Mantel musim dingin belum datang, tapi penyakit selalu tepat waktu.
Dingin membawa serombongan musuh tak kasat mata. Batuk yang menggerogoti dada anak-anak muda sampai mereka tak bisa tidur. Demam yang membakar tanpa luka. Kaki yang membusuk di dalam sepatu basah—trench foot, kaki parit, jari-jari yang menghitam dan mati pelan-pelan dalam diam. Dan yang terburuk, yang paling cepat menyebar di antara tubuh-tubuh yang berdesakan kedinginan: disentri, yang sudah pernah merenggut nyawa di kemarau, kini kembali di dingin, kejam tak pandang musim.
Bara melihat regunya menyusut bukan oleh peluru tapi oleh demam, dan ia merasa lebih tak berdaya daripada di bawah tembakan mana pun. Melawan musuh, setidaknya ia bisa menembak balik. Melawan ini, tangannya kosong.
Lalu datang mantri Sukma.
Ia muncul suatu pagi dengan tas medis yang lebih banyak menyimpan udara daripada obat, kuda kurir yang kelelahan, dan wajah seseorang yang sudah terlalu lama melihat orang mati tanpa bisa mencegahnya. Tidak muda, tidak tua—usia yang sulit ditebak, dimakan oleh kerja yang terlalu berat. Tangannya cekatan tapi gemetar di ujung, mata yang tajam tapi kelelahan menggantung di bawahnya seperti memar.
"Berapa yang sakit?" tanya Sukma, bahkan sebelum turun dari kuda. Tidak ada basa-basi. Tidak ada waktu untuk itu.
"Sembilan," kata Bara. "Tiga parah. Salah satunya—" Ia menelan. "Galih. Demam tinggi sejak dua malam. Mengigau."
Sukma turun, dan tanpa membuang detik langsung menuju lubang tempat para sakit dibaringkan. Bara mengikutinya, dan menonton mantri itu bekerja dengan campuran kekaguman dan kengerian. Sukma memeriksa satu per satu, menempelkan punggung tangan ke dahi, menekan perut, memeriksa kaki yang menghitam, mencium napas. Dan setiap kali ia selesai memeriksa satu, wajahnya mengeras sedikit lagi, karena ia tahu apa yang dibutuhkan—dan ia tahu ia tak punya itu.
"Aku butuh obat penurun demam. Aku tak punya," gumam Sukma, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Bara. "Aku butuh air bersih untuk yang disentri. Sungai itu kotor. Aku butuh sepatu kering untuk yang kakinya membusuk, kalau tidak harus kupotong jarinya sebelum naik ke betis. Aku butuh—" Ia berhenti, menutup matanya, dan menghela napas yang membawa seluruh kelelahan dunia. "Aku butuh banyak hal yang tidak ada. Itu pekerjaanku, Sersan. Membutuhkan hal-hal yang tidak ada."
"Aku bukan sersan," kata Bara pelan. "Cuma Bara."
Sukma menatapnya, dan untuk pertama kali sesuatu yang seperti penghormatan muncul di mata lelahnya. "Kau yang memimpin mereka." Bukan pertanyaan. "Mereka yang sakit, semua menyebut namamu saat mengigau. 'Pak Bara, Pak Bara.' Seolah kau bisa menyembuhkan mereka." Ia tersenyum tipis dan pahit. "Mereka percaya padamu lebih dari mereka percaya pada obatku. Mungkin itu satu-satunya obat yang masih kupunya."
Bara menatap mantri itu, dan untuk pertama kali memahami sebuah jenis keberanian yang berbeda dari yang ia kenal. Keberanian Jaya adalah keberanian melompat keluar parit. Keberanian Sukma adalah keberanian masuk ke lubang penuh orang sekarat dengan tas yang ia tahu terlalu kosong, hari demi hari, dan tetap mengulurkan tangan meski tahu sebagian besar tangan itu akan menutup mata, bukan menyembuhkan. Tak ada medali untuk itu. Tak ada lagu. Hanya kelelahan yang menumpuk di bawah mata, dan deretan wajah yang tak bisa diselamatkan, yang ditanggung seseorang dalam diam.
Mereka bekerja sepanjang hari, dan Bara belajar bahwa menjaga nyawa kadang sama sekali tak ada hubungannya dengan menembak. Ia memimpin patroli ke hulu sungai mencari air yang lebih bersih, merebusnya di atas api kecil sampai aman diminum. Ia menyuruh anak-anak yang sehat melepas sepatu para sakit, mengeringkan kaki mereka, menggosoknya agar darah mengalir. Ia membongkar selimutnya sendiri untuk yang paling menggigil. Ia menyuapi Galih yang mengigau, setetes demi setetes air rebusan, sambil berbisik nama-nama desa, nama-nama yang Galih kenal, agar anak itu punya sesuatu untuk dipegang dalam kabut demamnya.
"Pak Bara," gumam Galih di tengah igauannya, mata setengah terbuka, tak benar-benar melihat. "Layang-layangnya... anak desa itu... sudah jadi belum...?"
"Sudah jadi," kata Bara, menahan agar suaranya tak pecah. "Sudah terbang tinggi, Galih. Paling tinggi di langit. Kau harus sembuh biar bisa lihat."
Galih tersenyum dalam tidurnya, dan demamnya, malam itu, mulai turun. Sedikit. Cukup.
Tidak semua seberuntung itu. Menjelang subuh, salah satu dari tiga yang parah—seorang anak yang bahkan Bara belum sempat benar-benar mengenal namanya—berhenti bernapas, tenang, tanpa drama, hanya berhenti seperti lilin yang habis. Sukma menutup matanya dengan tangan yang sudah terlalu sering melakukan gerakan itu. Tidak ada peluru. Tidak ada musuh. Hanya dingin, dan kekurangan, dan jarak yang terlalu jauh dari obat yang ada di gudang Kota Garda.
Bara menulis namanya di buku catatan—setelah bertanya pada yang lain, karena ia tak tahu—dan menyadari betapa kejamnya itu: seorang anak mati, dan komandannya bahkan harus bertanya siapa namanya. Ia bersumpah dalam hati untuk mengingat. Itu yang bisa ia lakukan. Satu-satunya. Mengingat.
Sukma berdiri di sampingnya saat fajar, menatap tubuh yang ditutup selimut. "Aku akan kembali dengan obat," katanya, tapi nada suaranya tak yakin pada janjinya sendiri. "Kalau aku bisa memaksa mereka di belakang untuk peduli."
"Mereka tidak akan peduli," kata Bara, dan ia terkejut pada betapa pahitnya suaranya. "Tapi kita peduli. Itu harus cukup, untuk sekarang."
Mantri itu menatapnya lama, lalu mengangguk, naik ke kudanya yang lelah, dan menghilang ke arah belakang garis—menuju gudang-gudang yang penuh, dan meja-meja yang dingin, dan seorang mayor yang tidur nyenyak.