Bara dipanggil ke markas batalion pada pagi yang berkabut, ketika embun masih menggantung di kawat berduri seperti manik-manik yang lupa jatuh. Ia berjalan menyusuri parit komunikasi bersama Letnan Surya, dan untuk pertama kalinya sejak lama, sepatu botnya menapak di papan yang kering. Itu sendiri sudah pertanda. Markas selalu dibangun di tempat yang lumpurnya tak sempat menyentuh para perwira, di tempat di mana suara meriam terdengar seperti guntur jauh, bukan seperti dunia yang runtuh di atas kepala.
Ruangan itu dulunya gudang pengasinan ikan, masih menyimpan bau garam tua di dindingnya, bau yang bercampur dengan asap rokok mahal dan tinta. Di tengahnya ada meja panjang, dan di atas meja itu terbentang peta besar—peta yang lebih bersih dan lebih rapi daripada apa pun yang pernah Bara pegang di garis depan. Mayor Hardi berdiri membungkuk di atasnya, jari telunjuknya bergerak di sepanjang garis-garis tinta seolah memindahkan sungai dan bukit dengan sentuhan, seolah tanah yang berdarah-darah itu hanyalah gambar yang bisa diatur ulang sesuka hati.
"Sersan Bara," kata sang mayor tanpa menoleh. "Mereka bilang kau yang menahan Bukit 88 semalaman dengan tandu dari kawat dan doa. Mereka bilang separuh regumu mati di sana, tapi bukit itu tak jatuh kembali ke tangan musuh. Aku ingin orang seperti itu mengerti apa yang akan kita kerjakan."
Bara berdiri tegak, topinya di tangan. Ia tidak menyukai cara perwira itu mengucapkan namanya, seperti memindahkan satu pion ke kotak lain. Ia menyadari, dalam diam, bahwa di garis depan ia adalah seorang sersan yang menanggung belasan nyawa; di sini, di ruangan beraroma garam ini, ia hanya sebuah catatan kaki dalam rencana yang lebih besar.
Hardi menjelaskan dengan suara yang tenang dan terlatih, suara seorang lelaki yang sudah terbiasa mengubah keputusan menjadi kalimat-kalimat yang rapi. Musuh menyiapkan ofensif besar saat musim semi tiba; intelijen sudah memastikannya lewat tawanan, lewat pengintai, lewat suara mesin yang terdengar bergerak di malam hari. Yang menjadi pertanyaan bukan apakah, melainkan di mana, dan kapan. Hardi yakin pukulan utama akan jatuh di poros tengah, menuju jembatan dan Lembah Kalimas. Untuk menahannya, ia butuh waktu—waktu untuk memindahkan meriam, menggali parit cadangan, mendatangkan bala bantuan dari selatan yang masih berbaris di jalan-jalan berlumpur.
"Dan waktu," kata Hardi, akhirnya menegakkan tubuh dan menatap Bara, "selalu dibeli dengan darah orang lain. Itu hukum tertua dalam perang. Tak ada perwira yang menggambarnya di papan akademi, tapi setiap kemenangan ditulis dengan tinta itu."
Jari sang mayor turun ke sebuah titik di peta. Sebuah tonjolan tanah di tepi hutan jati gundul, jauh di depan garis utama. Sektor yang sempit, terbuka, tanpa perlindungan alami, sebuah punggung tanah yang menonjol ke wilayah musuh seperti dagu yang diangkat menantang.
"Pasukan yang ditempatkan di sini," ujarnya, "akan menarik perhatian musuh. Mereka akan mengira di sinilah kita memusatkan pertahanan. Mereka akan menghambur ke arah ini dengan seluruh amukan mereka, dan setiap jam yang mereka habiskan menggempur titik ini adalah satu jam emas bagi sisa batalion untuk bersiap menerima pukulan yang sebenarnya."
Bara menatap titik itu, lalu menatap ruang kosong di sekelilingnya pada peta. Tak ada garis bantuan menuju ke sana. Tak ada jalur mundur yang ditandai. Tak ada artileri kawan yang ditarik garis untuk melindunginya. Ia sudah cukup lama membaca medan untuk tahu apa arti sebuah titik yang dikelilingi kekosongan—itu bukan posisi pertahanan. Itu sebuah persembahan.
"Berapa lama mereka harus bertahan?" tanya Bara, suaranya datar.
"Selama mungkin." Hardi mengucapkannya dengan ringan, seperti menyebut harga sekarung beras di pasar. Lalu, mungkin karena melihat sesuatu di wajah Bara, ia menambahkan, "Sehari, dua hari. Cukup untuk membuat mereka yakin, dan cukup untuk memberiku waktu yang kuperlukan."
Di sebelahnya, Surya menelan ludah. Letnan muda itu sudah banyak berubah sejak hari ketika ia memerintahkan serangan siang hari yang gagal berdarah, hari ketika ia menyaksikan akibat keangkuhannya dan mulai retak. Ia kini lebih sering diam, lebih sering memandang ke arah Bara sebelum membuka mulut, seakan belajar bahwa pengetahuan sejati tentang perang tak diajarkan di ruang kuliah. Tapi pagi itu di matanya ada sesuatu yang lain—kesadaran yang baru saja menetas dan terasa pahit di lidah.
"Mereka itu," kata Surya pelan, "punya nama, Pak. Galih. Naba. Bidin. Wira baru saja sembuh dari demamnya, baru saja bisa berdiri lagi—"
"Aku tahu mereka punya nama, Letnan." Suara Hardi tidak naik, dan itu justru membuatnya lebih dingin. "Aku juga tahu bahwa kalau garis tengah jebol, jalan ke selatan terbuka lebar. Ke kampung-kampung. Ke desa-desa yang tak punya parit dan kawat berduri untuk melindungi diri. Kau mau menukar belasan nyawa prajurit dengan ribuan nyawa perempuan dan anak-anak? Itu aritmetika perang. Aku tidak membuatnya, Letnan. Aku hanya cukup jujur untuk menghitungnya, sementara orang lain memalingkan muka."
Bara merasakan sesuatu mengeras di dadanya, dingin dan tua. Ia pernah merasakannya di Bukit 88, di malam Tio menutup granat dengan tubuhnya. Bahwa di tempat ini, manusia direduksi menjadi angka di atas peta yang bersih, dan yang menggambar peta tak pernah mencium baunya, tak pernah mendengar suara mereka memanggil ibu di kegelapan, tak pernah menutup mata mereka yang sudah berhenti melihat.
"Siapa yang Bapak kirim ke titik itu?" tanya Bara, meski ia sudah tahu jawabannya sebelum bibirnya selesai bergerak.
Hardi menatapnya lurus. Untuk sesaat, ada sesuatu di wajahnya yang nyaris menyerupai penyesalan—atau mungkin hanya kelelahan seorang lelaki yang terlalu sering menandatangani perintah seperti ini, yang sudah lupa kapan terakhir kali ia tidur tanpa wajah-wajah yang dikirimnya mati menghantui kelopaknya.
"Regu yang paling bisa bertahan lebih lama dari yang seharusnya," katanya. "Regu yang dipimpin orang yang menahan Bukit 88. Regumu, Sersan."
Bara tidak menjawab. Di luar, kabut mulai terangkat dari kawat berduri, dan manik-manik embun itu jatuh satu per satu ke lumpur, tak bersuara, seperti hitungan mundur yang hanya ia yang bisa dengar. Ia menatap titik kecil di peta itu, titik yang mengelilingi nama-nama yang ia kenal, nama-nama yang ia janjikan akan ia bawa pulang. Dan ia mengerti, dengan kepastian yang menusuk seperti bayonet, bahwa janji itu baru saja menjadi jauh lebih mahal dari yang sanggup dibayar siapa pun.