Bara mengenali siluet itu dari jauh sebelum ia bisa melihat wajahnya, dan untuk sesaat jantungnya berhenti, karena cara orang itu berjalan salah. Pincang. Berat di satu kaki, bersandar pada tongkat, langkah yang dulu sekokoh kayu jati kini ragu-ragu di atas tanah beku. Tapi bahunya, garis bahunya, cara kepalanya tegak meski tubuhnya tak lagi mau menurut, itu tak mungkin keliru.
"Pak," kata Bara, dan suaranya keluar serak. "Pak Jaya."
Kopral Jaya berhenti di mulut parit, dan ketika ia mengangkat wajahnya, Bara harus menahan diri untuk tidak menampakkan keterkejutannya. Wajah itu telah menua bertahun-tahun dalam hitungan bulan. Rambutnya kini lebih banyak kelabu daripada hitam. Sebelah sisi tubuhnya bergerak lebih lambat, dan ada bekas luka panjang yang menjalar dari pelipis ke rahang, peninggalan Bukit 88 dan berbulan-bulan di rumah sakit lapangan. Tapi matanya, mata itu masih mata Jaya, hanya saja kini ada sesuatu yang baru di dalamnya, sesuatu yang lebih sunyi, seperti orang yang telah melihat ke dalam kuburnya sendiri dan kembali tapi tak utuh.
"Kau sudah lebih tinggi, kelihatannya," kata Jaya, suaranya juga berubah, lebih serak, lebih pelan. Lalu ia tersenyum, senyum lelah yang Bara kenal, dan sesuatu di dada Bara pecah dan mengalir hangat. "Atau aku yang menyusut."
Bara memeluknya. Ia tak peduli itu melanggar tata krama militer, tak peduli anak-anak menonton. Ia memeluk lelaki yang dulu meletakkan tangan di kepalanya di malam pertamanya, yang menghiburnya seperti ayah ketika ia menangis setelah membunuh untuk pertama kali, yang menyerahkan foto keluarganya di fajar Bukit 88 dengan keyakinan bahwa ia tak akan kembali. Tubuh Jaya terasa berbeda dalam pelukan itu, lebih ringkih, tulang-tulangnya lebih menonjol, dan Bara bisa merasakan getaran halus di kaki yang pincang itu, upaya terus-menerus tubuh tua itu untuk tetap berdiri. Dan Jaya membalas pelukan itu, satu tangan saja, karena tangan yang lain memegang tongkat, tapi pelukan itu cukup. Lebih dari cukup.
Foto itu, Bara teringat, masih ada di sakunya. Foto istri dan putri Jaya. Ia hendak mengembalikannya, tapi sesuatu menahannya. Belum waktunya. Foto itu kini bagian dari beban yang ia gendong, dan mengembalikannya akan terasa seperti melepaskan sebuah amanah yang belum tuntas.
"Aku kira Bapak tidak akan kembali," kata Bara pelan, masih tak melepaskannya. "Mereka bilang Bapak kritis. Mereka bilang—"
"Aku juga kira begitu," kata Jaya. Ia melepaskan diri perlahan, dan menepuk pipi Bara dengan tangannya yang kasar, sebuah gestur yang ayah-ayah lakukan pada anak yang telah lama tak mereka lihat. "Tapi ternyata maut juga tidak mau aku. Barangkali karena aku belum selesai." Ia menatap sekeliling parit, melihat wajah-wajah baru yang tak ia kenal, lalu menatap Bara lagi. "Aku tidak lagi bisa memimpin di depan, Bara. Kaki ini sudah tamat. Mereka mengirimku sebagai instruktur. Penasihat." Ia mengucapkan kata itu seolah ia kata kotor. "Bayangkan. Aku yang dulu lari paling depan, sekarang cuma boleh duduk dan bicara."
Ada kepahitan dalam suaranya, dan Bara mengenalinya, karena ia tahu apa artinya seorang lelaki seperti Jaya yang tubuhnya mengkhianati jiwanya. Lelaki yang seumur hidup mendefinisikan dirinya lewat kemampuan melindungi dengan tubuhnya, kini dipaksa melindungi hanya dengan kata-kata. Itu kehilangan yang berbeda dari kehilangan nyawa, tapi tetap kehilangan, dan barangkali bagi orang seperti Jaya, lebih berat: karena hidup tapi tak lagi mampu menjadi dirinya yang dulu adalah jenis kematian yang harus dijalani setiap hari, dengan mata terbuka.
"Anak-anak itu memandangku seperti aku barang antik," kata Jaya, setengah tertawa, setengah pahit. "Mereka dengar cerita tentang Kopral Jaya yang merebut Bukit 88, lalu mereka lihat orang tua pincang dengan tongkat. Aku bisa baca di mata mereka. Mereka kasihan padaku, Bara. Kasihan. Itu yang paling tak tertahankan. Aku lebih suka ditakuti seperti dulu."
"Mereka tidak kasihan," kata Bara. "Mereka hormat. Ada bedanya. Dan kalau mereka belum tahu bedanya, akan kuajari mereka."
Malam itu mereka duduk bersama, seperti dulu, hanya berdua di ujung parit, menatap kegelapan. Bara menceritakan semuanya, semua yang terjadi sejak Bukit 88: tentang yang gugur, tentang Letnan Surya, tentang musim dingin yang merenggut Tukimin, tentang soto istana, tentang tawanan yang ia lepaskan. Ia menceritakan tentang tawanan itu dengan setengah takut, menunggu Jaya mengutuknya. Tapi Jaya hanya mengangguk pelan, lama, dan ketika ia bicara, suaranya tebal oleh sesuatu yang menyerupai kebanggaan.
"Kau melakukan apa yang kuharapkan," kata Jaya. "Kau menjadi apa yang kuharapkan. Lebih, malah." Ia memandang Bara lama dalam cahaya bara api. "Aku menyerahkan anak-anak itu padamu di Bukit 88 karena aku kira aku akan mati. Tapi ternyata, Bara, bahkan kalau aku tidak mati, aku tetap harus menyerahkannya. Karena kau sudah lebih baik dariku dalam hal yang paling penting." Ia menelan ludah. "Kau masih percaya mereka manusia. Aku... aku sudah mulai lupa, di akhir. Aku sudah mulai cuma melihat angka dan posisi. Kau tidak. Jangan pernah."
Bara menggeleng. "Bapak yang mengajariku."
"Tidak," kata Jaya, dan ada air di matanya yang tua. "Aku menanam benihnya. Tapi kau yang menumbuhkannya jadi pohon. Dan sekarang, anak-anak ini berteduh di bawahmu, bukan aku." Ia menepuk lutut Bara, lalu menatap fajar yang mulai mengintip di ufuk, fajar yang dulu di Bukit 88 adalah ancaman, kini hanya pagi biasa. "Aku kembali bukan untuk memimpin, Bara. Aku kembali untuk menjagamu. Dari belakang sekarang. Selama aku masih bisa."