Perintah itu datang lewat Karto pada pagi keempat, dilipat rapi dan disegel, dan Bara tahu isinya buruk sebelum ia membukanya. Ia mengenali bobot kertas semacam itu sekarang, kertas yang membawa keputusan dari orang-orang yang tak pernah melihat wajah yang mereka putuskan nasibnya.
Tawanan diperintahkan dikirim ke belakang untuk interogasi. Bara tahu apa artinya itu. Ia pernah mendengar cerita tentang interogasi di kota garnisun belakang, tentang ruangan-ruangan di balik pintu tebal, tentang serdadu musuh kelaparan yang dipaksa bicara dengan cara-cara yang membuat kematian di parit terasa seperti rahmat. Anak ini, yang nyaris tak punya informasi berguna, yang cuma petani berseragam, akan diperas sampai kering lalu dibuang. Atau lebih buruk: ditembak begitu interogasi selesai, karena memberi makan tawanan terlalu mahal di musim seperti ini.
Bara duduk lama di ruang komando galian, kertas perintah itu di tangannya, dan ia merasakan beban yang sudah terlalu sering ia rasakan belakangan ini, beban menjadi orang yang harus memutuskan. Menjalankan perintah berarti mengirim anak yang telah ia selamatkan, yang telah ia beri makan dengan ransumnya sendiri, yang jari kakinya telah ia potong agar ia hidup, ke kematian yang lebih lambat dan lebih kejam daripada peluru. Mengabaikan perintah berarti menentang komando, sebuah risiko yang bisa menghancurkannya, menghancurkan kepercayaan yang membuatnya bisa memimpin, mungkin membuatnya diadili. Dan kalau ia diadili, siapa yang akan menjaga anak-anaknya?
Itu kalkulus yang mengerikan: satu nyawa musuh melawan posisinya sebagai pelindung belasan nyawa kawan. Seorang perwira yang baik, ia tahu, akan menyerahkan tawanan itu tanpa ragu, mencatatnya sebagai kewajiban yang ditunaikan, lalu tidur nyenyak. Tapi Bara bukan perwira. Ia petani yang dijadikan prajurit, yang dijadikan pemimpin oleh kematian orang-orang yang lebih layak, dan ia tak pernah belajar bagaimana caranya berhenti melihat manusia dalam diri orang yang seharusnya cuma angka.
Ia memikirkan Jaya, dan apa yang akan dilakukan Jaya. Ia memikirkan Tio, dan suaranya: jadilah manusia, Bara. Ia memikirkan liontin kayu di sakunya, dan dada anak itu di bawah tangannya, jantung yang berdetak karena ia memilih membiarkannya berdetak.
Malam itu, ia mengambil keputusan yang ia tahu tak akan pernah bisa ia ceritakan pada siapa pun di atasnya.
Ia membawa tawanan itu ke pos jaga terjauh, di ujung parit yang menghadap celah di kawat berduri, tempat yang ia tahu tak terjaga ketat pada jam-jam dini hari. Wira ikut, tanpa diminta, karena Wira telah belajar membaca Bara seperti Bara dulu belajar membaca Jaya. Bidin juga ada di sana, berdiri di bayang-bayang, dan Bara setengah menduga ia datang untuk menghentikannya, untuk melaporkannya.
"Kau tahu apa yang kulakukan," kata Bara pada Bidin, suaranya rendah. "Kalau kau mau melaporkan, lapor. Aku yang bertanggung jawab. Bukan anak-anak ini. Cuma aku."
Bidin menatapnya lama dalam gelap. Lalu ia melakukan sesuatu yang membuat Bara terkejut: ia mengeluarkan sebungkus kecil dari sakunya, ransum cadangannya sendiri, yang ia simpan mati-matian, dan menyodorkannya ke tangan tawanan itu. "Supaya tidak mati di jalan," gumam Bidin kasar, lalu berbalik. "Aku tidak lihat apa-apa malam ini. Aku sedang tidur."
Bara membuka tali yang mengikat pergelangan tangan tawanan itu. Anak itu menatapnya, tak mengerti, lalu mengerti, dan matanya melebar oleh sesuatu yang melampaui rasa syukur, sesuatu yang nyaris seperti rasa sakit, karena kebaikan di tempat seperti ini terasa lebih menyayat daripada kekejaman. Bara menunjuk ke celah di kawat, ke arah utara, ke arah garis musuh, ke arah rumah anak itu.
"Pulang," kata Bara, meski ia tahu anak itu tak akan mengerti kata-katanya. "Pulang ke ladangmu. Ke ibumu. Jangan kembali ke sini. Cukup satu dari kita yang harus mati di tempat ini." Ia menepuk dada anak itu sekali, di atas jantung yang berdetak. "Hidup. Mengerti? Kau hidup."
Anak itu menggenggam tangan Bara, erat, lama, jari-jari yang masih lemah tapi penuh sesuatu yang melampaui kekuatan. Lalu ia melepaskannya. Sebelum merangkak pergi, ia menunjuk Bara, lalu menunjuk dadanya sendiri, lalu menyatukan kedua tangannya, sebuah isyarat yang tak butuh bahasa: kita sama. Lalu ia merangkak melalui celah kawat berduri, ke dalam tanah tak bertuan yang putih, sosok kelabu yang perlahan menyatu dengan salju dan gelap, menuju garis di mana orang-orangnya menunggu, menuju kemungkinan rumah yang tipis. Bara memandanginya sampai ia lenyap sepenuhnya, sampai tak ada lagi yang tersisa kecuali jejak samar di salju yang akan tertimbun sebelum fajar.
Ia tahu risikonya. Anak itu bisa tertangkap patrolinya sendiri dan dipaksa membocorkan posisi parit ini. Bisa, dalam ketakutan dan kelaparan, kembali dengan menunjukkan jalan. Tak ada jaminan kebaikan dibalas kebaikan; perang telah mengajarinya itu dengan kejam. Tapi Bara telah memilih untuk percaya, sekali ini, bahwa benih yang ia tanam akan tumbuh, bukan membusuk, dan bahwa kalaupun ia salah, kesalahan itu lahir dari sisi dirinya yang masih ingin ia jaga tetap hidup.
"Kalau salah, Bang," bisik Wira, "kalau dia kembali dan menembak kita—"
"Maka aku salah," kata Bara pelan, masih menatap kegelapan. "Tapi aku lebih bisa hidup dengan kesalahan menyelamatkan manusia daripada kesalahan membunuh satu lagi. Aku sudah cukup membawa nama-nama, Wira. Aku tidak mau menambah satu lagi yang tak perlu." Ia berbalik, dan dalam gelap, wajahnya lelah tapi tenang. "Ayo. Kita tidak pernah ke sini malam ini. Tidak ada yang pernah ke sini."
Mereka kembali ke galian dalam diam, dan Bara membakar kertas perintah itu di atas bara api kecil, menatap tinta merah itu melengkung dan menghitam dan hilang. Hari-hari berikutnya ia menunggu akibatnya—serangan yang tahu persis posisi mereka, jebakan yang menanti patroli—tapi akibat itu tak pernah datang. Mungkin anak itu sampai ke garisnya. Mungkin ia mati di salju sebelum tiba. Bara tak akan pernah tahu, dan ia memilih untuk membiarkan ketidaktahuan itu apa adanya, sebab kebaikan yang menuntut balasan bukanlah kebaikan. Yang ia tahu cuma satu: malam itu, untuk sekali, ia tidur tanpa mimpi buruk, dan itu sudah lebih dari yang ia dapatkan dalam waktu yang sangat lama.