Kemarau patah seperti ranting kering, dan musim gugur datang menggigit dari utara. Bara merasakannya pertama kali pada suatu subuh, ketika ia bangun dan napasnya mengepul putih di udara, dan tanah di bawah punggungnya keras seperti besi. Dingin. Bukan dingin malam biasa yang bisa diusir api kecil. Dingin yang menetap, yang merangkak ke dalam tulang dan tinggal di sana.
"Sebentar lagi salju," kata Bidin, menggosok tangannya yang merah. Veteran itu sudah pernah melewati musim beku di front, dan suaranya membawa peringatan tua. "Dan kalau perlengkapan musim dingin tidak datang sebelum salju pertama, kita akan kehilangan lebih banyak orang karena beku daripada peluru."
Mereka memang tidak datang. Itu masalahnya.
Surat permintaan demi surat permintaan dikirim ke belakang. Mantel tebal, sarung tangan, sepatu bot kering, selimut tambahan, minyak untuk senjata agar mekanismenya tak membeku—semua diminta, dan semua tak kunjung tiba. Yang datang hanyalah janji. Dan di balik janji-janji itu, Bara mulai mendengar satu nama berulang kali: Mayor Hardi.
Bara pernah bertemu Mayor Hardi langsung, sekali, di Kota Garda, hari ia menjenguk Jaya yang sekarat—lelaki bertubuh tegap dengan mata yang menghitung, yang mengukur perang dari atas peta. Tapi nama itu sudah menjadi semacam dinding di antara front dan logistik yang seharusnya menghidupinya. Setiap permintaan yang naik ke meja sang mayor, kata kabar yang turun ke parit, tampak menguap. Bukan karena gudang kosong—prajurit yang baru kembali dari belakang bersumpah melihat tumpukan mantel di depot Kota Garda. Tapi karena prioritas. Karena angka di atas kertas. Karena seorang mayor yang mengukur perang dengan peta dan ambisi, dan menganggap regu garis depan Brangas sebagai kolom yang bisa menunggu.
Bara mulai membenci nama itu, meski wajah pemiliknya sudah pernah ia lihat sekali, dari dekat. Setiap malam yang lebih dingin dari malam sebelumnya, setiap anak muda yang batuknya makin dalam, setiap kabar tentang depot penuh di Kota Garda—semuanya mengeras menjadi satu sosok yang jauh dan tak terjangkau, seorang mayor yang memegang nasib mereka di ujung penanya dan memilih untuk tidak menggoreskannya. Bara tahu itu tidak adil, menumpukkan seluruh dingin pada satu nama. Pasti ada birokrasi, perintah dari lebih atas, gudang yang sebenarnya tak sepenuh kabar. Tapi di parit yang membeku, keadilan adalah kemewahan. Yang ada hanya tubuh yang menggigil dan pertanyaan yang sama berulang: kenapa kami, yang paling dekat dengan maut, mendapat yang paling sedikit untuk bertahan hidup?
"Mereka di kota garnisun pakai mantel rangkap tiga," gerutu Galih, gemetar di balik selimut tipisnya yang sudah ia rapatkan sampai ke dagu. "Kita di sini menggigil sampai gigi berbunyi. Kenapa, Pak Bara? Kenapa kita yang berdarah malah dapat paling sedikit?"
Bara tidak punya jawaban yang jujur dan membesarkan hati sekaligus. Jadi ia memberi yang benar saja. "Karena kita jauh," katanya pelan. "Karena di atas kertas, kita cuma garis. Dan garis tidak menggigil." Ia menatap anak-anak yang meringkuk berdesakan untuk berbagi panas tubuh. "Tapi kita bukan garis. Kita orang. Jadi kita jaga satu sama lain sampai mantel itu datang. Berdua-dua di satu lubang. Yang satu tidur, yang satu jaga, lalu gantian. Tidak ada yang tidur sendirian di malam beku. Mengerti?"
Mereka mengangguk, mendekat satu sama lain. Komandan si kucing, yang biasanya angkuh dan suka menyendiri, malam-malam itu memilih menyusup ke dalam lubang yang paling banyak orang, menggulung dirinya di antara tubuh-tubuh hangat, dan tinggal di sana. Bahkan kucing tahu, pikir Bara. Di musim beku, kau bertahan dengan saling menempel.
Bara memikirkan ibunya. Di Sumberarum, di selatan, musim dingin lebih ramah—tak ada salju, hanya hujan dan angin. Ia memikirkan dapur ibunya, asap kayu bakar, hangat yang tak perlu diperjuangkan. Ia mengeluarkan bungkus kunyit-bawang dari saku dalamnya, kini tinggal kantong kain kosong yang masih menyimpan bau samar, dan menggenggamnya. Kehangatan itu tinggal kenangan. Tapi kenangan, Bara mulai mengerti, kadang cukup untuk membuat seseorang bertahan satu malam lagi.
Malam itu, dingin pertama yang sesungguhnya turun. Bukan salju—belum—tapi embun beku yang melapisi segala benda dengan kristal putih tipis, yang membuat logam senjata menempel di kulit telanjang, yang membuat air di kantin membeku jadi keping es. Bara mengetuk laras senapannya dan mendengar bunyi yang salah, kaku, mekanisme yang mulai melamban karena minyak mengental dalam dingin. Ia menghangatkannya dengan tangannya sendiri, sedikit demi sedikit, karena senjata yang membeku adalah senjata yang macet di saat paling kau butuhkan. Bara berjaga separuh malam, menyerahkan tidurnya pada anak-anak yang lebih membutuhkan, dan menatap ke seberang sungai di mana, ia tahu, musuh juga menggigil. Mereka juga tak punya cukup mantel. Mereka juga punya anak-anak muda yang meringkuk berdesakan, memimpikan dapur ibu mereka. Mungkin, pikir Bara, di malam-malam seperti ini garis di antara dua tentara menjadi paling tipis—ketika musuh sejati bagi keduanya bukan lagi satu sama lain, tapi langit yang sama yang membekukan keduanya tanpa pandang bendera.
Perang ini, pikir Bara, akan segera punya musuh ketiga yang tak memihak siapa pun. Bukan dia. Bukan mereka. Tapi dingin. Dingin yang akan datang dengan saljunya, dan menghitung nyawa dengan jarinya yang putih, dan tidak peduli pada bendera, pada peta, pada ambisi seorang mayor yang tidur nyenyak di balik mantel rangkap tiga di Kota Garda.
Ia merapatkan kerah seragamnya yang tipis, dan menunggu fajar yang—untuk pertama kalinya sejak ia tiba di front—ia harapkan datang bukan karena ia ingin hari baru, tapi hanya karena ia ingin sedikit cahaya yang mungkin, mungkin saja, membawa secuil kehangatan.