Prajurit penghubung itu datang membawa surat dan kabar dari belakang, dan saat ia menyebut bahwa kampung halamannya adalah sebuah kota pesisir di selatan, sesuatu menegang di dada Bara. Ia menunggu sampai pembagian surat selesai, sampai malam turun dan parit kembali sunyi, lalu ia mendekati Karto—kurir batalion yang sudah berkali-kali membawakan pos untuk mereka, yang wajahnya sudah akrab—dengan cara yang ia harap terlihat santai.
"Kau bilang dari pelabuhan selatan?" tanya Bara, menawarkan rokok lintingannya yang terakhir. "Yang mana? Yang ada dermaga ikannya?"
Karto menerima rokok itu dengan syukur. "Persis. Bau amisnya tak pernah hilang dari hidungku. Kau kenal?"
Bara menggeleng pelan. "Tidak. Tapi aku punya saudara—" ia berhenti, dan kata itu terasa benar walau Tio dan ia tak sedarah, "—dulu punya saudara dari sana. Tukang panggul ikan. Namanya Tio." Ia menelan. "Ia gugur. Beberapa bulan lalu. Menutup granat dengan tubuhnya supaya kami yang lain hidup."
Karto menunduk, menyentuh dahinya sejenak, sebuah penghormatan diam yang dimengerti semua orang di front ini. "Semoga ia tenang."
"Ia punya tunangan di sana," lanjut Bara, suaranya menjaga keseimbangan di atas jurang. "Penjual kelapa muda di dekat dermaga. Namanya Marni. Tio... ia bicara tentang Marni setiap hari. Setiap hari, Karto. Sampai kami semua hapal seperti apa rambutnya walau tak pernah melihatnya. Ia janji akan pulang dan menikahinya." Bara menatap bara rokok yang menyala-padam. "Kau pernah dengar nama itu? Marni? Penjual kelapa?"
Karto mengerutkan kening, mengingat-ingat, mengisap rokok lintingan itu dalam-dalam. "Marni... pelabuhan itu kecil. Penjual kelapa di dermaga tak banyak." Ia mengangguk pelan, perlahan, seakan wajah seseorang mengapung naik dari kenangannya. "Aku rasa aku tahu yang kau maksud. Perempuan muda, ya? Dengan tahi lalat di sini—" ia menunjuk di bawah matanya. "Suaranya nyaring, pandai menawar, golok kelapanya cepat sekali. Berjualan dari gerobak dekat pos penimbangan. Kalau itu orangnya, ia masih di sana. Aku lihat ia waktu cuti terakhir, belum lama. Masih berjualan." Karto terdiam, lalu menambahkan dengan hati-hati, suaranya melembut, "Tapi orang-orang bilang ia menunggu seseorang. Ia tolak semua yang melamar—dan ada beberapa yang melamar, perempuan seperti itu. Katanya tunangannya pergi perang dan ia janji menunggu sampai pulang. Tiap senja, kata orang, ia berdiri sebentar di ujung dermaga, menatap ke arah utara. Ke arah front." Karto menatap baranya. "Banyak perempuan begitu sekarang. Berdiri di dermaga, di stasiun, di ujung jalan desa. Menatap ke arah kita yang di sini."
Sesuatu pecah dan menutup kembali di dalam dada Bara, terlalu cepat untuk dinamai. Marni masih menunggu. Marni belum tahu. Di sebuah pelabuhan jauh di selatan, di bawah langit yang sama, seorang perempuan masih berdiri di dermaga setiap senja, menanti lelaki yang tubuhnya sudah ditelan lumpur Sektor Tujuh, masih percaya pada sebuah janji yang sudah ditepati dengan cara yang paling kejam—Tio menepatinya, ia hanya tak bisa pulang untuk mengatakannya.
Sampaikan ke Marni aku menepati janji. Itu kata terakhir Tio. Pulang, Bara. Dan Bara, yang telah membawa kalimat itu di dadanya selama berbulan-bulan seperti pecahan logam yang tak bisa dicabut, kini tahu di mana perempuan itu berada, dan ia tak bisa pergi, dan ia tak tahu kata-kata apa yang bisa mengabarkan kematian tanpa menghancurkan seseorang.
Malam itu, setelah Karto tidur, Bara menyalakan puntung lilin di sudut parit dan mengeluarkan secarik kertas dari catatan lapangannya. Tangannya, yang tak gemetar lagi memegang senapan, gemetar memegang pensil. Ia mulai menulis.
*Marni yang baik. Aku Bara. Aku saudara Tio di garis depan.*
Ia berhenti. Bagaimana ia melanjutkannya? Bagaimana seseorang menulis bahwa seseorang yang ditunggu tak akan pulang? Bahwa janji itu ditepati dengan tubuh yang menutup ledakan? Ia menulis, mencoret, menulis lagi. Ia menceritakan Tio yang ia kenal—Tio yang cerewet, yang bicara terlalu banyak karena takut keheningan, yang menyimpan kelapa muda kering di sakunya sebagai jimat, yang bicara tentang Marni dengan mata yang menyala. Ia menulis bahwa Tio mati sebagai pahlawan, lalu mencoretnya, karena Tio tak akan suka kata itu. Ia menulis bahwa Tio mati menyelamatkan saudara-saudaranya, dan bahwa pesan terakhirnya adalah untuk Marni: bahwa ia menepati janjinya.
Lalu Bara membaca ulang surat itu, dan tangannya menurun. Ia tak sanggup. Belum. Mengirim surat itu berarti membunuh harapan terakhir seseorang dengan tinta, dari jarak jauh, tanpa bisa menggenggam tangannya saat ia hancur. Itu pengecut. Tio pantas lebih dari itu. Marni pantas lebih dari itu.
Bara melipat surat itu, hati-hati, dan menyelipkannya ke dalam kaleng dadanya, di samping foto-foto yang ia jaga. Suatu hari, janjinya pada dirinya sendiri. Suatu hari aku akan ke pelabuhan itu sendiri. Aku akan berdiri di hadapannya dan kukatakan langsung, sambil memegang tangannya, supaya ia tak sendirian saat dunianya runtuh. Itu yang Tio mau. Itu yang aku akan lakukan.
Ia meniup lilin. Dalam gelap, ia memandang ke arah selatan, ke arah laut yang tak bisa ia lihat, dan untuk sesaat ia hampir bisa mencium garam dan amis ikan dan suara seorang perempuan menawarkan kelapa muda di senja yang hangat. Janji-janji menumpuk di pundaknya, satu demi satu, dan ia memikulnya seperti memikul ransel berisi nama-nama. Tapi ia tak keberatan. Memikul mereka adalah caranya menjaga mereka tetap hidup.