Pada pagi hari ketiga, ketika kabut masih menggantung rendah di atas padang yang penuh mayat, perintah datang lewat seorang kurir yang nyaris merangkak ke tonjolan itu, wajahnya kelabu oleh ketakutan menyeberangi tanah terbuka: mundur. Batalion sudah cukup punya waktu. Mereka telah memainkan peran umpan dengan baik—terlalu baik, kata kurir itu dengan suara gemetar, perwira di markas bahkan terkejut bahwa masih ada yang hidup untuk menerima perintah mundur, sudah mereka coret regu ini dari daftar yang masih bernapas.
Bara menghitung orang-orangnya saat mereka bersiap meninggalkan lubang yang telah menahan mereka selama tiga hari tiga malam. Mereka berangkat belasan; mereka akan pulang dengan sembilan yang masih bisa berjalan sendiri, dua yang harus dipapah di antara bahu kawan, dan satu yang harus ditandu. Yang ditandu itu Wira.
Anak itu sudah dua malam melawan demam yang naik dan turun seperti pasang. Luka di pahanya, betapapun keras Bara menekannya dan membalutnya dengan kain yang dirobek dari baju mereka semua, telah membusuk; pinggirnya merah marah dan panas saat disentuh ujung jari, dan baunya—Bara mengenali bau itu, bau yang sama yang dulu menggantung di sekitar luka-luka yang tak tertolong. Setiap kali tandu darurat itu terguncang di tanah yang tak rata, Wira mengerang dari kedalaman tidur yang bukan tidur, dari tempat antara sadar dan tiada. Mereka membuat tandu dari dua batang jati mati dan dua jas hujan yang diikat, persis seperti tandu kawat yang dulu menyelamatkan nyawa Kopral Jaya di Bukit 88, dan Bara mengambil ujung depannya sendiri, menolak menyerahkannya pada siapa pun.
"Lewat jalur sungai kering," kata Bidin, menunjuk dengan dagu ke arah parit alam yang berkelok di antara tanah. "Lebih jauh, kakimu bisa copot, tapi tertutup dari pandangan. Lewat padang, kita disabit penembak jitu sebelum sampai setengah jalan."
Perjalanan mundur itu menjadi pertempuran tersendiri—pertempuran tanpa peluru, melawan jarak, melawan kelelahan yang merobek otot, melawan waktu yang menggerogoti nyawa di atas tandu seperti tikus menggerogoti tali. Mereka bergerak menunduk di sepanjang dasar sungai yang sudah lama kering, batu-batunya yang licin menggelincirkan kaki, lumpur lamanya yang masih lembap di bawah mengisap sepatu bot mereka setiap langkah. Dua kali mereka harus mendekam diam, menahan napas, di balik tebing rendah sementara patroli musuh lewat di atas mereka, begitu dekat hingga Bara bisa mendengar percakapan mereka dalam bahasa yang tak ia mengerti tapi nada lelahnya ia kenali. Dan dua kali ia menutup mulut Wira dengan telapak tangannya agar erangan demam anak itu tak mengkhianati mereka semua kepada maut yang berjalan di atas kepala.
"Tinggalkan dia, Bang." Suara itu datang dari Naba, prajurit baru, wajahnya kelabu pucat oleh ketakutan dan kelelahan yang menumpuk. Ia tak bermaksud kejam; Bara tahu itu dari getar suaranya. Ia hanya mengucapkan apa yang dihitung oleh tubuh yang terlalu lelah dan terlalu takut, aritmetika dingin yang berbisik di kepala setiap orang yang putus asa. "Kalau kita terus bawa tandu sepelan ini, kita semua bisa ketahuan. Kita semua bisa mati di sungai ini. Satu nyawa ditukar sepuluh—itu masuk akal, Bang, itu—"
"Tidak." Bara tidak mengeraskan suara. Ia hanya berhenti melangkah, meletakkan ujung tandu dengan hati-hati di atas batu yang rata, dan menatap Naba sampai anak itu berpaling, tak sanggup menahan tatapan itu. "Di tempat ini, begitu kita mulai menghitung nyawa seperti menghitung karung beras, kita sudah kalah. Bukan kalah dari musuh. Kalah dari diri kita sendiri. Dari satu-satunya bagian dari diri kita yang masih layak dibawa pulang." Ia menarik napas. "Aku pernah dibawa pulang oleh orang yang seharusnya, menurut hitungan yang masuk akal, meninggalkanku. Kita semua di sini pernah diselamatkan oleh seseorang yang menolak berhitung. Dan selama aku masih bisa mengangkat ujung tandu ini, tak ada satu pun dari kalian yang kutinggalkan di belakang. Itu janji, bukan hitungan."
Ia teringat Kopral Jaya yang merangkak ke tanah tak bertuan di bawah todongan penembak jitu, hanya demi mengambil buku puisi Reno yang sudah mati. Ia teringat dirinya sendiri menyeret Wira yang masih bocah dari bawah hujan peluru, dulu, di Sektor Tujuh, di kehidupan yang lain. Ada utang yang tak pernah bisa dilunasi di tempat ini—utang kelembutan, yang satu-satunya cara membayarnya adalah dengan terus meneruskannya, dari satu tangan ke tangan berikutnya, tanpa akhir.
Naba menunduk dalam-dalam. Lalu, tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah maju dan mengambil ujung tandu yang sebelah, menggantikan tangan Galih yang sudah gemetar kelelahan, dan menatap Bara sekilas dengan mata yang berbeda dari sebelumnya—mata yang baru saja diajari sesuatu yang takkan ia lupakan.
Mereka tiba di garis belakang saat matahari mulai turun condong ke barat, dan Bara hampir tak percaya kaki mereka masih membawa mereka semua. Wira masih bernapas—dangkal, cepat, terlalu cepat, tapi bernapas. Seorang mantri lapangan menghampiri tandu, membuka balutan yang sudah hitam oleh darah kering, dan wajahnya mengeras dengan cara yang membuat dada Bara membeku menjadi es.
"Harus dibawa ke rumah sakit lapangan. Sekarang juga," kata mantri itu, suaranya datar oleh terlalu sering mengatakan hal yang sama. "Lebih cepat dari sekarang, kalau itu mungkin. Setiap jam mengambil bagian dari kakinya. Mungkin lebih dari kakinya."
Bara tak melepaskan ujung tandu, jari-jarinya membeku di kayunya. Ia menunduk menatap wajah Wira yang pucat dan basah, anak yang dulu berbisik aku takut di parit Sektor Tujuh, dan ia berbisik balik, kata-kata yang sama persis yang dulu diberikan padanya oleh tangan yang lain di malam yang lain: "Bertahan. Aku ada di sebelahmu. Kita belum selesai, kau dengar? Kita belum selesai."