Mereka tiba di tonjolan tanah itu pada sore yang kelabu, dan tempat itu lebih buruk dari yang Bara bayangkan saat menatapnya di atas peta. Sebuah punggung tanah rendah di tepi hutan jati gundul, batang-batang pohonnya mati berdiri seperti tulang-tulang yang lupa caranya rebah. Parit yang ada hanya selutut, digali tergesa oleh entah siapa di masa lalu, dan sebagian sudah longsor ditelan hujan. Di depan mereka, padang terbuka membentang sejauh mata memandang—tanah datar dan rata yang akan mengubah setiap manusia yang berdiri di atasnya menjadi sasaran, tanpa satu pun gundukan untuk bersembunyi.
"Ini bukan posisi bertahan," gumam Bidin, veteran bermata sayu itu, sambil meludah ke tanah retak. "Ini panggung. Dan kita aktornya. Bedanya, di akhir pertunjukan ini, aktornya yang mati beneran."
Bara tidak menyangkalnya, karena ia tahu Bidin benar, dan karena berbohong kepada veteran seperti Bidin hanya akan menghancurkan satu-satunya hal yang masih ia punya: kepercayaan mereka. Tapi ia juga tahu bahwa kebenaran tak harus menjadi penjara. Ia membagi orang-orangnya, menempatkan senapan mesin tunggal mereka di titik tertinggi, menyuruh Galih dan Naba memperdalam parit dengan sekop sampai punggung mereka basah keringat, mengirim dua orang mengintai sayap kiri dan kanan. Ia bekerja dalam diam yang terukur, dan ia tahu mereka semua memperhatikannya—mencari di wajahnya pertanda apakah harus berharap atau menyerah, mencari di gerak tangannya apakah lelaki yang memimpin mereka percaya mereka akan hidup.
Wira menghampirinya saat senja turun, langkahnya masih agak pincang, sisa demam yang menggerogotinya berminggu lalu. Anak itu masih kurus, tapi tangannya tak lagi gemetar seperti dulu di parit Sektor Tujuh, di malam pertamanya ketika ia berbisik aku takut dan Bara meletakkan tangan di kepalanya.
"Bang," katanya pelan. "Kita disuruh menahan berapa lama?"
Bara menatap padang yang mulai menggelap. Ia bisa berbohong. Para komandan yang baik kadang berbohong, ia tahu itu; Kopral Jaya pernah berbohong padanya tentang peluang mereka di Bukit 88, dan kebohongan itu telah membuatnya tetap hidup cukup lama untuk menyadari bahwa ia bisa bertahan. Tapi Wira bukan lagi anak yang dulu menempel di kakinya. Ia sudah berdarah, sudah hampir mati, sudah dibawa pulang dengan tandu kawat. Ia berhak atas kebenaran.
"Selama yang kita bisa," jawab Bara. "Dan tak sedetik lebih lama dari yang masuk akal. Mereka mengirim kita ke sini untuk mati, Wira. Tapi aku tidak punya niat menuruti seluruh perintah itu. Kita di sini untuk membeli waktu, bukan untuk membayarnya dengan semua nyawa kita."
Wira menatapnya lama, lalu mengangguk, menerima jawaban itu seperti orang dewasa menerima berita cuaca buruk yang sudah lama ia duga. "Bareng-bareng ya, Bang," katanya. "Apa pun yang terjadi."
"Bareng-bareng," kata Bara.
Malam itu Bara duduk sendirian di tepi parit, menatap foto kecil yang selalu ia simpan di saku dadanya—seorang wanita dan seorang gadis kecil yang tersenyum, istri dan putri Kopral Jaya, yang diserahkan padanya di malam sebelum Bukit 88. Ia memikirkan kata-kata Jaya: bawa anak-anak ini pulang, kau yang memimpin mereka pulang. Lalu ia memikirkan peta di atas meja Mayor Hardi, dan titik kosong yang mengelilingi mereka, dan dua perintah yang saling bertabrakan di dalam dirinya.
Ada perbedaan, ia menyadari, antara perintah dan tujuan. Hardi memerintahkan mereka mati di sini, di lubang dangkal ini. Tapi tujuan yang sebenarnya hanyalah waktu, dan waktu bisa dibeli dengan banyak cara, tidak hanya dengan tubuh-tubuh yang membusuk di padang. Sepanjang malam ia memutar rencana di kepalanya, memindahkan orang-orangnya seperti Hardi memindahkan garis di peta, tapi dengan satu perbedaan yang membakar: setiap pion di papannya punya nama, dan ia bermaksud membawa pulang sebanyak mungkin dari mereka.
Saat fajar, ia mengumpulkan mereka di dasar parit, wajah-wajah yang kelabu oleh kantuk dan ketakutan yang ditahan.
"Dengar," katanya, suaranya rendah tapi tegas, menatap mereka satu per satu. "Kita di sini untuk membuat mereka berpikir ada seluruh batalion di tonjolan ini. Itu saja. Kita akan menembak dari banyak titik, lalu pindah, lalu menembak lagi—bikin keributan dari sepuluh tempat seolah kita seratus orang. Kita beli waktu, bukan dengan mati di tempat seperti patung, tapi dengan membuat mereka takut, membuat mereka berhati-hati, membuat mereka membayar mahal untuk setiap jengkal. Tak ada yang jadi pahlawan hari ini. Pahlawan itu mayat yang dipuji-puji setelah dikubur. Kita prajurit. Dan prajurit hidup untuk besok pagi."
Bidin mendengus, tapi kali ini ada sesuatu yang lebih hangat di matanya yang sayu. "Kau bukan Hardi," katanya, dan dalam mulut veteran itu, kalimat itu adalah penghormatan tertinggi.
"Tidak," jawab Bara. "Aku bukan. Dan selama aku yang memimpin, kalian bukan angka di peta siapa pun."
Surya muncul dari arah parit komunikasi, napasnya tersengal—ia telah berjalan jauh dari garis belakang melawan perintahnya sendiri, membawa dua peti amunisi tambahan yang dipanggul seorang kurir yang kelelahan. Sang letnan menatap Bara, dan di antara dua lelaki itu tak perlu ada kata. Letnan yang dulu memerintahkan kematian sia-sia kini datang membawa peluru agar anak buahnya bisa hidup. Itu bukan permintaan maaf yang diucapkan; itu permintaan maaf yang dijalani.
"Aku ikut bertahan di sini," kata Surya. Itu bukan sebuah tawaran, dan bukan pula perintah dari pangkatnya yang lebih tinggi. Itu sebuah penebusan.
Di kejauhan, di balik padang yang membentang kelabu, terdengar bunyi pertama: gemuruh rendah seperti guntur yang lupa caranya berhenti. Bukan badai. Mesin. Roda-roda artileri yang diseret ke posisi, kuda-kuda yang mendengus, ribuan kaki yang bergerak di tanah jauh. Musuh datang, dan mereka datang untuk titik di peta yang mereka kira adalah jantung pertahanan seluruh front.
Bara mengangkat senapannya, menatap orang-orang yang telah dipercayakan padanya, lalu menatap fajar yang merekah merah di balik tulang-tulang pohon jati. "Tetap rendah," katanya, mengulang kata-kata yang telah diwariskan kepadanya dan yang kini ia wariskan lagi. "Dan jangan ada di antara kalian yang mati hari ini kalau aku masih bisa mencegahnya."