Anak itu bernama Lintang. Bara tidak pernah berniat membiarkannya mendekat—aturan jelas: jangan biarkan warga sipil, apalagi anak-anak, menempel pada regu tempur. Tapi aturan dan nurani jarang berjalan seiring di Karangtumpuk.
Lintang yatim. Ayahnya entah ke mana—wajib militer, mungkin, atau sudah jadi salah satu nama di buku catatan seseorang. Ibunya meninggal demam musim lalu. Bocah delapan tahun itu tinggal bersama neneknya yang nyaris buta di gubuk paling ujung desa, dan ia punya kebiasaan muncul tanpa suara, berdiri di pinggir, menatap para prajurit dengan mata besar yang lapar—bukan hanya lapar makanan.
Hari itu Galih sedang membagi jatah roti kering, dan Bara melihat Lintang berdiri di pojok, tidak meminta, hanya menatap. Bara tahu ia tidak seharusnya. Jatah mereka sudah menipis; setiap keping roti berarti. Sersan Mayor logistik di belakang sudah berkali-kali mengingatkan bahwa ransum bukan untuk dibagi-bagi ke warga.
Bara menyobek setengah jatahnya sendiri dan memberikannya pada Lintang.
Bocah itu tidak langsung makan. Ia memandang roti, lalu memandang Bara, seolah menunggu jebakan. Lalu, perlahan, ia menggigit, dan matanya berkaca-kaca karena hal sesederhana itu.
"Pak Bara," kata Bidin pelan, datang dari belakang. Veteran bermuka luka itu tidak marah, tapi ada peringatan dalam suaranya. "Kalau satu kau kasih, besok ada sepuluh. Kalau sepuluh, jatah kita habis. Lalu kita yang kelaparan di garis. Kita tentara, Bara. Bukan dapur umum."
"Aku tahu, Bidin." Bara tidak membantah, karena Bidin benar. Itulah yang membuatnya berat. Kebenaran militer dan kebenaran nurani jarang sama. "Tapi lihat dia. Kita bertempur untuk apa kalau bukan untuk yang seperti dia?"
Bidin menatap Lintang lama, dan sesuatu di wajah kerasnya melunak sepersekian detik—mungkin ia ingat anaknya sendiri, di suatu tempat, di suatu masa lalu yang tak pernah ia ceritakan. Lalu ia mendengus dan berlalu, tapi malam itu Bara melihat sekeping roti misterius muncul di tangan Lintang, dan Bidin pura-pura tidak tahu apa-apa.
Lintang menjadi bayangan regu. Ia membawakan air. Ia menunjuk jalan-jalan tikus di desa yang bahkan peta tak punya. Ia tahu di mana sumur yang airnya jernih, di mana tanah yang tak boleh diinjak karena lembek, di mana lubang ular. Anak itu, dengan caranya yang kecil, menjadi berguna—dan, lebih dari itu, menjadi alasan. Alasan untuk mengingat bahwa mereka manusia, bukan mesin pembunuh.
Wira mengajarinya bermain kelereng dengan biji-biji jambu kering. Galih membuatkannya seruling dari batang padi. Bahkan Bidin, yang berlagak tak peduli, suatu sore terlihat menunjukkan pada Lintang cara mengasah pisau lipat tua—lalu cepat-cepat menyuruhnya pergi ketika sadar Bara memerhatikan. Lintang menyebut mereka semua "Kakak", kecuali Bara, yang ia panggil sama seperti yang lain: "Pak Bara". Dan setiap kali bocah itu memanggilnya begitu, ada sesuatu yang menghangat dan sekaligus mencekik di dada Bara, karena ia tahu betapa rapuhnya kehangatan ini, betapa dekatnya ia dengan garis dan dengan segala yang bisa merampasnya.
Lalu datang sore ketika semuanya nyaris runtuh.
Sebuah patroli musuh—kecil, mungkin tersesat, mungkin pengintai—menyeberang lebih dekat dari yang seharusnya. Tembakan pecah di pinggir desa. Bara berteriak menyuruh warga masuk, berlindung, dan di tengah kekacauan itu Lintang—anak bodoh, berani, bodoh—berlari ke arah tembakan untuk mencari neneknya yang masih di gubuk ujung.
Bara tidak berpikir. Ia berlari, menerjang di antara peluru, menyambar tubuh kecil itu, dan menjatuhkan diri menudunginya di balik tembok lumbung. Peluru menghantam bambu di atas kepala mereka, menyebarkan serpihan. Lintang gemetar di bawahnya, menangis tanpa suara.
"Tetap rendah," bisik Bara di telinga anak itu, kata-kata yang sama yang pernah diberikan padanya, kata-kata yang ia teruskan entah sudah berapa kali. "Aku pegang kau. Tetap rendah."
Patroli musuh itu mundur secepat datangnya—mungkin memang hanya tersesat. Tapi ketika tembakan berhenti dan debu mengendap, Bara masih memeluk anak itu, jantungnya berdebar, dan ia menyadari sesuatu yang menakutkannya lebih dari peluru mana pun: ia akan mati untuk bocah ini. Bocah yang bukan siapa-siapa baginya tiga hari lalu. Bocah yang mengingatkannya pada segala hal yang membuat perang ini terasa salah, dan sekaligus pada satu-satunya hal yang membuatnya terasa berharga.
Nenek Lintang selamat. Bara mengantar keduanya kembali ke gubuk, lalu berdiri di pintu sambil memandang senjatanya, lalu memandang anak yang kini tertidur kelelahan dengan jejak air mata kering di pipinya. Roti, anak, dan senapan, pikirnya. Tangan yang sama yang memegang senapan tadi pagi menyobek roti tadi siang dan memeluk anak ini sore tadi. Bagaimana satu tangan bisa melakukan ketiganya?
Bidin datang berdiri di sampingnya, menatap anak yang tidur. Lama keduanya diam. Lalu veteran itu berkata, suaranya kasar dan rendah, "Aku punya anak dulu. Seumuran dia." Itu saja. Ia tak menambahkan apa-apa lagi, dan Bara tak bertanya, karena cara Bidin mengucapkan kata "dulu" sudah memberitahu segalanya yang perlu diketahui. Mereka berdiri bersama dalam gelap, dua orang yang berbeda umur dan watak, disatukan oleh satu hal sederhana: bahwa di balik semua keras dan dingin yang perang tuntut dari mereka, masih ada sesuatu yang menolak mati—sesuatu yang akan berlari ke arah peluru demi seorang anak yang bukan siapa-siapa.
Ia tidak punya jawaban. Tapi ia tahu, dengan kepastian dingin, bahwa selama ia masih punya tangan yang bisa menyobek roti, ia belum sepenuhnya menjadi sesuatu yang dibenci perang ini darinya.