Mereka kembali keesokan harinya, dan hari setelahnya. Pertempuran jembatan tidak punya satu klimaks; ia menetes, menetes setiap fajar, mengikis sedikit demi sedikit. Bara mulai membenci warna fajar—merah muda yang sama yang dulu memanggilnya keluar parit ke Bukit 88, kini muncul setiap pagi membawa deru meriam.
Air Brangas berubah merah pada hari keempat. Bukan kiasan. Bara melihatnya dengan matanya sendiri: arus cokelat yang membawa benang-benang merah dari hulu jembatan ke hilir, lalu memudar di kelok utara, seolah sungai itu sendiri terluka dan berusaha menyembuhkan diri dengan mengalir.
Mereka tak lagi mengambil air minum dari hilir. Tak ada yang mengatakannya keras-keras; mereka hanya, secara diam-diam, mulai berjalan jauh ke hulu untuk mengisi kantin, melewati jembatan dan apa yang ada di atasnya tanpa menatapnya. Sungai yang dulu menjadi garis pertahanan kini menjadi sesuatu yang lain—sebuah saksi, sebuah penghitung. Setiap kali warnanya berubah, Bara tahu malam itu buku catatannya akan punya nama baru, entah dari sisi mereka, entah dari sisi seberang. Air tidak membedakan darah siapa yang ia bawa.
Anak didik baru itu bernama Parjo. Sebaya Wira dan Galih, baru tiba dengan gelombang wajib militer terakhir, masih punya pipi bundar anak yang belum lama meninggalkan ibunya. Bara sudah memutuskan untuk menjaganya—seperti ia menjaga Wira, seperti Jaya pernah menjaganya. Ia menyuruh Parjo tetap di lubang perlindungan paling aman, di belakang karung pasir paling tebal, mengisi magasin untuk yang lain.
Tapi perang tidak menghormati keputusan siapa pun.
Pada serangan hari keempat itu, sebutir mortir jatuh tidak di tempat yang seharusnya. Bukan di jembatan. Bukan di garis depan. Di belakang, di lubang yang Bara kira aman. Bara hanya merasakan ledakan itu lewat tanah yang melonjak di bawahnya, dan ketika ia berbalik, asap dan debu menutupi tempat Parjo.
"Parjo!" Ia berlari sebelum otaknya selesai berpikir, menerobos di antara peluru yang masih beterbangan, tubuhnya membungkuk rendah. Tetap rendah. Ia menggali dengan tangan telanjang di antara reruntuhan karung pasir, menarik anak itu keluar.
Parjo masih hidup. Untuk beberapa menit. Cukup lama untuk membuka mata, mencari wajah Bara, dan berkata dengan suara yang nyaris tak terdengar, "Pak Bara... aku ngisi magasinnya... sudah penuh semua... bilang ke Pak Bara aku sudah—" Lalu kata-katanya habis, dan napasnya juga.
Bara menggenggam anak itu di pangkuannya di tengah tembakan, dan untuk satu detik panjang ia lupa di mana ia berada. Ia hanya tahu bahwa ada pipi bundar yang tak akan kembali ke ibunya, dan bahwa ia, Bara, yang menyuruh Parjo tetap di lubang itu. Lubang yang ia kira aman. Tak ada tempat aman, otaknya berbisik, dingin dan kejam. Itu kebohongan yang kita ucapkan supaya anak-anak bisa tidur. Tak pernah ada tempat aman. Hanya tempat yang belum ditemukan mortir.
"Pak Bara!" Suara Wira, dari garis depan, panik. "Mereka di tengah jembatan! Kita kekurangan orang!"
Sesuatu di dalam diri Bara mengeras—dingin, lambat, seperti besi yang didinginkan dalam air. Ia menutup mata Parjo dengan tangannya, membaringkannya pelan, dan berdiri. Otaknya berteriak agar ia tinggal, agar ia menangis, tapi kakinya membawanya kembali ke garis. Karena di garis ada Wira, Galih, Bidin—yang masih hidup, yang masih bisa diselamatkan. Yang mati sudah mati. Yang hidup adalah tanggung jawabnya.
Ia merebut senapan, mengambil posisi, dan suaranya—ketika ia berteriak memberi perintah—bukan lagi suara anak petani dari Sumberarum. Itu suara seseorang yang menyuruh orang lain maju, tahu sebagian dari mereka tak akan kembali. Suara Jaya. Beban Jaya.
"Bidin, sapu jembatan dari utara! Galih, lempar granat ke tengah! Wira, tetap di sampingku! SEKARANG!"
Mereka menahan jembatan lagi. Lagi-lagi. Air berubah lebih merah. Dan ketika musuh akhirnya surut menjelang petang, Bara berdiri di tebing yang sama, memandang sungai yang membawa warna itu ke hilir, dan mengerti untuk pertama kali sepenuhnya apa yang dipikul Jaya selama ini.
Bukan ketakutan akan mati. Itu mudah, hampir. Yang berat adalah ini: menjadi mulut yang menyuruh maju. Menjadi orang yang akan menyimpan setiap nama, setiap pipi bundar, setiap pesan terakhir, di dalam dada yang harus tetap berdiri keesokan paginya.
Malam itu Bara menulis nama Parjo di buku catatan kecilnya, di bawah nama-nama lain. Tangannya gemetar memegang pensil, tapi ia menulis sampai selesai. Tangan yang sibuk tidak gemetar, kata Pak Darmo dulu. Tapi Pak Darmo salah, pikir Bara. Kadang tangan tetap gemetar. Kau cuma menyuruhnya bergerak meski begitu.
Wira datang dan duduk di sampingnya tanpa kata, menatap buku catatan yang sama. Anak itu tidak menangis lagi seperti dulu; perang telah mengeringkan air mata di permukaan dan memindahkannya ke suatu tempat lebih dalam. "Parjo pernah cerita," kata Wira pelan, "dia mau jadi guru. Kalau perang selesai. Mau ngajar anak-anak baca di kampungnya." Ia menelan. "Aku ingat karena waktu itu aku ketawa. Aku bilang, mana mungkin kamu jadi guru, ngitung peluru aja masih salah. Dia cuma senyum." Wira menundukkan kepala. "Aku nyesel ketawa, Pak."
Bara meletakkan tangan di kepala Wira—gerak yang sama, persis, yang pernah Jaya berikan padanya di malam pertamanya membunuh. "Dia tahu kau bercanda," kata Bara. "Dan sekarang kau ingat dia mau jadi guru. Selama kau ingat itu, Wira, dia belum benar-benar hilang." Kata-kata Jaya, dari mulut Bara, ke telinga Wira. Estafet itu, bahkan dalam duka.
Di seberang, di balik hutan jati gundul, lampu-lampu kecil musuh menyala satu-satu di kegelapan. Mereka juga mengubur orang malam ini, pikir Bara. Mereka juga punya buku catatan. Dan sungai di antara mereka mengalir, merah, ke hilir yang tak peduli pada nama siapa pun.