Kabar itu datang seperti hampir semua kabar baik di front: terlalu manis untuk dipercaya, lalu terbukti memang tak boleh dipercaya. Karto, kurir bertubuh kecil yang selalu berlari membungkuk seolah langit hendak menimpanya, melemparkan selembar pengumuman ke meja kayu di ruang komando galian, lalu menyeringai lebar.
"Cuti, Bang," kata Karto, napasnya masih tersengal. "Markas batalion buka jatah cuti. Empat belas hari. Buat yang sudah enam bulan di garis depan."
Bara menatap kertas itu lama, lebih lama dari yang ia kira perlu. Di dalam galian yang lembap itu, di antara bau tanah dan minyak senapan dan keringat yang sudah meresap ke dinding, kata "cuti" terdengar seperti nama sebuah negeri yang sudah ia lupakan ada. Empat belas hari. Cukup untuk pulang ke Sumberarum. Cukup untuk melihat wajah ibunya, untuk mencium bau jerami yang sudah berbulan-bulan hanya hidup di mimpinya, untuk duduk di dipan bambu dan mendengar suara air mengalir di pematang tanpa khawatir suara itu menutupi langkah penembak jitu.
Ia menyentuh saku dalamnya, tempat bungkus kunyit ibunya masih tersimpan, kini tinggal seperempat dari semula. Pulang. Kata itu terasa terlalu asing di lidahnya, seolah milik orang lain, milik Bara yang dulu, yang masih takut menarik pelatuk, yang belum tahu betapa beratnya nama-nama yang akan ia gendong.
Ia tidak boleh menunjukkan terlalu banyak. Bukan di depan anak-anak. Tapi malam itu, ketika ia membacakan pengumuman itu kepada regu, ia melihat sesuatu menyala di wajah-wajah mereka yang kuyu. Galih, prajurit baru yang masih sering tersedak ketakutannya sendiri, langsung menghitung dengan jari berapa hari lagi sampai gilirannya. Wira menulis nama-nama desa yang ingin ia singgahi. Bahkan Bidin, veteran sinis yang biasanya mendengus pada segala sesuatu, malam itu diam-diam mengeluarkan foto yang lecek dari balik mantelnya dan menatapnya lama.
"Aku duluan, ya," kata Bidin, suaranya kasar tapi getarannya tak bisa ia sembunyikan. "Sudah delapan bulan aku di lumpur ini. Anakku belum pernah lihat mukaku. Lahir waktu aku sudah di sini. Istriku kirim foto, tapi foto tidak bisa kupeluk, kan." Ia menatap foto lecek itu lagi, lalu cepat-cepat memasukkannya kembali, seolah malu telah memperlihatkan bagian dirinya yang lunak.
Bara mengangguk. Ia menyusun daftar dengan adil, nama demi nama, mengukur siapa yang paling lama tak pulang, siapa yang keluarganya paling membutuhkan, siapa yang sudah paling rapuh dimakan parit. Ia menyerahkan daftar itu ke Karto untuk dibawa ke belakang, dan untuk pertama kalinya sejak lama, parit itu dipenuhi sesuatu yang nyaris seperti kegembiraan. Mereka membicarakan masakan ibu, jalan kampung yang berdebu di kemarau, suara perempuan yang tertawa di sumur desa, hal-hal yang terasa terlalu rapuh untuk diucapkan keras-keras tapi tetap mereka ucapkan, karena mengucapkannya membuat hal-hal itu terasa lebih nyata, lebih dekat, lebih mungkin.
"Kalau aku pulang," kata Galih malam itu, matanya berbinar dalam cahaya redup, "aku mau makan nasi yang masih panas. Yang baru diangkat dari dandang. Sampai berkeringat. Sudah berbulan-bulan aku cuma makan ransum dingin yang rasanya seperti tanah."
"Aku mau tidur," sahut Wira. "Tidur sampai siang. Tanpa harus bangun jaga. Tanpa dengar mortir."
Bara mendengarkan mereka, dan ia tidak ikut menyebutkan apa yang ia inginkan. Ia hanya ingin melihat ibunya masih bernapas. Itu saja. Sisanya tak penting.
Tiga hari kemudian, daftar itu kembali. Bukan dengan persetujuan.
Karto tak menyeringai kali ini. Ia menyerahkan kertas yang sama, kini dicoret dengan tinta merah di sudut, dan sebuah surat perintah baru. Bara membacanya di bawah cahaya lampu badai. Cuti ditangguhkan sampai pemberitahuan lebih lanjut. Situasi taktis tidak memungkinkan pengurangan kekuatan di garis depan. Tertanda, atas nama Mayor Hardi.
"Situasi taktis," ulang Bara pelan. Di luar galian, tak ada apa-apa selain angin dingin yang menyusup lewat celah karung pasir dan diam yang panjang. Tak ada serangan. Tak ada gerakan musuh. Garis depan telah membeku menjadi kebuntuan yang membosankan selama berminggu-minggu. Situasi taktis hanyalah dua kata yang dipakai orang-orang di kota belakang untuk menyebut keengganan mereka melepaskan tenaga kerja gratis, dua kata yang menyembunyikan kebenaran yang lebih sederhana dan lebih kejam: bahwa mengganti dan memulangkan prajurit itu merepotkan, dan kerepotan itu tak sepadan dengan kenyamanan orang-orang yang menandatangani.
Ia harus mengabarkannya sendiri. Itu bagian terberat dari memimpin yang tak pernah Jaya katakan padanya: bahwa kau bukan hanya yang menyuruh maju, tapi juga yang harus mematahkan harapan dengan tanganmu sendiri.
Ketika Bara mengumpulkan mereka dan berkata jatah cuti dibatalkan, parit itu hening dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Galih menurunkan jari-jari yang tadi menghitung. Wira meremas kertas berisi nama-nama desa, lalu memasukkannya ke saku tanpa berkata apa-apa. Bidin tertawa, tawa pendek yang lebih pahit dari umpatan apa pun.
"Tentu saja," kata Bidin. "Tentu saja. Mereka di belakang sana tidur di kasur, makan daging, sementara kita di sini cuma angka di kertas mereka. Angka yang tidak boleh berkurang." Ia meludah ke lumpur. "Anakku akan tumbuh besar tanpa pernah tahu mukaku, dan mereka menyebutnya situasi taktis."
Bara ingin membela komando. Ingin mengatakan barangkali memang ada alasan, barangkali ada gerakan musuh yang tak mereka ketahui. Tapi ia tak bisa. Karena diam-diam, di dasar dadanya, ia merasakan kegetiran yang sama, kegetiran yang tumbuh seperti karat: bahwa nyawa-nyawa di sini tak ditimbang dengan ukuran yang sama oleh tangan-tangan yang memegang pena di kota belakang.
Ia memandang anak-anaknya satu per satu, dan ia tahu sesuatu telah berubah malam itu. Bukan ketakutan yang membuat seorang prajurit hancur, ia mulai mengerti. Ketakutan masih punya hati. Yang membunuh dari dalam adalah ketika seseorang berhenti percaya bahwa ada yang peduli apakah ia pulang atau tidak.
"Dengar," kata Bara akhirnya, suaranya pelan tapi tegas. "Mereka boleh menahan cuti kita. Tapi mereka tidak bisa menahan satu hal." Ia menatap mereka. "Kita masih saling menjaga di sini. Kita masih saudara. Dan aku berjanji satu hal pada kalian: aku tidak akan pernah menganggap kalian sebagai angka. Tidak akan pernah."
Tak ada yang menyahut. Tapi Wira mendekat, dan dalam gelap, tangan anak muda itu menepuk bahu Bara sekali, pelan, seolah hendak mengatakan bahwa janji itu telah didengar. Di kejauhan, langit mulai berubah warna, dingin pertama musim gugur menggigit udara, dan Bara tahu bahwa hal-hal yang lebih buruk dari sekadar harapan yang dipatahkan sedang menunggu mereka di balik kabut.