Salju datang tanpa peringatan, pada suatu subuh yang tak ada bedanya dengan subuh-subuh lain sampai Bara membuka mata dan mendapati dunia telah berubah putih. Butir-butir pertama jatuh perlahan, hampir indah, menempel di kawat berduri dan karung pasir dan moncong senapan mesin, melapisi parit yang kotor itu dengan selimut yang seolah hendak menyembunyikan semua dosa yang pernah terjadi di sini. Untuk sesaat, sebelum kakinya menyentuh tanah, Bara hampir lupa di mana ia berada.
Lalu dingin itu masuk ke tulangnya, dan ia ingat.
Perlengkapan musim dingin tak pernah datang. Mantel-mantel yang dijanjikan, sarung tangan, kaus kaki kering, sepatu bot baru, semua itu tertahan di suatu gudang di kota belakang, dijaga oleh nama-nama dan tanda tangan yang tak pernah merasakan bagaimana rasanya jari kaki yang membeku sampai tak terasa lagi. Yang mereka punya hanyalah mantel tipis yang sudah berbulan-bulan terendam lumpur, kini mengeras seperti papan ketika beku.
Pada hari-hari pertama, salju itu masih terasa seperti keajaiban kecil yang muram. Anak-anak yang dari selatan, yang belum pernah melihat salju seumur hidup mereka, menengadahkan wajah ke langit, membiarkan butir-butir dingin itu mencair di lidah mereka, tertawa seperti bocah. Galih menangkupkan kedua tangan, mengumpulkan segenggam, lalu melemparkannya ke Wira, dan untuk sesaat parit itu dipenuhi tawa yang ganjil di tengah perang. Bara membiarkan mereka. Ia tahu kegembiraan kecil itu tak akan bertahan lama, dan biar saja mereka memilikinya selagi bisa.
Lalu dingin itu menggali lebih dalam, dan keajaiban berubah menjadi siksaan.
Trench foot menyerang lebih dulu. Galih yang pertama mengeluh, kakinya yang terus-menerus basah di dasar parit mulai membengkak, kulitnya berubah ungu kebiruan dan mengilap seperti daging busuk, dan ketika ia melepas sepatunya, baunya membuat orang-orang di sekitarnya berpaling. Bara berlutut di depannya, memeriksa kaki itu dengan hati-hati, menekan kulit yang sudah mati rasa, mengingat kata-kata mantri yang pernah ia dengar di parit lama: keringkan, hangatkan, gerakkan jari-jari, jangan biarkan basah.
"Kau harus melepas bot ini setiap malam," kata Bara. "Keringkan kakimu dengan kain. Pijat jari-jarimu. Aku tidak peduli sedingin apa. Kalau kau biarkan, kau akan kehilangan kaki itu. Aku pernah lihat. Mereka memotongnya, Galih. Mengerti?"
Galih mengangguk, wajahnya pucat ketakutan.
Tapi musuh yang sebenarnya bukan trench foot. Musuh yang sebenarnya datang malam itu, ketika suhu jatuh lebih jauh dari yang pernah mereka rasakan, dan angin dari utara membawa serpihan es yang menusuk seperti jarum. Mereka berdesakan di galian, membakar apa pun yang bisa dibakar, papan, kain, bahkan beberapa lembar surat lama yang tak akan pernah terkirim. Bara berjalan menyusuri pos jaga, memastikan tak ada yang tertidur, karena tertidur dalam dingin seperti ini berarti tidak akan bangun lagi.
Ia menemukan prajurit itu menjelang dini hari. Namanya Tukimin, anak baru, sebaya Wira, yang baru dua minggu di garis depan. Ia duduk di pojok pos jaga, kepalanya bersandar ke dinding tanah, matanya setengah terbuka, dan di bibirnya tersungging senyum tipis yang ganjil, seolah ia sedang bermimpi tentang sesuatu yang hangat.
"Tukimin," kata Bara. Ia mengguncang bahu anak itu. Keras seperti batu. "Tukimin!"
Tak ada peluru yang ditembakkan malam itu. Tak ada serangan, tak ada artileri, tak ada penembak jitu. Musuh tidak datang dari seberang tanah tak bertuan. Musuh datang dari langit, turun butir demi butir, putih dan diam dan sabar, dan ia merenggut Tukimin tanpa suara, tanpa darah, tanpa satu pun tanda kekerasan kecuali kedamaian yang keliru di wajahnya yang membeku.
Tapi Tukimin sudah pergi. Tubuh itu kaku, dingin, dan ringan, terlalu ringan, seolah salju telah mengisap segala beratnya, segala panas, segala masa depan yang seharusnya ia punya. Bara mengguncangnya sekali lagi, tahu itu percuma, lalu berhenti.
Bara duduk di samping jasad itu untuk waktu yang lama. Anak buahnya berkumpul di sekitarnya, diam, napas mereka mengepul putih di udara seperti roh-roh kecil yang melayang sebentar lalu lenyap. Tak ada yang berkata-kata. Mereka semua tahu bahwa setiap dari mereka bisa menjadi Tukimin, bahwa garis antara hidup dan mati di sini setipis selembar mantel basah, bahwa tidur, hal paling alami dan paling diinginkan oleh tubuh yang letih, kini telah menjadi musuh yang berkhianat dari dalam.
"Dia anak yang baik," kata Wira pelan, suaranya pecah. "Dia masih hafal nama-nama kita semua. Dia belum sempat lupa siapa pun."
Bara mengangguk. Ia melepas sarung tangannya yang compang-camping dan meletakkan tangan telanjangnya di kepala Tukimin sekali, sebuah perpisahan, sebuah pengakuan. "Tukimin," katanya, mengucapkan nama itu keras-keras agar udara mendengarnya, agar dingin tahu bahwa anak ini punya nama. "Namanya Tukimin. Dari mana asalmu, Nak, aku bahkan belum sempat bertanya."
Mereka mengubur Tukimin ketika fajar tiba, menggali tanah yang keras membeku dengan susah payah, beliung memantul dari permukaan seperti memukul batu, masing-masing bergiliran karena tak ada yang sanggup terlalu lama sebelum tangan mereka sendiri membeku. Akhirnya lubang itu tak lebih dalam dari sepinggang, dan mereka harus menumpuk batu di atasnya agar binatang tak menggalinya. Bara menandai makam itu dengan sepotong papan, menggores namanya dengan ujung bayonet, huruf demi huruf, perlahan, karena tangannya pun gemetar. Lalu ia berdiri, menghadap anak-anaknya yang menggigil, dan ia tahu apa yang harus ia lakukan agar mereka tidak menyusul Tukimin ke dalam dingin.
"Mulai malam ini," katanya, "tidak ada yang tidur sendirian. Kalian tidur berhimpitan, berbagi panas tubuh. Setiap dua jam ganti jaga, tidak boleh lebih. Kalau kalian lihat ada yang mengantuk berlebihan, yang bicaranya melantur, yang tiba-tiba merasa hangat padahal dingin, itu tanda bahaya. Jangan biarkan dia tidur. Pukul dia kalau perlu. Kita tidak kalah dari peluru, kita tidak boleh kalah dari salju."
Mereka mengangguk. Dan ketika malam kembali turun, putih dan kejam, regu itu meringkuk bersama dalam galian seperti seekor binatang besar dengan banyak hati yang berdebar, saling memberi panas, saling menjaga napas. Di luar, salju terus turun di atas parit, menimbun papan bertuliskan nama Tukimin, dan Bara terjaga sepanjang malam, menghitung napas anak-anaknya, satu per satu, sampai langit kembali pucat.