Pada hari ketujuh musim dingin sejati, kayu bakar mereka habis. Bukan menipis, habis. Galian yang dulu menyimpan tumpukan papan dan ranting kini kosong, dan tanpa api, dingin itu tak lagi sekadar musuh yang menunggu di luar, melainkan tamu yang sudah duduk di antara mereka, menyentuh setiap punggung, setiap jari, setiap napas.
Bara melihat regunya mulai retak. Bukan retak yang berisik, melainkan retak yang sunyi, yang lebih berbahaya. Mereka berhenti bicara. Mereka memandang kosong ke dinding tanah. Bidin, yang biasanya melempar sindiran, kini hanya meringkuk di sudut, matanya keruh. Galih menangis diam-diam pada malam hari, mengira tak ada yang dengar. Putus asa, Bara tahu, menyebar lebih cepat dari wabah. Dan putus asa di tengah dingin adalah hukuman mati yang ditunda.
Bara sudah pernah melihat ini terjadi pada orang. Di parit lama, ada seorang prajurit yang kehilangan harapan menjelang akhir, yang berhenti makan, berhenti bicara, lalu suatu pagi memanjat keluar parit dan berjalan tegak ke arah garis musuh sampai peluru menghentikannya, karena baginya kematian yang cepat lebih ringan daripada hidup yang dingin dan tak berujung ini. Bara tak akan membiarkan itu terjadi pada anak-anaknya. Tubuh bisa diberi makan dengan ransum; tapi harapan harus diberi makan dengan sesuatu yang lain, dan ia harus menemukan apa.
Tapi pertama-tama, kayu. Tanpa api, tak ada gunanya bicara soal harapan.
Sumber kayu terdekat ada di reruntuhan sebuah rumah pertanian, separuh jalan menuju tanah tak bertuan, dalam jangkauan penembak jitu. Bara tahu musuh juga kedinginan, juga membutuhkan kayu yang sama, dan keduanya tahu reruntuhan itu adalah satu-satunya sumber dalam radius berkilo-kilometer. Itu bukan medan tempur dalam arti yang biasa. Itu medan rebutan untuk bertahan hidup, dan ironinya yang pahit tak luput dari Bara: dua pasukan yang dikirim untuk saling membunuh, kini bersaing memperebutkan papan rapuh demi tidak mati membeku.
"Aku yang pergi," kata Bara. "Bidin, Wira, kalian ikut. Sisanya jaga posisi. Kita ambil secukupnya, lalu kembali. Tidak ada yang mati demi kayu, mengerti?"
Mereka merangkak keluar dalam kabut subuh, perut menempel ke salju, menarik kereta luncur darurat yang dibuat dari pintu rusak. Di reruntuhan itu, Bara melihat jejak. Jejak sepatu bot lain, baru, yang menuju arah sebaliknya. Musuh sudah datang dan pergi sebelum mereka. Untuk sesaat ia membeku, menunggu peluru. Tak ada. Hanya angin. Mereka berbagi reruntuhan yang sama dengan musuh, terpisah hanya oleh waktu beberapa jam, dan keduanya memilih tidak menumpahkan darah atas sebatang kayu bakar.
Mereka membawa pulang sebanyak yang bisa diangkut, dan ketika api menyala kembali di galian, Bara melihat sesuatu hidup kembali di mata anak-anaknya. Tapi ia tahu api saja tidak cukup. Api menghangatkan tubuh; yang harus ia jaga adalah sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang nyaris padam di dada mereka semua.
Maka malam itu Bara melakukan sesuatu yang ia pelajari bukan dari pelatihan, melainkan dari Jaya. Ia mengambil panci tua yang penyok, mengisinya dengan air salju yang dilelehkan, lalu menambahkan apa pun yang bisa ia kumpulkan: sisa ransum, sepotong dendeng keras, beberapa siung bawang, dan dari saku dalamnya, sebagian kecil dari bungkus kunyit yang ibunya berikan dulu, yang selama ini ia simpan seperti jimat. Ia tahu ibunya memberikannya untuk obat luka. Tapi malam itu ada luka yang lebih dalam dari daging, dan ia memutuskan kunyit itu untuk obat yang lain.
"Apa itu, Bang?" tanya Galih, mendekat, tertarik oleh bau yang asing di tengah bau lumpur dan beku.
"Dulu, di parit lama, kami suka membuat ini," kata Bara, mengaduk pelan. "Kami menyebutnya soto istana. Bukan karena enak. Karena ketika kau makan ini bersama-sama, dalam dingin, kau merasa seperti raja. Dan untuk semalam, kau lupa kau sedang di neraka."
"Tio yang mengajari kami," lanjut Bara, dan nama itu terasa hangat dan menyakitkan di mulutnya sekaligus. "Dia tukang panggul ikan dari pelabuhan. Mulutnya tak pernah berhenti. Dia bilang, selama kita masih bisa duduk makan bersama dan mengeluh soal rasanya, berarti kita masih hidup, masih saudara. Dia yang menamainya soto istana." Bara mengaduk pelan, uap mengepul ke wajahnya. "Dia sudah tidak ada. Tapi sotonya masih ada. Jadi malam ini kita makan untuk dia juga."
Mereka berkumpul mengelilingi panci itu, satu per satu menyodorkan mangkuk seng mereka. Bau kunyit dan bawang memenuhi galian, hangat dan keemasan, sebuah bau yang membawa ingatan tentang dapur-dapur jauh, tentang ibu-ibu yang menumbuk bumbu di pagi hari, tentang rumah yang masih utuh, tentang masa sebelum semua ini. Bidin, yang tadi meringkuk seperti orang sekarat, kini duduk tegak, menyeruput kuah panas itu dengan mata terpejam, dan untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, ia tersenyum.
"Sialan," kata Bidin serak. "Rasanya seperti masakan istriku."
Mereka tertawa. Tawa kecil, lelah, tapi nyata. Wira mulai bercerita tentang desanya. Galih menyahut tentang ibunya. Satu cerita menyulut cerita lain, dan galian yang tadi sunyi seperti makam kini dipenuhi suara-suara manusia, suara yang menolak padam. Bara duduk di antara mereka, memegang mangkuknya, dan ia merasakan sesuatu yang lebih hangat dari api dan kuah, sesuatu yang Jaya pernah ajarkan padanya tanpa kata-kata: bahwa menjaga regu tetap hidup bukan hanya soal kayu dan ransum, melainkan soal menjaga agar mereka tetap ingat bahwa mereka manusia, bahwa mereka saling memiliki, bahwa di luar dingin ini masih ada dunia yang menunggu.
Api itu menyala sampai pagi. Dan ketika Bara akhirnya merebahkan tubuhnya yang letih, ia mendengar napas anak-anaknya yang teratur, tenang, hidup. Ia telah memenangkan satu malam lagi dari tangan musim dingin. Hanya satu malam. Tapi di tempat seperti ini, satu malam adalah segalanya.