Rumah sakit lapangan itu dulunya sebuah gereja tua di pinggir Kota Garda, dan Tuhan, kalau Ia masih sempat singgah di sana, pasti sudah lama memalingkan wajah-Nya. Bara membawa Wira masuk dengan tandu, dan bau itu menamparnya keras di ambang pintu—bau yang lebih buruk dari parit mana pun, lebih buruk dari padang yang penuh mayat di bawah matahari: bau daging yang membusuk hidup-hidup, karbol yang gagal menutupinya, darah lama yang mengering di lantai batu, dan keputusasaan yang sudah mengental menjadi sesuatu yang hampir bisa disentuh.
Di mana dulu berbaris bangku-bangku jemaat, kini berjajar ranjang besi dan tikar jerami dan tubuh-tubuh yang dibaringkan langsung di lantai batu yang dingin karena tak ada lagi tempat. Cahaya jatuh dari jendela-jendela kaca berwarna yang ajaibnya masih utuh, belum pecah oleh getaran meriam, menebar warna merah dan biru dan emas ke atas wajah-wajah yang menderita di bawahnya, seakan mengejek mereka dengan keindahan yang tak punya tempat lagi di dunia ini. Seorang lelaki tanpa kedua kaki menatap langit-langit dengan mata yang sudah berhenti melihat. Seorang lain tertawa pelan dan terus-menerus pada sesuatu yang hanya bisa dilihatnya sendiri, tawa yang lebih mengerikan dari jeritan mana pun. Seorang prajurit yang masih sangat muda memanggil-manggil ibunya dengan suara yang membuat Bara harus menggigit bagian dalam pipinya sampai terasa darah.
Inilah ongkos perang dalam wujudnya yang lain, ia menyadari sambil berdiri di antara mereka. Di garis depan, ongkos itu dibayar cepat dan hampir bersih—sebutir peluru, satu detak yang berhenti, lalu nama yang ditambahkan ke buku catatannya. Tapi di sini, ongkos itu dibayar lambat, kotor, berhari-hari, dan punya wajah yang harus kau pandang setiap kali kau lewat. Di garis depan kau bisa berpaling. Di sini, penderitaan tak mengizinkanmu berpaling.
Wira diambil dari tangannya oleh dua orang dengan apron yang berlumur cokelat tua, dibawa ke balik tirai, dan Bara dibiarkan berdiri sendirian di tengah penderitaan itu, merasa lebih tak berdaya daripada di tengah gempuran artileri mana pun yang pernah ia alami. Di sini tak ada yang bisa ia tembak, tak ada perintah yang bisa ia teriakkan, tak ada tandu yang bisa ia angkat. Hanya menunggu.
"Sersan Bara." Suara itu, ia mengenalinya sebelum ia sempat berbalik.
Kopral Jaya berdiri bersandar pada sebatang tongkat kayu, kaki kirinya kaku dan tak mau menekuk lagi—luka Bukit 88 yang telah membuatnya pincang seumur sisa hidupnya. Wajahnya lebih tua dari yang seharusnya untuk usianya, lebih tirus, kulitnya seperti kertas tua, tapi matanya masih mata yang sama yang dulu menghibur Bara di lumpur pertamanya, di malam ketika seorang anak petani menangis setelah membunuh untuk pertama kali. Sang kopral kini bertugas di garis belakang, instruktur bagi prajurit yang baru, penasihat, bayangan dari dirinya yang dulu memimpin serangan di garis terdepan. Reuni mereka di antara bau gangren itu terasa pahit dan manis sekaligus, seperti segala sesuatu yang berharga di tempat ini.
"Pak," kata Bara, dan untuk sesaat ia bukan lagi seorang sersan yang menanggung belasan nyawa di pundaknya. Ia kembali menjadi anak petani yang menangis di parit, dan ia membiarkan dirinya, untuk satu detik yang berharga dan rapuh, ditopang oleh kehadiran lelaki tua yang telah membentuknya itu.
Jaya menatap ke arah tirai tempat Wira dibawa pergi. "Anak itu kuat," katanya pelan. "Aku ingat dia di Sektor Tujuh. Sekarang lihat, masih bernapas setelah semua itu. Kau mengajarinya dengan baik, Nak."
"Saya mengajarinya untuk takut," kata Bara getir, suaranya nyaris pecah. "Dan untuk maju walau takut. Dan lihat ke mana itu membawanya. Ke ranjang di gereja tua yang baunya seperti kematian."
"Tidak." Jaya meletakkan tangannya yang keriput di bahu Bara, tangan yang sama yang dulu pernah meletakkan dirinya di atas kepala Bara di malam pertama, gerakan yang telah menjadi bahasa di antara mereka. "Kau mengajarinya untuk bertahan hidup cukup lama sampai bisa dibawa ke sini, ke tempat di mana masih ada secercah harapan. Tanpamu, ia sudah jadi nama di buku catatanmu dua hari lalu, tergeletak di tonjolan tanah itu untuk gagak. Jangan kau cabut kelegaan itu dari dirimu sendiri, Bara. Tempat ini sudah cukup banyak mencuri dari kita. Jangan kau ikut mencuri dari dirimu."
Seorang perempuan menyibak tirai dari ruang dalam—dr. Asih, lengannya berlumur darah sampai siku, rambutnya lepas berantakan dari ikatan, dan di wajahnya ada kelelahan yang melampaui kelelahan tubuh, kelelahan jiwa yang sudah terlalu sering dipaksa memilih siapa yang hidup dan siapa yang dibiarkan pergi. Ia menatap Bara sekilas, lalu Jaya, lalu deretan tubuh yang menunggu dan merintih di lantai.
"Yang dari tonjolan?" tanyanya pada Bara, suaranya datar oleh efisiensi yang terdengar menyakitkan justru karena ketiadaan rasanya. "Yang paha kanannya membusuk?"
"Wira," kata Bara, dan ia menekankan kata itu, hampir keras kepala. "Namanya Wira. Tujuh belas tahun."
Sesuatu bergerak sekejap di mata dokter yang lelah itu—mungkin sedikit kepedihan, karena setiap nama yang ia dengar membuat pekerjaannya yang mustahil menjadi sedikit lebih berat untuk dipikul. "Aku akan melihatnya begitu aku bisa," katanya akhirnya. "Tapi aku tak bisa berjanji apa-apa padamu, Sersan. Aku sudah berhenti berjanji sejak musim hujan yang lalu."
Lalu ia berbalik, kembali masuk ke balik tirai, ke dunia darah dan pisau dan pilihan-pilihan yang tak satu pun di antaranya adil. Dan Bara berdiri di antara cahaya kaca berwarna dan bau gangren itu, menyadari dengan getir bahwa ia telah membawa Wira keluar dari satu medan perang hanya untuk menyerahkannya ke medan perang yang lain—medan yang ini tak punya peluru dan tak punya garis, tapi sama mematikannya, dan jauh lebih sunyi.