Sungai Brangas tidak seperti parit. Itu hal pertama yang Bara sadari ketika truk-truk berhenti dan menurunkan mereka di tepian berbatu, di bawah langit kemarau yang putih dan keras. Parit adalah dunia yang sempit, lurus, sebuah luka panjang di tanah yang ia kenal setiap senti lumpurnya. Brangas terbuka lebar. Air cokelat mengalir lambat di antara dua tebing rendah, membawa ranting dan kadang bangkai entah binatang entah bukan, dan di seberangnya hutan jati gundul berdiri seperti barisan tulang.
Bara berjongkok di bibir tebing, menyipitkan mata ke seberang. Komandan si kucing melompat turun dari ranselnya dan langsung menyusup ke balik karung pasir, mengendus tanah baru dengan curiga. Bara mengerti perasaan itu. Tanah ini belum tahu nama mereka. Belum ada yang dikubur di sini.
"Beda, ya, Pak Bara," kata Wira di sampingnya. Anak itu—kini tak sekecil dulu, bahunya mulai melebar—memandang air dengan mata yang masih menyimpan ketakutan lama. "Di parit kita tahu musuh di depan. Di sini... ke mana-mana terbuka."
"Justru itu masalahnya." Bara menunjuk dengan dagunya. "Lihat kelok sungai di sebelah utara. Air di situ dangkal. Kalau aku musuh, di situ aku menyeberang malam-malam." Ia berdiri, menepuk debu dari lututnya. "Kita pasang ranjau dan kawat di sana. Senapan mesin diarahkan menyilang, jangan lurus. Biar siapa pun yang menyeberang kena dari dua sisi sekaligus."
Suara langkah di belakangnya. Letnan Surya datang, peta tergulung di tangan, seragamnya masih terlalu rapi untuk seseorang yang sudah berbulan-bulan di front. Dulu perwira muda itu akan langsung membentangkan peta dan membaca garis-garis kontur seolah perang adalah ujian akademi. Sekarang ia berhenti dua langkah di belakang Bara, dan untuk beberapa saat hanya menonton.
"Kelok utara," kata Surya akhirnya, pelan, seolah menguji apakah ia sudah belajar membaca medan dengan mata yang benar. "Air dangkal. Tempat menyeberang."
Bara menoleh, sedikit terkejut. "Letnan sudah lihat."
"Aku belajar melihat dengan caramu." Surya menggulung petanya, tidak membentangkannya. Ada sesuatu yang berubah di wajah itu sejak serangan siang hari yang gagal dulu—garis-garis yang lebih dalam, mata yang tak lagi memandang anak buah seperti angka di atas kertas. "Aku tahu pangkatku di atasmu, Bara. Tapi aku juga tahu siapa yang sudah lebih lama hidup di lumpur. Aku tidak akan mengulang kebodohanku."
Bara tidak menjawab langsung. Ia ingat seorang prajurit muda yang gemetar di parit, yang tak tahu bagaimana menarik pelatuk, dan ia ingat tangan kasar Kopral Jaya di kepalanya: tetap rendah. Estafet itu, pikirnya. Bahkan untuk seorang letnan.
"Kalau begitu kita kerja," kata Bara. "Galih, Wira—bawa kawat ke kelok utara. Bidin, kau yang atur senapan mesin." Ia berhenti, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan, hanya untuk Surya, "Dan Letnan—jangan suruh anak-anak menggali di tempat terbuka siang hari. Penembak jitu seberang sudah pasti memasang mata."
Surya mengangguk. Bukan anggukan perwira pada prajurit. Anggukan murid pada guru.
Mereka bekerja sepanjang sore. Tangan Bara yang dulu hanya tahu mengikat berkas padi kini mengikat kawat berduri dengan gerak yang sudah otomatis, sambil otaknya menghitung sudut, jarak, garis tembak. Telapaknya sudah lama tak lagi berdarah oleh duri-duri itu; kulitnya telah mengeras, seperti banyak hal lain dalam dirinya. Bidin, veteran sinis dengan bekas luka di pipi, menggerutu tentang amunisi yang menipis, tapi memasang senapan mesin persis di titik yang Bara tunjuk. Di kejauhan, di seberang Brangas, sesekali terlihat kilatan—logam memantulkan matahari. Musuh juga sedang menggali. Juga sedang belajar medan baru ini.
Galih, yang baru beberapa minggu di front, terus bertanya sambil bekerja. Kenapa kawatnya dipasang serong, bukan lurus. Kenapa karung pasir ditumpuk dua lapis di sudut tertentu saja. Bara menjawab setiap pertanyaan dengan sabar, karena ia ingat betapa dirinya dulu tak tahu apa-apa, dan betapa setiap potong pengetahuan adalah selembar tipis perisai antara seorang anak muda dan maut. Wira, yang sudah lebih lama, ikut menjelaskan dengan gaya kakak pada adik, dan Bara mendengarkan dengan diam-diam puas—estafet itu, lagi, mengalir tanpa ia harus memaksanya. Ilmu yang diberikan Jaya padanya kini menetes turun ke tangan-tangan yang lebih muda lagi.
Malam turun perlahan, membawa dingin kemarau yang menggigit. Bara duduk di balik karung pasir, menyalakan tak lebih dari sepercik api kecil yang ditudungi telapaknya. Komandan si kucing melingkar di pangkuannya. Ia mengeluarkan bungkus kunyit-bawang ibunya, sudah tinggal serbuk dan aroma samar, dan mendekapnya sebentar. Bau itu membawanya pulang ke Sumberarum, ke pagi-pagi yang tak punya peluru. Lalu ia menyimpannya kembali.
Surya datang dan berjongkok di sampingnya, tanpa membawa pangkat, hanya membawa dua keping roti kering. Ia menyerahkan satu pada Bara. Mereka makan dalam diam, dua orang dari dunia yang berbeda, kini menatap sungai yang sama.
"Brangas ini," kata Surya akhirnya, "kalau jatuh, jalan ke kota belakang terbuka. Tidak ada lagi garis di antaranya." Ia menelan roti keringnya dengan susah payah. "Di akademi mereka mengajari kami soal garis pertahanan alami. Sungai, bukit, lembah. Mereka menggambarnya di papan tulis dengan kapur, rapi, seperti soal hitungan. Tidak ada satu pun dari gambar itu yang berbau seperti ini."
Bara tidak menjawab segera. Ia memikirkan papan tulis yang tak pernah ia lihat, dunia di mana perang adalah garis kapur dan bukan bau lumpur dan besi. Dua dunia yang dipisahkan jurang yang dalam, dan keduanya kini duduk berdampingan di tepi sungai yang sama.
"Aku tahu." Bara menatap air gelap yang mengalir lambat di bawah bintang. "Makanya kita tidak boleh jatuh."
Di seberang, samar-samar, terdengar sesuatu seperti gerakan banyak orang dalam kelam. Komandan si kucing mengangkat kepalanya, telinga menegak, dan menatap ke arah sungai dengan mata yang berkilau hijau. Bara meletakkan tangan di senapannya, dan rasa dingin yang bukan dari udara merayap naik di tengkuknya.
Tanah baru ini belum tahu nama mereka. Tapi malam ini, pikir Bara, mungkin ia akan mulai belajar.