Regu ditarik dari garis jembatan untuk beristirahat dan ditempatkan di sebuah desa kecil di belakang Brangas, desa yang—anehnya, mengerikannya—belum sepenuhnya kosong. Bara tidak menyangka masih ada warga sipil sedekat ini dengan front. Tapi ada. Beberapa keluarga keras kepala yang menolak meninggalkan tanah leluhur, beberapa orang tua yang terlalu renta untuk berjalan jauh, beberapa anak yang tak punya tempat lain.
Desa itu bernama Karangtumpuk, dan ketika Bara melangkah di jalan tanahnya yang sempit, sesuatu di dadanya mencelos. Rumah-rumah bambu beratap ilalang. Lumbung padi. Bau asap dapur dan kotoran ayam. Seekor anjing kurus yang menggonggong lalu kabur. Ini bukan Sumberarum—tapi cukup mirip untuk membuat Bara berhenti di tengah jalan dan, sesaat, tak bisa bernapas.
"Pak Bara kenapa?" tanya Wira.
"Tidak apa-apa." Bara menggeleng, melanjutkan langkah. Tapi tidak tidak apa-apa. Ia melihat ibunya di pintu setiap rumah. Ia melihat dirinya yang dulu di setiap anak yang mengintip dari balik tiang.
Yang tertua di desa itu seorang lelaki bernama Pak Wignya—kurus, bungkuk, dengan wajah yang seperti kulit kayu tua dan mata yang masih tajam menusuk. Ia tidak menyambut prajurit dengan ramah. Ia berdiri di depan warungnya yang setengah hancur, tangan terlipat, dan menatap Bara dengan sesuatu yang lebih dekat pada kelelahan daripada kebencian.
"Kalian datang," kata Pak Wignya, suaranya berderak seperti daun kering. "Tentara datang, perang ikut datang. Sebelum kalian, di sini sepi. Sekarang aku tidur sambil menunggu meriam."
"Pak," kata Bara, dan ia menemukan suaranya melembut sendiri, suara seorang anak pada orang tua, bukan prajurit pada sipil. "Kami tidak akan lama. Kami cuma istirahat, lalu kembali ke garis. Kalau Bapak dan yang lain mau, kami bisa mengawal kalian ke kota belakang. Di sini terlalu dekat dengan—"
"Aku lahir di tanah ini." Pak Wignya menyentakkan dagunya ke tanah di bawah kakinya. "Ayahku dikubur di belakang surau itu. Kakekku juga. Kau pikir aku mau mati di kota orang, di pinggir jalan, jadi bangkai yang tak dikenal siapa-siapa?" Matanya mengilat. "Lebih baik aku mati di sini, di antara tulang-tulang yang kukenal namanya."
Bara terdiam. Kata-kata itu—di antara tulang yang kukenal namanya—menusuk lebih dalam dari yang Pak Wignya tahu. Selama kita ingat namanya, dia belum benar-benar mati. Jaya pernah berkata begitu. Orang tua ini, dengan caranya sendiri, mengatakan hal yang sama.
"Aku mengerti," kata Bara akhirnya, pelan. Dan ia memang mengerti. Itu yang membuatnya berat.
Bara tidak memaksa. Ia tahu, dari Sumberarum, betapa dalam akar seseorang bisa menancap ke tanah tempat ia lahir. Ibunya pun, pikir Bara, mungkin akan berkata hal yang sama bila perang datang ke selatan—lebih baik mati di antara tulang yang kukenal namanya. Pikiran itu membuat dadanya sesak dengan ketakutan baru yang ia simpan rapat-rapat.
Hari-hari di Karangtumpuk berjalan ganjil. Damai yang rapuh, dipinjam dari perang. Anak-anak desa, awalnya takut, perlahan berani mendekat. Komandan si kucing menjadi jembatan—anak-anak itu suka mengelusnya, dan kucing itu, dengan kesombongan tenang khas kucing, membiarkan dirinya disembah. Galih mengajari seorang bocah cara membuat layang-layang dari kertas bekas. Wira membantu seorang janda mengangkat air dari sumur. Untuk beberapa hari, mereka bukan tentara. Mereka hanya orang-orang muda di sebuah desa, jauh dari rumah, merindukan desa sendiri.
Pak Wignya tak pernah benar-benar hangat, tapi pada malam ketiga ia menaruh sepiring singkong rebus di depan Bara tanpa sepatah kata, lalu duduk di sebelahnya di bangku warung yang reyot. Mereka memandang langit bersama dalam diam.
"Kau punya ibu?" tanya Pak Wignya tiba-tiba.
"Punya." Bara menelan. "Di selatan. Desa Sumberarum."
"Sudah berapa lama tidak pulang?"
Bara harus berpikir. Waktu di front mengalir aneh; ia tak yakin lagi berapa lama. "Lama, Pak. Sudah lama sekali."
Pak Wignya mengangguk perlahan, mengunyah singkongnya dengan gigi yang tinggal sedikit. "Pulanglah, Nak. Kalau kau masih bisa. Tanah dan tulang tidak ke mana-mana. Tapi ibu—" Ia tidak menyelesaikan. Ia tidak perlu.
Bara menatap singkong di pangkuannya, dan untuk sesaat tenggorokannya terlalu sesak untuk makan. Ia memikirkan bungkus kunyit-bawang di sakunya. Ia memikirkan janji: pulang, dalam keadaan apa pun, asal pulang. Tapi ia juga memikirkan Wira, Galih, anak-anak yang menyeretnya tetap di sini. Janji-janji yang saling menarik ke arah berlawanan, seperti dua arus dalam satu sungai.
"Aku tidak bisa pulang sekarang, Pak," kata Bara akhirnya, suaranya pelan dan jujur. "Ada anak-anak muda yang aku jaga. Kalau aku pergi, siapa yang—" Ia tak menyelesaikan.
Pak Wignya mengangguk, tanpa terkejut, seolah ia sudah menduga jawaban itu. "Itu yang membuat kalian berbeda dari binatang," katanya. "Binatang lari menyelamatkan diri sendiri. Manusia tinggal demi yang lain. Tapi hati-hati, Nak." Mata tuanya menusuk dalam gelap. "Jangan sampai kau begitu sibuk menjaga semua orang sampai lupa ada satu orang di selatan yang menjaga lampu menyala untukmu."
Di kejauhan, samar di balik bukit, terdengar gemuruh tumpul. Artileri. Garis depan, mengingatkan mereka bahwa damai ini cuma pinjaman. Pak Wignya tidak bergeming. Ia hanya menatap ke arah suara itu, lalu menatap Bara, dan berkata, "Mereka akan datang ke sini juga suatu hari. Aku tahu. Kalian semua tahu." Ia bangkit dengan susah payah. "Jaga anak-anak desa kalau bisa, Nak. Itu saja yang kuminta. Tua sepertiku sudah hidup cukup lama. Tapi mereka belum."
Ia melangkah masuk ke gelap warungnya, meninggalkan Bara sendirian di bawah bintang, dengan sepiring singkong yang mendingin dan sebuah beban baru di dadanya yang sudah penuh.