Mereka menemukannya pada hari kelima belas salju, meringkuk di dalam lubang granat di tepi tanah tak bertuan, setengah terkubur es, terlalu lemah bahkan untuk mengangkat senapannya. Patroli pagi Wira nyaris melewatinya, mengiranya mayat, sampai sosok itu mengerang. Seorang serdadu musuh. Muda, lebih muda dari Galih barangkali, dengan pipi cekung dan bibir pecah-pecah dan mata yang sudah menyerah pada kematian jauh sebelum tubuhnya.
Mereka menyeretnya ke parit. Ia tak melawan. Tak ada lagi yang tersisa dalam dirinya untuk melawan. Senapannya, ketika Wira mengambilnya, kosong; entah ia kehabisan peluru, entah ia membuangnya, tak ada yang tahu. Ketika Bara berlutut di depannya, ia melihat tubuh yang nyaris kerangka, seragam yang menggantung di bahu yang cuma tulang, jari-jari yang membiru, dan kaki yang membeku hitam di ujung-ujungnya. Anak ini sedang sekarat, bukan karena luka, melainkan karena kelaparan dan dingin, sama persis dengan yang mengintai mereka semua. Dalam wajah cekung itu, Bara melihat cermin yang mengerikan: inilah yang menunggu setiap orang di parit ini, di kedua sisi garis, kalau musim dingin diberi waktu cukup lama.
"Bunuh saja," kata Bidin, suaranya datar dan keras. Ia berdiri di belakang, tangannya mencengkeram senapan. "Buat apa kita repot. Ransum kita saja tidak cukup buat diri sendiri. Dia musuh, Bara. Mereka membunuh anakku punya kesempatan tumbuh, membakar kampungku, menembak Sapto, Reno, semuanya. Kau lupa?"
Bara tidak menjawab langsung. Ia menatap tawanan itu, dan tawanan itu menatapnya balik, dan dalam mata cekung itu Bara tidak melihat monster. Ia melihat ketakutan yang sama yang pernah ia rasakan di malam pertamanya di parit. Ia melihat seorang anak yang dikirim ke tempat ini oleh orang-orang yang tak akan pernah menanggung akibatnya, sama seperti dirinya.
"Aku tidak lupa, Bidin," kata Bara akhirnya, suaranya tenang tapi tak bisa dibantah. "Aku ingat semuanya. Aku ingat Sapto tertembak lehernya. Aku ingat Reno tergeletak di tanah tak bertuan. Aku ingat semua nama itu setiap malam." Ia berdiri, menghadap Bidin. "Justru karena aku ingat, aku tidak akan jadi seperti orang-orang yang membunuh mereka. Anak ini sudah tidak bersenjata. Sudah tidak bisa melawan. Membunuhnya bukan perang. Itu pembantaian. Dan kita bukan tukang jagal."
"Itu omong kosong perwira," desis Bidin. "Itu omong kosong yang dikatakan orang yang belum pernah kehilangan—"
"Aku sudah kehilangan semuanya yang bisa kuhilangkan," potong Bara, dan ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Bidin terdiam. "Tio menutup granat dengan tubuhnya supaya aku hidup. Pak Darmo hancur di pabrik gula. Jaya tertembak di Bukit 88. Jangan kau ajari aku soal kehilangan. Aku menggendong kehilangan itu setiap hari." Ia menarik napas. "Dan justru karena itu, aku tahu apa yang Tio mau aku jadi. Bukan ini. Bukan orang yang menembak anak kelaparan di lubang granat."
Parit itu hening. Anak-anak muda menonton, menunggu, dan Bara tahu mereka sedang belajar sesuatu di saat ini, sesuatu yang lebih penting dari cara membersihkan senapan atau menggali parit. Mereka sedang belajar siapa mereka jadinya di tempat di mana yang paling mudah adalah menjadi binatang.
Ia menatap anak-anak muda yang menonton, dan ia tahu kata-katanya barusan akan tinggal lebih lama dari kuah atau selimut apa pun yang ia berikan. Mereka sedang mempelajari batas-batas mereka sendiri, di tempat di mana batas itu paling mudah dilampaui.
"Galih," kata Bara. "Ambil selimut. Wira, panaskan air, beri dia kuah sisa semalam, sedikit dulu, jangan banyak-banyak atau perutnya akan kaget dan ususnya bisa rusak. Kita keringkan kakinya, kita lihat masih bisa diselamatkan atau tidak."
Bidin tertawa pahit. "Kau memberi makan musuh dengan ransum kita."
"Aku memberi makan manusia yang kelaparan," kata Bara, "dengan ransum yang sama yang akan kuberikan pada siapa pun yang kelaparan di depanku. Kalau itu membuatku lemah di matamu, Bidin, terserah. Tapi malam nanti, ketika kau menutup mata, aku ingin kau yang masih bisa tidur, bukan aku."
Ia tak menunggu jawaban. Ia berlutut kembali di depan tawanan itu, mengulurkan mangkuk seng berisi kuah hangat. Tangan si tawanan gemetar hebat ketika menerimanya, dan ketika tegukan pertama menyentuh tenggorokannya, air mata mengalir dari mata cekung itu, jatuh ke salju, membeku sebelum mencapai tanah. Ia berkata sesuatu, berkali-kali, dalam bahasanya, kata-kata yang tak dimengerti Bara tapi tak butuh terjemahan: terima kasih, terima kasih, terima kasih.
Wira menyelimuti bahu anak itu, lalu mundur dan berdiri di samping Bara, menatap tawanan yang menyeruput kuah dengan tangan gemetar. "Bang," bisiknya, suaranya pelan agar yang lain tak dengar. "Dulu, di seberang, kita menembaki orang-orang seperti dia. Aku mungkin pernah menembak temannya. Mungkin dia pernah menembak ke arahku." Ia menelan ludah. "Kenapa rasanya sekarang seperti dosa, padahal kita disuruh?"
Bara meletakkan tangan di bahu anak itu. "Karena sekarang kau bisa lihat wajahnya," katanya pelan. "Itu yang membuat semuanya beda, Wira. Dari jauh, lewat moncong senapan, dia cuma bayangan kelabu yang harus dijatuhkan. Tapi dari sini, dia anak yang kelaparan, yang menangis karena kuah panas. Perang ini bekerja dengan menjaga jarak supaya kita tidak pernah lihat wajah. Tugas kita, mungkin, cuma menolak lupa bahwa di balik setiap bayangan kelabu itu, selalu ada wajah."
Bidin berbalik dan pergi ke ujung parit, tak mau menonton. Tapi Bara memperhatikan bahwa ia tidak mengangkat senapannya lagi, dan bahwa ia berhenti sebentar di mulut galian, punggungnya tegang, sebelum menghilang ke dalam gelap. Dan itu, untuk saat ini, sudah cukup. Beberapa hati membutuhkan waktu lebih lama untuk berbalik, tapi Bara telah belajar mengenali saat sebuah hati mulai bergerak, sepelan apa pun.