Komando memerintahkan patroli pengintai, dan Bara tahu menolak tak ada gunanya. Garis depan telah membeku menjadi keheningan yang menipu, dan keheningan selalu membuat para perwira di belakang gelisah. Mereka ingin mata di lapangan, ingin tahu apakah musuh juga membeku atau sedang menyiapkan sesuatu di balik tirai salju.
"Kalau mereka membeku, mereka tidak menyiapkan apa-apa," kata Letnan Surya, yang kini bicara dengan nada yang berbeda dari dulu, lebih rendah hati, lebih banyak bertanya daripada memerintah. Berbulan-bulan di parit telah mengikis teori-teori akademinya, dan ia telah belajar diam-diam dari Bara, mengamati cara orang ini membaca medan dan manusia. "Tapi kalau mereka tidak membeku, kalau mereka justru bergerak di balik tirai salju ini... kita perlu tahu."
Bara setuju, meski ia membenci keperluan itu. Ia memilih timnya dengan hati-hati: dirinya sendiri, Wira, Bidin, dan dua prajurit lain yang langkahnya ringan dan kepalanya dingin. Mereka membalut sepatu bot dengan kain putih, melumuri mantel kelabu mereka dengan kapur dan abu agar membaur dengan salju, menghitamkan wajah dengan arang agar kulit pucat tak memantulkan cahaya bintang, dan menjelang tengah malam mereka merayap keluar dari parit ke dalam lanskap yang tak lagi ia kenali.
Dunia di luar telah berubah menjadi sesuatu yang asing dan indah dan mematikan. Tanah tak bertuan yang dulu berlumpur dan penuh kawah kini terhampar putih bersih, hampir suci, di bawah langit tanpa bulan. Kawat berduri menggantung beban salju seperti renda. Tak ada suara kecuali derit lembut sepatu mereka di atas kerak es dan napas mereka sendiri yang mengepul. Bara bergerak di depan, setiap langkah diperhitungkan, karena ia segera menyadari musuh terburuk malam itu bukanlah penembak jitu atau ranjau, melainkan jejak.
Setiap langkah meninggalkan bekas. Di atas salju yang sempurna, jejak mereka terbentang di belakang seperti tulisan yang mengkhianati, garis gelap yang menunjuk persis dari mana mereka datang dan ke mana mereka pergi. Tak ada cara menyembunyikannya. Mereka berjalan di atas kertas putih yang mencatat setiap gerakan mereka, dan Bara hanya bisa berdoa salju baru akan turun sebelum musuh menemukan tulisan itu.
Mereka hampir mencapai gundukan pengintai ketika Bidin mengangkat tangan. Semua membeku.
Di seberang gundukan, samar dalam kegelapan, ada gerakan. Sosok-sosok kelabu, sama putihnya, sama hati-hatinya, bergerak ke arah mereka. Patroli musuh. Mereka melakukan persis hal yang sama, menyelinap di malam yang sama, mencari mata yang sama. Dan dalam beberapa langkah lagi, kedua patroli yang tak saling melihat itu akan bertabrakan di lereng gundukan yang sempit.
Jantung Bara berdebar di tenggorokannya. Ia memberi isyarat: turun, diam, jangan bergerak. Anak buahnya tiarap ke salju, membenamkan diri, senapan terkokang tapi tak terangkat. Bara menahan napas. Patroli musuh semakin dekat, ia bisa mendengar derit sepatu mereka kini, bisa mendengar bisikan dalam bahasa yang tak ia mengerti tapi nadanya ia pahami sepenuhnya: lelah, kedinginan, takut.
Beberapa langkah lagi. Lima. Empat. Bara meletakkan jari di pelatuk, dan dalam kepalanya semua menghitung mundur menuju saat di mana ia harus memilih: menembak lebih dulu, atau mati. Tangannya gemetar, bukan karena dingin.
Lalu sosok terdepan musuh berhenti. Mengangkat tangan. Sama seperti Bidin tadi. Mereka juga melihat sesuatu, atau merasakan sesuatu, naluri prajurit yang sudah terlalu lama hidup di antara maut. Untuk sesaat yang terasa selama setahun, kedua patroli itu terdiam di lereng yang sama, terpisah hanya beberapa langkah, masing-masing tahu yang lain ada di sana, masing-masing tahu satu suara saja akan mengubah salju putih ini menjadi merah.
Bara tidak menembak.
Ia tahu, dalam perhitungan dingin seorang prajurit, bahwa menembak lebih dulu adalah keuntungan, bahwa di medan seperti ini ragu-ragu sedetik bisa berarti kematian. Tapi ada perhitungan lain yang lebih dalam, yang sudah tertanam terlalu kuat dalam dirinya untuk diabaikan: bahwa suara pertama akan mengubah salju putih yang sunyi ini menjadi pembantaian jarak dekat di mana semua orang, di kedua sisi, kemungkinan besar mati. Tak akan ada kemenangan di lereng sempit ini. Hanya darah yang sia-sia, dan dua patroli yang lenyap dari hitungan kedua pasukan.
Ia melihat sosok terdepan musuh perlahan, sangat perlahan, mundur. Selangkah. Dua langkah. Menarik patrolinya bersama, surut ke dalam kegelapan tanpa satu pun peluru. Bara mengembuskan napas yang tak sadar ia tahan, dan dengan isyarat tangan, ia menarik timnya ke arah berlawanan, sama pelannya, sama diamnya. Kedua patroli itu memisahkan diri ke dalam malam, membawa pulang masing-masing nyawa, masing-masing rahasia, masing-masing kelegaan yang tak bisa mereka ucapkan pada siapa pun.
Ketika mereka kembali ke parit menjelang fajar, Wira bertanya dengan suara bergetar, "Kenapa mereka tidak menembak, Bang? Kita ada dalam jangkauan."
Bara menatap garis putih yang kini terbentang dingin dan sunyi di belakang mereka. "Karena malam ini," katanya pelan, "mereka tidak diutus untuk membunuh. Cuma melihat. Sama seperti kita. Dan barangkali, mereka juga ingin pulang." Ia diam sejenak. "Atau barangkali mereka cuma terlalu lelah untuk satu kematian lagi. Aku pun begitu."
Ia tak menulis dalam laporannya bahwa ia telah berhadapan muka dengan patroli musuh dan memilih tidak menembak. Ia hanya menulis: tak ada kontak. Salju masih turun ketika ia melipat laporan itu, menutupi jejak mereka, menutupi rahasia itu, menutupi malam di mana dua kelompok manusia memilih membiarkan satu sama lain hidup.