Perintah itu datang seperti kebanyakan keputusan besar dalam perang—dingin, dari jauh, tanpa bertanya pada mereka yang menebusnya dengan darah. Letnan Surya membacanya pelan di hadapan Bara, dan suaranya tercekat di kata terakhir. Garis depan akan ditarik. Sektor Tujuh ditinggalkan. Seluruh kompi mundur ke posisi pertahanan baru di tepi Sungai Brangas, beberapa kilometer ke belakang, di mana komando menilai garis lebih mudah dipertahankan menghadapi musim dingin yang datang.
Bara menatap kertas itu lama. Secara taktik, ia mengerti. Sektor Tujuh adalah parit yang menjorok, sebuah tonjolan yang bisa dikepung dari tiga sisi, mahal dipertahankan dan rentan. Sungai Brangas memberi penghalang alami, garis yang lebih pendek, lebih masuk akal. Sebagai prajurit, ia tahu ini keputusan yang tepat.
Tapi ia bukan hanya prajurit.
"Surya," katanya pelan, dan ia memanggil nama itu tanpa pangkat, sesuatu yang sudah jadi kebiasaan di antara mereka sejak hari Sahid mati. "Kau tahu apa yang kita tinggalkan kalau kita mundur dari sini?"
Surya menunduk. Ia sudah berubah dalam berbulan-bulan ini—wajah bersih akademi itu kini terukir oleh hal-hal yang tak diajarkan buku. "Aku tahu, Bara. Aku tahu tanah ini ditebus mahal."
"Lebih dari tanah." Bara menatap ke seberang parit, ke arah tanah tak bertuan yang kini sudah ia kenal setiap lubang kawahnya. "Di sana, di tanah tak bertuan itu, ada Reno yang tak pernah bisa kami ambil jasadnya. Di belakang sana ada makam Tio—aku yang menggalinya, aku yang menaruh buku puisi di atasnya. Sapto. Para prajurit yang gugur di Bukit 88. Wagiran, Sahid." Suaranya menebal. "Kita mundur, berarti kita menyerahkan tanah tempat mereka berbaring pada musuh. Berarti tak akan ada lagi yang menjaga makam mereka. Tak ada lagi yang menyebut nama mereka di tanah ini."
Hening menggantung di antara mereka, hanya diisi suara angin yang mulai membawa dingin musim gugur yang pertama.
"Komandan," kata Surya akhirnya, dan ia tertawa pahit, lalu menyadari ia menyebut nama kucing itu tanpa sengaja. Kucing maskot yang masih berkeliaran di parit, masih menjaga jasad-jasad lama dengan kesetiaan yang tak dimengerti binatang lain. "Kita bahkan harus membawa kucing itu."
"Kita bawa," kata Bara tegas. "Kita bawa semuanya yang bisa kita bawa."
Kabar penarikan menyebar di antara para prajurit seperti air merembes lewat tanah, dan reaksinya bercampur dengan cara yang menyakitkan. Yang baru—Galih dan teman-temannya—merasa lega secara naluri; mundur berarti menjauh dari bahaya, setidaknya untuk sementara, dan mereka belum cukup lama di sini untuk berakar. Tapi yang lama, yang sudah lama di sini, menerimanya dengan kebisuan yang berat. Bara melihat seorang prajurit veteran duduk lama menatap dinding parit yang ia gali sendiri berbulan lalu, tangannya mengusap lumpur kering itu seperti orang mengusap punggung kuda tua. Bagi mereka, parit ini bukan sekadar lubang lumpur. Ini tempat saudara-saudara mereka mati. Ini tempat mereka pertama kali membunuh dan pertama kali menangis dan pertama kali tahu bahwa mereka sanggup bertahan satu malam lagi. Ini tempat mereka belajar siapa diri mereka. Meninggalkannya terasa seperti meninggalkan sebagian dari tubuh sendiri di belakang, walau akal sehat berteriak bahwa tinggal di sini lebih konyol lagi.
Wira berdiri di sudut, menatap ke arah gundukan-gundukan tanah kecil di belakang parit—kuburan-kuburan darurat dengan salib kayu atau sekadar helm yang ditancapkan di atas batang senapan. "Bang," katanya tanpa berbalik, "kita beneran tinggalin mereka di sini?"
Bara berdiri di sampingnya. Angin membawa bau tanah lembap dan daun yang mulai membusuk, bau musim yang berganti. "Tubuh mereka," kata Bara perlahan, memilih kata seperti memilih jalan di ladang ranjau. "Tubuh mereka tinggal di sini. Tapi mereka—siapa mereka, nama mereka, apa yang mereka ajarkan kita—itu kita bawa. Itu jalan bersama kita. Itu tak pernah tinggal di tanah mana pun." Ia meletakkan tangan di pundak Wira. "Kau tahu di mana Tio sebenarnya? Bukan di gundukan tanah itu. Tio ada di cara kau menjaga Galih. Reno ada di puisi yang kadang kau gumamkan tanpa sadar. Mereka pindah bersama kita, ke mana pun kita pergi. Yang kita tinggalkan cuma cangkangnya."
Wira mengangguk pelan, walau matanya berkaca. Bara tahu kata-kata tak pernah benar-benar cukup. Tapi kata-kata adalah satu-satunya tanda nama yang bisa dibawa pindah.
Malam itu, Bara mengumpulkan semua orang dan memberi perintah persiapan. Mereka punya satu malam lagi di Sektor Tujuh sebelum mundur saat gelap esok harinya, bergerak menjauh dari musuh di bawah lindung kegelapan. Satu malam terakhir di tanah yang membesarkan mereka, yang menelan begitu banyak dari mereka, yang mengajari mereka harga sebuah nama.
Bara tak tidur. Ia duduk di tepi parit, menatap siluet gundukan-gundukan kuburan di bawah cahaya bulan, dan mendengarkan suara malam yang ia kenal terlalu baik—desis angin di kawat berduri, gema jauh meriam di sektor lain, langkah pelan kucing Komandan yang berpatroli di antara nisan-nisan seperti penjaga yang tak pernah diberi izin pulang. Esok malam tempat ini akan jadi milik musuh. Lubang-lubang yang mereka gali dengan tangan berdarah, parit-parit yang mereka kuatkan dengan karung pasir dan doa, makam-makam yang mereka tandai dengan nama—semuanya akan diserahkan tanpa satu tembakan pun, dan entah bagaimana itu terasa lebih berat daripada kehilangannya dalam pertempuran. Ia tahu apa yang harus ia lakukan sebelum fajar. Ada perpisahan yang tak bisa diserahkan pada orang lain. Ada ziarah yang harus ia lakukan sendiri, di tanah yang besok pagi tak lagi jadi milik mereka, sebelum lumpur yang membesarkannya berpindah tangan pada musuh selamanya.