Mereka kembali ke garis Brangas setelah istirahat, dan untuk beberapa hari segalanya tenang—terlalu tenang. Lalu kebenaran yang busuk itu mulai tercium.
Musuh tahu. Itu jelas dari serangan-serangan mereka. Ketika regu memindahkan senapan mesin ke titik baru malam hari, esok paginya mortir musuh jatuh tepat di titik lama dan titik baru sekaligus, seolah mereka membaca peta yang sama. Ketika Surya menjadwalkan patroli pengintai diam-diam, patroli itu disambut sergapan yang menunggu. Dua kali. Tiga kali. Terlalu sering untuk kebetulan.
"Ada yang membocorkan posisi kita," kata Surya malam itu, suaranya rendah dan tegang, di lubang komando yang sempit. Hanya ada Bara dan Bidin yang dipanggilnya. "Aku tidak mau percaya, tapi tidak ada penjelasan lain. Musuh tahu pergerakan kita sebelum kita melakukannya."
Bara merasakan sesuatu yang dingin merayap di perutnya. Bukan ketakutan akan peluru—ia sudah kebal pada itu. Ini ketakutan yang lain, yang lebih buruk: ketakutan terhadap orang di sampingmu. "Pengkhianat," katanya, dan kata itu terasa seperti racun di mulutnya.
"Atau mata-mata yang disusupkan," kata Bidin. Wajah lukanya keras dalam cahaya lentera. "Gelombang wajib militer terakhir. Anak-anak baru itu. Kita tidak benar-benar tahu siapa mereka, dari mana, siapa yang menyuruh mereka."
Tuduhan itu, sekali terucap, menyebar seperti racun di air. Tak ada yang berkata keras, tapi Bara melihatnya tumbuh: tatapan yang terlalu lama, percakapan yang berhenti ketika orang yang salah mendekat, tangan yang tak lagi lepas dari senjata bahkan di antara kawan. Regu yang dulu satu tubuh kini retak dari dalam, dan retakan itu lebih berbahaya daripada peluru musuh mana pun. Bara tahu—Jaya pernah mengajarkannya tanpa kata—bahwa sebuah regu yang tak lagi saling percaya sudah kalah sebelum tembakan pertama. Lumpur yang dulu mengikat mereka jadi saudara kini menjadi tanah yang menelan kepercayaan, satu langkah pelan setiap hari.
Bara melihat racun itu bekerja dengan cara yang paling licik. Bukan dengan ledakan, tapi dengan keheningan. Anak-anak yang dulu tidur berdesakan untuk berbagi panas kini memilih lubang sendiri-sendiri. Yang dulu berbagi rokok kini menyimpannya. Komandan si kucing pun, seolah merasakan perubahan di udara, berhenti berpindah dari pangkuan ke pangkuan dan lebih banyak menyendiri di atas karung pasir, ekornya bergerak gelisah. Hewan tahu kapan sebuah kawanan retak.
Galih dituduh diam-diam karena ia paling banyak bertanya soal peta. Wira dicurigai karena ia sering menghilang di malam hari (ternyata hanya untuk menulis surat dalam kesendirian). Bahkan Bidin—veteran sinis yang sudah berdarah lebih banyak dari siapa pun—dipandang miring oleh anak-anak baru karena sikapnya yang dingin. Setiap orang menjadi tersangka. Setiap orang menjadi hakim.
Bara menolak membiarkannya. Ia mengumpulkan regu suatu malam, di lubang yang sama tempat mereka biasa berbagi makan, dan berdiri di tengah mereka dengan lentera tunggal di antara wajah-wajah yang lelah dan curiga.
"Aku tahu apa yang kalian pikirkan," katanya, suaranya tenang tapi tak meninggalkan ruang untuk membantah. "Kalian saling melihat dan bertanya: apa kau yang membunuhku besok? Aku juga. Aku berbohong kalau bilang tidak." Ia berhenti, menatap satu per satu. "Tapi dengar aku. Kalau kita biarkan ini, kita tidak butuh musuh lagi. Kita akan saling membunuh sendiri dari dalam. Itu persis yang mereka mau."
Sunyi. Hanya bunyi lentera berdesis.
"Aku akan cari kebenaran," lanjut Bara. "Bukan kalian yang menebak-nebak dalam gelap, lalu menghukum orang yang salah karena takut. Aku. Beri aku waktu. Dan sampai aku temukan—" suaranya mengeras "—tak ada yang menuduh siapa pun. Tak ada yang menghakimi. Kita masih satu regu. Mengerti?"
Anggukan, ragu-ragu, satu per satu.
Tapi Bara sendiri tidak tahu di mana mulai mencari. Ia berbaring malam itu memandang langit yang penuh bintang, otaknya bekerja keras, menyusun ulang setiap serangan, setiap bocoran, setiap saat ketika musuh tahu terlalu banyak. Dan perlahan satu pola muncul—samar, mengganggu—bukan tentang siapa yang bertanya soal peta, atau siapa yang menghilang malam hari. Tapi tentang waktu. Bocoran selalu terjadi setelah karung pos datang. Setelah surat dari belakang garis tiba.
Bara duduk tegak di kegelapan, jantungnya berdebar. Surat. Seseorang yang menerima sesuatu lewat surat. Seseorang yang berubah setiap kali pos datang.
Dan ketika ia memikirkan siapa yang paling murung, paling tertutup, paling sering menyendiri setelah karung pos tiba—satu wajah muncul di benaknya. Wajah seorang prajurit yang ia kira ia kenal. Wajah yang membuat dadanya mencelos, karena Bara tahu, dengan kepastian yang menyakitkan, bahwa kebenaran ini tidak akan sesederhana pengkhianat dan hukuman.
Ia ingat pola itu dengan rinci yang menyakitkan. Serangan tepat di titik baru, dua hari setelah pos. Sergapan patroli, tiga hari setelah pos berikutnya. Selalu ada jeda—waktu yang dibutuhkan sebuah pesan untuk menyeberang ke garis musuh. Dan selalu, selalu, didahului oleh datangnya karung pos. Bukan seseorang yang mengirim sinyal lampu di malam hari, bukan mata-mata yang menyelinap. Seseorang yang menerima sesuatu, lalu membalasnya. Seseorang yang terikat pada sesuatu di belakang garis, sesuatu yang lebih kuat dari kesetiaan pada regu.
Bara merasa mual. Karena bila dugaannya benar, ini bukan kisah tentang seorang penjahat yang harus ditembak. Ini sesuatu yang jauh lebih rumit, jauh lebih manusiawi, jauh lebih kejam. Dan ia, yang harus menemukan kebenaran, juga yang harus menanggung apa pun bentuk kebenaran itu.
Ia menarik selimutnya, tak bisa tidur, menunggu fajar dengan beban baru. Besok ia akan menghadapi orang itu. Dan ia takut—bukan pada apa yang akan ditemukannya, tapi pada apa yang harus ia lakukan setelahnya.