Selama tiga hari tawanan itu tinggal di parit mereka, dan dalam tiga hari itu Bara belajar lebih banyak tentang musuh daripada sepanjang berbulan-bulan ia menembaki mereka dari seberang kawat berduri.
Mereka tidak punya bahasa yang sama. Tapi manusia, Bara mendapati, punya cara berbicara yang lebih tua dari kata. Tawanan itu menggambar di atas salju yang menempel di dinding galian dengan jari yang kurus: sebuah rumah, ladang, dan sosok-sosok kecil. Lalu ia menunjuk dirinya, lalu menunjuk sosok-sosok itu, dan mengangkat jari: satu, dua, tiga, empat. Keluarga. Bara mengangguk, lalu menggambar di sebelahnya sebuah rumah yang lain, ladang yang lain, seorang perempuan tua. Ibunya. Tawanan itu menatap gambar itu lama, lalu menatap Bara, dan keduanya tahu bahwa mereka sedang menunjuk pada hal yang sama. Pada rumah. Pada alasan untuk pulang.
Hari demi hari, tubuh anak itu perlahan kembali dari ambang. Kuah hangat dan selimut dan api kecil mengembalikan sedikit warna ke pipinya, sedikit cahaya ke matanya. Kakinya yang membeku diselamatkan, meski dua jari kaki harus direlakan, mati dan menghitam, dilepas oleh tangan Bara sendiri dengan pisau yang dipanaskan di api, sementara anak itu menggigit kain dan menahan jeritan. Tapi ia hidup. Dan dalam hidupnya, ia menjadi sebuah teka-teki yang perlahan terbuka di hadapan regu yang dulu hanya tahu menembaknya dari kejauhan.
Lewat isyarat, gambar, dan beberapa patah kata yang lambat-laun mereka temukan saling pahami, kisah anak itu terkuak sedikit demi sedikit. Ia bukan tentara karir. Ia petani, atau anak petani, ditarik dari ladang gandum di suatu tempat yang jauh di utara, diberi seragam dan senapan dan dua minggu pelatihan yang tergesa-gesa, lalu dikirim ke front ini dengan janji bahwa ia membela tanah airnya dari penyerang yang kejam. Penyerang itu, Bara perlahan menyadari dengan dingin yang lebih menusuk dari salju, adalah dirinya. Adalah Tio, Reno, Sapto. Mereka adalah monster dalam cerita yang diceritakan di sisi seberang, persis seperti tawanan ini adalah monster dalam cerita yang diceritakan di sisi sini.
"Mereka juga kelaparan," kata Bara kepada Wira suatu malam, ketika tawanan itu tertidur di sudut, terbungkus selimut. "Mereka juga tidak diberi mantel musim dingin. Mereka juga menunggu surat dari rumah yang tak datang. Mereka juga tidak tahu kenapa mereka di sini, selain bahwa seseorang yang jauh, yang hangat, yang kenyang, menyuruh mereka." Ia menggeleng pelan. "Kita ini cuma anak-anak yang dilempar ke parit oleh orang-orang yang tidak pernah kita lihat wajahnya, untuk membunuh anak-anak lain yang juga tidak tahu kenapa."
Wira diam lama. "Lalu kenapa kita masih berperang, Bang? Kalau kita semua cuma korban yang sama?"
Itu pertanyaan yang Bara tak punya jawaban sempurna untuknya, pertanyaan yang sama yang dulu Jaya tak bisa jawab dengan tuntas. "Karena kalau kita berhenti dan mereka tidak, kampung kita yang dibakar," kata Bara akhirnya. "Karena ibuku, ibumu, adik-adik kita ada di belakang garis ini. Kita berperang bukan karena kita benci mereka di seberang. Kita berperang karena kita cinta yang di belakang kita. Itu bedanya, Wira. Dan kalau kita lupa bedanya, kalau kita mulai berperang karena benci, kita berhenti jadi manusia dan jadi mesin yang sama dengan yang mengirim kita ke sini."
Tawanan itu menggeliat dalam tidurnya, menggumamkan nama seseorang, mungkin ibunya, mungkin kekasihnya. Bara dan Wira mendengarkan dalam diam. Di luar galian, salju turun di atas dua garis parit yang saling membenci atas perintah, di atas anak-anak muda di kedua sisi yang sebenarnya hanya ingin pulang ke ladang dan rumah dan perempuan tua yang menumbuk bumbu di pagi hari.
Bahkan Bidin, yang menolak bicara pada tawanan itu, mulai berubah dengan caranya sendiri yang keras kepala. Pada hari ketiga, Bara melihatnya melempar sepotong dendeng ke pangkuan tawanan itu, tanpa kata, tanpa menatapnya, lalu berlalu cepat seolah malu pada tangannya sendiri. Bara tidak mengomentarinya. Beberapa hati membutuhkan waktu lebih lama untuk mencair daripada yang lain, dan ia sudah belajar bahwa memaksa hanya akan membekukannya kembali.
Malam berikutnya, Bara menemukan Bidin duduk sendirian di pos jaga, menatap foto anaknya. "Aku masih benci mereka," kata Bidin tanpa berpaling, seolah meneruskan percakapan yang tak pernah dimulai. "Aku masih ingat kampungku dibakar. Aku masih ingat semuanya." Ia diam lama. "Tapi anak itu... dia menggambar empat orang di salju. Empat. Sama seperti yang kupunya di rumah. Bagaimana aku bisa benci sesuatu yang menggambar keluarganya persis seperti aku merindukan keluargaku?" Ia menggeleng, suaranya parau. "Perang sialan ini. Mereka membuatku membenci cermin, Bara. Itu yang paling kubenci. Bukan musuh. Mereka membuatku membenci pantulanku sendiri."
Bara tak menjawab. Ia hanya duduk di samping veteran tua itu, dan keduanya menatap kegelapan, dua orang yang membawa benci dan belas kasih dalam dada yang sama, tak tahu mana yang akan menang pada akhirnya.
Malam terakhir tawanan itu di parit mereka, sebelum perintah dari belakang tiba tentang nasibnya, ia melakukan sesuatu yang akan Bara ingat lama. Ia melepas sesuatu dari leher di balik seragamnya, sebuah liontin kayu kecil yang diukir kasar, dan menyodorkannya ke tangan Bara. Bara menolak, menggeleng, tapi anak itu bersikeras, menutup jari-jari Bara di atas liontin itu, lalu meletakkan tangannya di dada, lalu menunjuk Bara: kau telah menjaga jantungku tetap berdetak.
Bara menerima liontin itu. Dan dalam saku yang sama tempat ia menyimpan foto keluarga Jaya, dan sisa bungkus kunyit ibunya, kini ada satu benda lagi yang membawa nama yang tak bisa ia ucapkan, dari seseorang yang seharusnya ia bunuh, tapi malah ia selamatkan, dan yang dalam menyelamatkannya telah menyelamatkan sesuatu dalam dirinya sendiri.