lagi dari awal. Bidin tidak menulis sama sekali; ia tak punya seorang pun di dunia ini untuk dituliskan, dan keheningannya itu sendiri adalah sepucuk surat tersendiri, surat yang paling sunyi dari semuanya.
Bara teringat malam sebelum Bukit 88, ketika Kopral Jaya menyerahkan foto kecil istri dan putrinya ke tangannya—simpan ini, kalau aku tidak kembali, biar ada yang ingat mereka. Ia mengerti sekarang, lebih dalam dari sebelumnya, apa yang sebenarnya dirasakan Jaya di malam itu. Bukan firasat kematian yang dingin. Tapi keinginan manusiawi yang paling tua: keinginan untuk meninggalkan sesuatu yang lebih tahan lama daripada daging yang fana, sesuatu yang menjadi bukti bahwa ia pernah ada di dunia ini, pernah mencintai seseorang, pernah punya nama yang dipanggil dengan sayang.
Maka Bara melakukan apa yang dulu dilakukan Jaya untuknya dan untuk anak-anak yang lain.
Ia memanggil mereka satu per satu, di malam terakhir sebelum tanda-tanda badai semakin jelas, ke pojok parit yang agak terlindung dari pandangan dan angin. Pada Galih ia menyerahkan kompasnya yang tua, yang jarumnya sedikit goyah tapi masih jujur. "Supaya kau selalu tahu di mana arah selatan," katanya, menutup jari Galih di atas logam dingin itu. "Arah pulang. Jangan sampai kau lupa ke arah mana rumahmu, apa pun yang terjadi." Pada Naba ia memberikan pisau lipatnya, yang gagangnya sudah halus oleh tangan. "Bukan untuk membunuh," kata Bara, dan ada senyum tipis di bibirnya. "Untuk mengupas mangga waktu kau sudah duduk di beranda rumahmu nanti, di musim panen, dengan kaki diangkat dan perang ini cuma jadi cerita buruk yang setengah kau lupakan." Pada Bidin ia tak memberikan benda apa pun, karena Bidin tak akan sudi menerima benda, tak akan mengizinkan dirinya percaya pada warisan; ia hanya duduk di sampingnya dalam diam yang panjang, berbagi sebatang rokok terakhir yang dinyalakan bergantian, dan itu cukup, lebih dari cukup, di antara dua lelaki yang sudah saling mengenal sampai ke dasar tanpa perlu sepatah kata pun.
"Kau ini bicara seperti orang yang sudah siap mati, Sersan," kata Bidin akhirnya, menghembuskan asap tipis ke langit malam yang tanpa bintang, tertutup awan tebal.
"Tidak," kata Bara, menatap bara rokok yang berpijar merah di kegelapan. "Aku bicara seperti orang yang mau memastikan, kalau salah satu dari kita memang harus mati nanti, yang lain akan ingat bahwa dia pernah hidup. Bahwa dia bukan cuma angka yang dicoret dari daftar. Itu bedanya, Bidin. Jaya yang mengajariku itu. Selama kita masih ingat namanya, dia belum benar-benar mati."
Ia mengeluarkan buku catatannya yang kumal—buku tempat ia mencatat nama-nama yang gugur, satu demi satu, sejak Bukit 88, agar tak ada satu pun di antara mereka yang luruh menjadi sekadar angka dalam laporan batalion. Sapto. Reno. Pak Darmo. Tio. Dan di bawahnya, nama-nama yang datang setelahnya, nama-nama anak muda yang ia pimpin dan tak bisa ia selamatkan, nama demi nama dalam tulisan tangannya yang makin lama makin rapi karena ia menuliskannya dengan hati-hati, dengan hormat. Ia membacanya pelan, hampir berbisik, di bawah napasnya, dan orang-orangnya yang masih terjaga mendengarkan dalam diam yang khusyuk. Untuk sesaat, parit yang dingin dan berlumpur itu terasa seperti tempat ibadah—bukan untuk dewa mana pun yang tinggi dan jauh, tapi untuk manusia, untuk yang fana, untuk mereka yang cukup berani untuk takut dan tetap melangkah maju.
Saat ia menutup buku itu dan menyimpannya kembali di saku dadanya, di samping foto keluarga Jaya, langit di utara berkedip sekali—cahaya jauh yang tak bersuara, seperti petir yang lupa membawa serta gunturnya. Tapi itu bukan petir, dan Bara tahu itu di seluruh tulangnya. Itu kilatan moncong meriam, jauh sekali di kegelapan, musuh menguji jarak, mengintai posisi, menarik napas terakhir sebelum menyerang. Ia berdiri tegak dan menatapnya, dan ia merasakan udara di sekitarnya berubah, tekanannya seolah turun, sesuatu yang sangat besar dan sangat berat menumpuk di balik cakrawala utara seperti awan badai yang terlalu sarat untuk ditahan langit lebih lama lagi.
"Tidurlah selagi masih bisa," katanya pada mereka, suaranya lembut sekarang, suara seorang penjaga. "Besok, atau lusa, atau hari setelahnya—badai itu akan datang. Dan saat ia datang, kita akan menyambutnya bersama-sama. Sebagai saudara. Seperti yang selalu kita lakukan sejak awal."
Tapi ia sendiri tidak tidur malam itu. Ia tetap berjaga di tepi parit, menatap utara, menunggu badai yang ia tahu sedang menarik napas panjang di kejauhan. Dan ia tahu bahwa sebelum ia menghadapinya, ada satu percakapan lagi yang masih harus ia jalani—satu suara yang masih harus ia dengar, satu tangan tua yang masih harus menyentuh bahunya, di bawah sebatang pohon mati di tepi parit, sebelum dunia mereka terbelah dua.