Bara berjalan di antara kuburan-kuburan kecil itu di tengah malam, lentera redup di tangan supaya cahayanya tak terlihat musuh. Embun mulai turun, dingin pertama musim gugur, dan napasnya membentuk kabut tipis di udara. Di setiap gundukan ia berhenti. Di setiap nama ia diam sejenak, seakan memberi mereka kesempatan terakhir untuk didengar di tanah ini.
Ia mulai dari yang paling dekat. Sebuah salib kayu sederhana, dengan nama yang ia ukir sendiri dengan ujung pisau di malam-malam yang lalu. Lalu yang berikutnya. Dan yang berikutnya. Ada yang punya nama, ada yang hanya helm di atas batang senapan karena tak ada yang sempat dicatat. Bara menyentuh setiap tanda, menyebut setiap nama yang ia ingat dalam bisik, dan untuk yang tak ia tahu namanya, ia berbisik, "Aku tak tahu namamu, tapi aku ingat kau ada. Itu pun semacam nama."
Sebagian tanda nama itu ia cabut hati-hati—salib-salib kayu kecil, papan-papan bertulis—dan ia kumpulkan dalam sebuah kantung. Ia tak bisa membawa tubuh mereka. Tapi ia bisa membawa nama mereka, supaya di posisi yang baru, di Brangas, ada tempat untuk mengingat, ada sesuatu yang bisa ditancapkan untuk berkata: mereka pernah ada, mereka tak terlupakan.
Lalu ia sampai di makam Tio.
Bara berlutut di sana, lama. Buku puisi Reno masih tertanam di atas gundukan itu, sampulnya melengkung oleh hujan dan kemarau berbulan-bulan, halaman-halamannya pasti sudah hancur. Ia telah meletakkannya di sana dulu sebagai penjaga—satu sahabat menjaga sahabat lain, kata-kata Reno menemani tidur panjang Tio. Sekarang ia harus memutuskan. Mengambil buku itu berarti mencabut penjaga dari makam Tio. Meninggalkannya berarti menyerahkannya pada musuh dan cuaca.
Tangan Bara melayang di atas tanah gembur itu, hendak menggali, lalu berhenti. Ia tak sanggup. Membongkar makam ini terasa seperti membongkar sesuatu yang lebih dari sekadar tanah. Biarlah, pikirnya. Biar Reno tetap menjaga Tio, seperti yang ia janjikan. Satu bait Reno yang dulu sering ia bacakan bergema di kepalanya—*supaya aku ingat dunia pernah punya keindahan*—dan ia menutup mata, menahan sesuatu yang naik di tenggorokannya.
"Tio," bisiknya pada gundukan tanah. "Aku harus pergi. Kami semua harus pergi. Aku tak mau, kau tahu aku tak mau. Tapi aku harus bawa anak-anak ke tempat yang lebih aman. Kau mengerti, kan? Kau yang paling mengerti soal melindungi orang lain." Ia tersenyum di tengah air mata. "Aku belum ke Marni. Belum. Tapi aku tahu di mana ia sekarang. Ia masih menunggumu, Tio. Ia masih percaya kau pulang. Dan aku akan ke sana, suatu hari, dan aku akan kabarkan padanya kau menepati janjimu. Aku bawa kata-katamu sampai ke sana. Aku janji."
Ia mengusap gundukan tanah itu, lembut, seperti mengusap kepala seorang adik. "Buku Reno kutinggal di sini, bersamamu. Biar kata-katanya tetap menjagamu, walau tanah ini besok jadi milik musuh. Kalian berdua aku bawa juga, dengan cara yang lain—di sini, di dada. Selalu."
Sebuah suara lembut di belakangnya membuat Bara berbalik. Komandan, kucing liar itu, melangkah pelan di antara nisan-nisan, ekornya tegak, seakan ia juga sedang berziarah. Ia mendekati makam Tio, mengendus, lalu duduk di atas gundukan itu dan mulai menjilati kakinya dengan tenang, seakan menjaga seperti yang selalu ia lakukan. Penjaga yang menolak meninggalkan posnya.
Bara mengangkat kucing itu pelan ke dalam dekapan. Komandan tak melawan, hanya mengeong rendah dan menyusupkan kepalanya ke lekuk siku Bara, hangat dan hidup di tengah dingin yang merangkak naik dari tanah. "Kau juga ikut," kata Bara. "Kita semua ikut. Tak ada yang ditinggalkan—tidak yang masih bisa kita bawa." Kucing itu pernah menjaga jasad Sapto di hari kedua, pernah meringkuk di samping Reno, pernah duduk di pangkuan Tio yang cerewet. Ia adalah saksi terakhir yang masih bernapas dari semua yang telah hilang di sini, dan Bara tak akan menyerahkan saksi itu pada apa pun.
Fajar mulai mengintip di ufuk timur saat Bara berdiri, kantung berisi tanda-tanda nama di satu pundak, kucing dalam pelukan, dan ransel berisi seluruh bebannya yang lain. Ia memandang Sektor Tujuh untuk terakhir kali—parit yang membesarkannya, tanah tak bertuan yang merenggut begitu banyak, lumpur yang mengajarinya siapa dirinya. Tempat di mana Sapto mati di hari kedua, Reno di kawah fajar, Darmo di ledakan pabrik gula, Tio yang menutup granat, Sahid yang berlari tegak terlalu cepat. Tempat di mana ia, seorang petani sembilan belas tahun dari Sumberarum, belajar bahwa keberanian bukanlah ketiadaan takut, melainkan ketakutan yang tetap melangkah maju demi melindungi.
"Terima kasih," bisiknya pada tanah itu, pada lumpur yang membesarkannya. "Untuk semua yang kau ajarkan. Untuk semua yang kau ambil. Aku bawa mereka semua. Mereka pergi bersamaku."
Di belakangnya, kompi yang tersisa sudah mulai bergerak ke selatan dalam barisan diam, menjauh dari musuh, menuju Sungai Brangas dan medan baru yang menanti dengan aturan-aturannya sendiri. Wira menunggu Bara di mulut parit, dan saat Bara melangkah mendekat dengan kucing di pelukan dan nama-nama di pundaknya, anak itu hanya mengangguk, memahami tanpa perlu kata.
Bara melangkah keluar dari Sektor Tujuh, dan tak menoleh lagi. Tanah yang mereka tinggalkan kini hanya tanah. Yang penting telah mereka bawa—di pundak, di dada, di ingatan. Di depan, sungai menanti, dingin dan asing, dan perang yang belum selesai memanggil mereka ke babak hidup yang baru. Tapi Bara melangkah ke sana bukan sebagai anak petani yang ketakutan lagi. Ia melangkah sebagai penjaga, membawa serta semua nama yang tak bisa berjalan sendiri, menuju garis baru yang harus ia pertahankan demi mereka yang masih bisa pulang.