Gempuran pendahuluan jatuh seperti langit yang runtuh berkeping-keping. Bara menelungkup di dasar parit yang dangkal sementara dunia di atasnya pecah, hancur, terlempar; tanah melompat di sekelilingnya, batang-batang jati mati patah dan beterbangan seperti tusuk gigi raksasa, dan udara dipenuhi bau belerang dan tanah yang terbakar. Setiap ledakan menampar dadanya dari dalam, mengguncang giginya, dan ia menghitung—satu napas, dua, tiga—seperti yang dulu diajarkan Kopral Jaya, agar pikirannya tetap punya pegangan di tengah kekacauan yang ingin menelannya bulat-bulat. Di sebelahnya, Galih meringkuk dengan tangan menutup telinga, mulutnya bergerak dalam doa yang tak terdengar, dan Bara menjangkau dan menggenggam pergelangan anak itu, sebuah pegangan kecil di tengah dunia yang lepas dari porosnya.
Ketika tembakan artileri akhirnya bergeser ke belakang, mencari posisi cadangan yang tak ada, Bara tahu apa yang menyusul. Ia bangkit setengah, mengintip lewat celah karung pasir, dan melihatnya: garis-garis kelabu bergerak melintasi padang, ratusan sosok merunduk maju dalam barisan yang rapi dan mengerikan, bayonet mereka berkilat pucat di bawah langit yang muram.
"Tahan tembakan!" teriaknya, suaranya nyaris tenggelam di telinganya sendiri yang berdenging. "Tunggu mereka di patok! Tunggu sampai patok terjauh! Tunggu!"
Mereka telah menancapkan patok-patok kayu di padang malam sebelumnya, penanda jarak yang dihitung Bara dengan cermat. Saat sosok pertama melewati patok terjauh, ia berteriak, dan tonjolan tanah itu meledak dengan tembakan. Senapan mesin mereka menggeram dari titik tinggi, menyapu ke kiri dan kanan, dan garis kelabu pertama itu tersentak dan rebah seperti gandum dipotong angin badai. Bara menembak, mengokang, menembak lagi, dan ia tak lagi menangis seperti dulu di lumpur pertamanya, di kehidupan yang lain; tangannya bekerja sendiri, dingin dan tepat seperti mesin, dan hanya jauh di dalam dirinya ada satu bagian kecil yang masih ngilu setiap kali sebuah sosok di seberang padang berhenti bergerak selamanya.
Mereka berpindah, persis seperti rencana—menembak dari satu titik, lalu merangkak cepat dan rendah ke titik lain, menembak lagi, hingga musuh tak bisa memastikan dari mana datangnya kematian, hingga padang itu seakan dipenuhi seratus penembak alih-alih belasan yang lelah. Bara berlari membungkuk di sepanjang parit, dari pos ke pos, meneriakkan perintah, menarik kerah orang yang membeku, menepuk bahu orang yang gemetar, dan setiap kali ia melewati Galih, anak itu masih di sana, masih menembak.
"Aku kena satu, Bang!" teriak Galih, prajurit baru yang dulu membeku total dalam baku tembak pertamanya, suaranya pecah antara teror dan sesuatu yang menyerupai kebanggaan yang mengerikan, kebanggaan yang Bara tahu akan menghantui anak itu nanti, di malam-malam yang sunyi. Bara tak punya waktu menjawab dengan kata; ia hanya menepuk bahu Galih sekali, keras, sebuah isyarat yang berarti tetap hidup, dan terus bergerak.
Gelombang pertama patah, menyurut ke kejauhan meninggalkan sosok-sosok di tanah. Lalu gelombang kedua datang, lebih dekat, lebih marah, didorong oleh komandan-komandan yang juga membaca peta yang salah.
Amunisi mereka menipis. Bara mendengarnya dalam jeda-jeda yang makin panjang antar tembakan, dalam suara orang-orangnya yang berteriak meminta isian, dalam bunyi pelatuk yang ditarik tanpa hasil. Dua peti yang dibawa Surya nyaris habis. Sebuah mortir musuh menemukan jarak setelah berkali-kali meleset, dan ledakan ketiganya jatuh tepat di bibir parit di mana Wira berlindung.
Bara melihatnya seolah waktu mengental menjadi sirup—tanah terangkat dalam kepulan hitam, tubuh Wira terlempar ke samping seperti boneka kain, senapannya terlepas berputar di udara. "WIRA!" Ia merangkak melintasi parit secepat tubuhnya bisa membawanya, peluru memercik di tepi lubang tepat di atas kepalanya, tanah berhamburan ke matanya, dan ia menemukan anak itu telungkup, punggung dan paha kanannya berlumur darah yang menghitam, mulutnya membuka-tutup tanpa suara seperti ikan di darat.
"Mantri! MANTRI!" teriak Bara, meski ia tahu—tak ada mantri di tonjolan ini. Tak ada siapa-siapa kecuali mereka, di lubang yang dikelilingi kekosongan di peta Hardi. Bara merobek lengan bajunya sendiri dengan gigi dan tangan, menekan luka di paha Wira sekuat seluruh tenaganya, dan anak itu menjerit—jeritan yang baik, jeritan yang berarti masih ada nyawa di dalamnya, masih ada api yang menolak padam.
"Bertahan," desis Bara, wajahnya rapat ke wajah Wira yang pucat dan berkeringat dingin. "Kau dengar aku? Kau tidak diizinkan mati di lubang ini. Aku sudah berjanji pada terlalu banyak orang, pada terlalu banyak nama. Kau bertahan, Wira. Itu perintah."
Di belakangnya, gelombang kedua mulai surut—musuh telah membayar terlalu mahal untuk titik yang mereka kira jantung, dan mereka mundur untuk menghitung ulang, untuk membawa meriam lebih banyak, untuk kembali esok dengan amukan yang lebih besar. Padang itu kini bertabur sosok yang tak bergerak, kelabu di atas tanah kelabu, dan keheningan yang turun setelahnya hampir lebih buruk dari kebisingan.
Bara menengadah, napasnya tercekat, tangannya merah sampai ke siku, dan melihat bahwa garisnya masih bertahan—menipis, berdarah, kehilangan dua orang yang takkan ia hitung sampai malam tiba, tapi bertahan. Mereka telah membeli satu hari penuh, satu hari emas untuk batalion di belakang. Tapi saat ia menatap Wira yang pucat dan gemetar di pelukannya, dan saat ia mendengar gemuruh meriam musuh yang sudah mulai memanggil lagi dari kejauhan, ia tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa hari itu belum selesai menagih harganya. Dan harga yang berikutnya, ia takut, akan ditagih di kegelapan.