Namanya Surani.
Seorang prajurit dari gelombang wajib militer baru, pendiam, yang selalu murung setiap kali karung pos datang. Bara sudah lama merasakan ada sesuatu yang salah pada anak itu, sesuatu yang ia bawa sendirian dan tak pernah ia ucapkan, seolah ada beban yang menggerogotinya dari dalam.
Bara mendekatinya saat fajar, sendirian, jauh dari yang lain. Ia tidak membawa senjata terhunus. Ia hanya duduk di sebelah Surani di lubang yang menghadap sungai, dan untuk beberapa saat keduanya hanya memandang air yang mulai berkilau di bawah matahari pucat.
"Aku tahu," kata Bara akhirnya, pelan. Tidak menuduh. Hanya menyatakan.
Surani tidak menyangkal. Ia tidak melompat, tidak berlari, tidak meraih senjata. Ia hanya menunduk, dan bahunya yang muda itu mulai berguncang. Lalu, dengan suara yang patah, ia bercerita.
Bukan pengkhianatan, ternyata. Bukan mata-mata yang disusupkan, bukan ideologi, bukan uang. Sesuatu yang jauh lebih membumi dan jauh lebih kejam. Keluarga Surani—ibu, dua adik perempuan—berada di sebuah desa yang kini di belakang garis musuh. Tertangkap di sisi yang salah ketika front bergeser. Dan seseorang dari pihak seberang, entah bagaimana, telah menemukan cara mengirim pesan: berikan kami informasi posisi kalian, dan keluargamu tetap hidup. Diam, dan mereka mati.
"Aku tidak tahu harus bagaimana, Pak Bara." Air mata mengalir di pipi bundar yang belum lama meninggalkan masa kanak. "Adikku yang kecil baru tujuh tahun. Mereka kirim—mereka kirim potongan rambutnya. Lewat surat. Supaya aku tahu mereka tidak main-main." Ia menutup wajahnya. "Setiap karung pos datang aku berdoa tidak ada surat. Tapi selalu ada. Dan setiap kali aku menulis balasan, aku tahu kawan-kawanku mati karena aku. Parjo mati karena aku, Pak. Aku tahu mortir itu jatuh karena posisi yang aku—" Ia tak bisa melanjutkan.
Bara teringat hari-harinya sendiri menunggu pos—bagaimana setiap karung yang datang membawa harap dan takut sekaligus, bagaimana surat dari ibunya menjadi tali tipis yang mengikatnya pada dunia di luar lumpur. Ia membayangkan tali itu diubah menjadi rantai, menjadi cambuk. Membayangkan dirinya di kursi Surani: ibu di Sumberarum, ditahan, dengan janji yang sama—khianati kawanmu, atau dia mati. Otaknya menolak menyelesaikan bayangan itu, karena ia tak sanggup tahu apa yang akan ia pilih.
Bara duduk diam, dan dunia di dalam dirinya terbelah dua.
Di satu sisi: keadilan. Prajurit ini telah membocorkan posisi. Kawan-kawan telah mati karenanya. Parjo—pipi bundar Parjo—telah mati. Aturan perang jelas, dan hukumannya hanya satu. Bidin akan menuntut itu. Komando akan menuntut itu. Surya, dengan segala perubahannya, mungkin tak punya pilihan selain itu.
Di sisi lain: belas kasih. Bara melihat dirinya sendiri di anak ini. Apa yang akan ia lakukan jika ibunya di Sumberarum ditahan dengan pisau di leher, dan satu-satunya cara menyelamatkannya adalah mengkhianati yang lain? Ia ingin berkata ia akan memilih dengan benar. Tapi ia tidak yakin. Tak ada manusia yang benar-benar yakin sampai ia berdiri di tempat itu.
"Kenapa kau tidak datang padaku?" tanya Bara akhirnya, suaranya serak. "Kenapa kau tanggung sendiri?"
"Karena tidak ada yang bisa Pak Bara lakukan," bisik Surani. "Keluargaku di sana. Pak Bara di sini. Apa yang bisa diperbuat? Aku cuma bisa memilih: keluargaku, atau kawan-kawanku. Setiap hari aku memilih. Dan setiap hari aku salah."
Bara menatap sungai. Air yang pernah berubah merah kini mengalir cokelat tenang, seolah lupa. Tapi Bara tidak lupa. Parjo. Pipi bundar. Pesan terakhir yang tak sempat selesai.
Ia memikirkan Jaya. Apa yang akan Jaya lakukan? Sang kopral yang keras tapi mengasihi, yang istrinya dan putrinya tewas oleh bom pihak sendiri—oleh sebuah kesalahan, oleh sistem yang tak peduli pada nama. Jaya, yang tetap memilih membawa anak-anak muda pulang meski dunia telah merampas segalanya darinya.
"Dengar aku, Surani." Bara menoleh, dan menatap mata basah anak itu. "Kau salah. Kau membunuh kawan-kawan kita, dan itu tidak bisa kuhapus. Parjo tidak bisa kembali." Ia berhenti, dan suaranya melembut, lebih berat. "Tapi kau juga korban. Mereka menjadikan cintamu pada keluargamu sebagai senjata. Itu yang paling kejam dari perang ini—mereka mengambil hal terbaik dalam dirimu dan membuatmu menggunakannya untuk membunuh."
Surani menatapnya, tak mengerti ke mana arah ini.
"Aku tidak akan menyerahkanmu untuk ditembak diam-diam di belakang lumbung," kata Bara. "Tapi aku juga tidak bisa membiarkanmu terus membocorkan posisi kita." Ia menarik napas, dan keputusan itu membentuk dirinya saat ia mengucapkannya, lambat dan berat seperti mengangkat batu. "Mulai sekarang, kau tidak tahu apa-apa. Aku yang atur posisi sebenarnya, dan kau hanya tahu yang palsu. Apa pun yang mereka paksa kau kirim—biar itu kebohongan yang aku siapkan untuk mereka. Kau mengerti? Kita ubah racunmu jadi jebakan."
Mata Surani melebar. "Tapi keluargaku—kalau mereka tahu aku berbohong—"
"Aku tahu." Suara Bara nyaris tak terdengar. "Itu sebabnya ini sumpah yang retak, Surani. Tak ada pilihan yang bersih. Hanya yang paling sedikit membunuh." Ia meletakkan tangan di bahu anak itu, dan beratnya terasa seperti seluruh perang. "Kita akan cari jalan untuk keluargamu. Aku berjanji aku akan coba. Tapi malam ini, kau harus percaya padaku, seperti aku memilih—Tuhan tolong aku—untuk percaya padamu."