Bulan tak terbit malam itu. Awan tebal menutup langit dari ujung ke ujung, dan kegelapan yang turun ke tonjolan tanah itu begitu pekat hingga Bara nyaris tak bisa melihat tangannya sendiri ketika ia angkat di depan wajah. Ia tahu apa arti malam seperti ini bagi musuh yang sudah belajar mahal sepanjang hari. Mereka tak akan datang lagi dalam barisan terbuka untuk disabit senapan mesin di siang bolong. Mereka akan datang merangkak, dalam diam, satu per satu dan dua per dua, memanfaatkan kegelapan sebagai perisai yang lebih baik dari baja apa pun.
Ia menyebar perintah berbisik di sepanjang parit, dari mulut ke telinga, dari satu pos ke pos berikutnya: jangan menembak kecuali kau merasakan napasnya di wajahmu. Tembakan di kegelapan hanya akan menandai posisi mereka tanpa mengenai apa pun, kilatan moncongnya menjadi undangan bagi maut. Malam ini bukan milik peluru. Malam ini milik pisau dan tangan dan sekop yang sudah diasah tepinya menjadi tajam.
Mereka menunggu. Waktu kehilangan bentuknya di kegelapan, meregang dan menyusut tanpa aturan. Bara berbaring dengan pipi menempel ke tanah yang dingin dan lembap, mendengarkan dengan seluruh tubuhnya—angin yang menggesek di antara batang-batang jati mati, gemerisik tikus yang berburu di antara mayat-mayat siang tadi, detak jantungnya sendiri yang terdengar terlalu keras di telinganya. Galih di sebelahnya bernapas terlalu cepat, terlalu pendek; Bara menyentuh pergelangannya, dan denyut nadi anak itu menggila di bawah jarinya seperti burung yang terjebak. Tetap rendah, ia menekan dengan isyarat tangan di lengan Galih. Tetap diam. Aku di sini.
Lalu ia menciumnya. Bau yang salah, bau yang asing di antara bau-bau yang sudah ia hafal. Keringat yang bukan milik orang-orangnya, kulit dan kain dan minyak senjata yang berbeda, samar tapi nyata di udara malam yang diam. Dan suara—nyaris bukan suara, lebih merupakan ketiadaan suara yang bergerak—gesekan halus kain di tanah, beberapa langkah di depan bibir parit.
Mereka di sini.
Yang terjadi setelahnya bukan pertempuran seperti yang Bara kenal di bawah matahari. Tak ada garis, tak ada jarak, tak ada padang yang memisahkan kawan dan lawan menjadi dua warna yang jelas. Sebuah sosok melompat ke dalam parit tepat di sebelah kanannya, jatuh dari kegelapan tanpa peringatan, dan dunia mengerucut menjadi gulat di lumpur—dengkuran tertahan, sikut yang menghantam, lutut yang menekan, jari-jari yang mencari leher dan mata. Bara bergerak sebelum ia sempat berpikir, tubuhnya mengambil alih dari pikirannya yang membeku, dan ketika ia kembali sadar pada dirinya sendiri, sosok itu sudah diam tak bergerak di bawahnya, dan tangannya masih mencengkeram gagang pisau yang basah dan hangat.
Ia tidak melihat wajahnya dalam gelap. Itu lebih baik, dan itu jauh lebih buruk. Karena tanpa wajah, sosok itu bisa siapa saja—bisa serdadu muda yang dulu ia beri air dan roti di kawat berduri, bisa anak petani yang dipanggil dari ladangnya seperti dirinya sendiri, bisa seseorang yang punya ibu dan bungkusan bekal di sakunya dan janji untuk pulang yang takkan pernah ia tepati. Tanpa wajah, sosok itu menjadi semua musuh sekaligus, menjadi seluruh kemanusiaan yang ditakdirkan saling membunuh di kegelapan ini, dan Bara membunuh mereka semua dengan satu gerakan yang terlatih.
Di sepanjang parit, neraka kecil yang sama berlangsung dalam kepingan-kepingan suara. Teriakan tertahan, bunyi tumpul benda keras menghantam tubuh, doa yang terputus di tengah kata, napas terakhir yang dihembuskan ke tanah. Bara bergerak dari satu titik ke titik lain dengan pisaunya, menarik orang-orangnya keluar dari cengkeraman, menusuk, memukul dengan gagang senapan, dan membenci setiap detik dari semuanya dengan benci yang tak punya tempat untuk pergi. Saat ia menemukan Bidin tengah mencekik seorang infiltran sampai diam dengan kedua tangannya, sang veteran menengadah dan menatapnya dengan mata yang kosong dan pucat di kegelapan. "Ini," desah Bidin, napasnya tercekat, "bagian yang tak pernah mereka ceritakan di poster wajib militer."
Menjelang dini hari, serangan itu mereda. Musuh yang menyusup, yang masih hidup, menarik diri kembali ke kegelapan dari mana mereka datang, meninggalkan kawan-kawan mereka di dasar parit milik Bara. Ia duduk bersandar di dinding parit yang dingin, dan tangannya gemetar sekarang—baru sekarang, ketika semua sudah usai dan tubuhnya mengizinkan ketakutan kembali—dan ia menatap bentuk gelap di kakinya yang tak akan pernah lagi melangkah ke mana pun di dunia ini.
Saat fajar pucat pertama menyentuh tepi langit di timur, mengusir kegelapan dengan enggan, Bara memaksa dirinya melihat wajah orang yang ia bunuh dalam gulat pertama itu. Anak muda. Hampir kanak-kanak, pipinya masih halus, belum sempat ditumbuhi janggut lelaki. Dari saku dadanya terjatuh selembar kertas terlipat—dan saat Bara membukanya dengan jari yang gemetar, ia melihat coretan tangan seorang anak kecil, gambar rumah sederhana dengan matahari di sudut atasnya, seperti yang digambar anak-anak di seluruh dunia, di setiap negeri, di setiap sisi setiap perang.
Bara menutup mata anak itu dengan dua jarinya, perlahan, seperti yang sudah terlalu sering ia lakukan. Ia tak tahu namanya, dan tak akan pernah tahu. Tapi ia akan mengingat tangannya yang dingin dan gambar matahari di sudut kertas itu, dan ia tahu, dengan kepastian yang menggetarkan seluruh tulangnya, bahwa beban semacam ini tak pernah benar-benar bisa diletakkan di mana pun—hanya bisa dibawa, terus dan terus, sampai ke mana pun ia pulang nanti, kalau ia pulang.