Baku tembak itu datang tanpa peringatan, seperti biasanya. Sebuah patroli musuh menyusup terlalu dekat saat fajar, dan tiba-tiba parit dipenuhi suara peluru yang menampar karung pasir dan teriakan untuk siaga. Bukan serangan besar—hanya kontak kecil, sebuah pertukaran tembakan yang akan reda dalam setengah jam—tapi bagi seseorang yang belum pernah mendengar peluru lewat sejengkal dari telinganya, tak ada yang namanya "kecil".
Bara bergerak menyusuri parit, tubuhnya menunduk otomatis, membaca medan dengan cara yang sudah jadi naluri. Ia membalas tembakan ke arah kepulan asap di seberang, lalu memindai anak buahnya. Wira sudah di posisi, menembak dengan tenang. Yang lain juga, sebagian besar. Lalu Bara melihatnya.
Galih meringkuk di dasar parit, punggung menempel ke dinding lumpur, senapan tergeletak di pangkuannya tak tersentuh. Matanya membelalak, menatap kosong, dan seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ia tak menembak. Ia tak bergerak. Ia hanya membeku, terkunci dalam ketakutan yang menelan segalanya, persis seperti Bara di pertempuran pertamanya, saat jarinya membeku di pelatuk dan dunia menyempit jadi satu titik teror.
Beberapa prajurit lama melirik dengan campuran kasihan dan jengkel. Di tempat lain, di bawah komandan lain, anak itu mungkin akan diteriaki pengecut, ditendang, dipermalukan di depan semua orang, mungkin bahkan diseret dan diadili sebagai pengecut di hadapan regu. Bara tahu betul rasanya tubuhmu mengkhianatimu—saat otakmu berteriak bergerak tapi setiap otot membatu, saat kau ingin menembak tapi jarimu seakan bukan milikmu lagi. Ia ingat malam Sapto mati, jarinya yang membeku di pelatuk, Kopral Jaya yang tidak meneriakinya melainkan menariknya, lalu menghiburnya seperti ayah saat akhirnya ia menangis. Mempermalukan orang yang sedang dikuasai teror tidak membuatnya berani. Itu menghancurkannya, kadang selamanya. Yang menyelamatkan Bara dulu bukan bentakan. Yang menyelamatkannya adalah seseorang yang duduk di sampingnya dan berkata: kau masih manusia.
Maka Bara merangkak ke arah Galih, rendah, di bawah garis peluru. Ia tak berteriak. Ia duduk di samping anak itu, punggung ke dinding parit yang sama, seakan mereka cuma sedang berteduh dari hujan.
"Galih," katanya, suaranya tenang, hampir santai di tengah gemuruh. "Galih, lihat aku. Bukan ke sana. Ke aku."
Mata Galih bergerak, perlahan, menemukan wajah Bara. Bibirnya bergerak tapi tak ada suara.
"Bagus," kata Bara. Ia meletakkan tangannya di kepala Galih—tangan yang sama, gerak yang sama, warisan yang sama yang turun dari Jaya ke Bara, dari Bara ke Wira, dan kini ke anak ini. "Kau takut. Aku tahu. Itu bagus. Berarti kau masih waras. Cuma orang gila yang tidak takut di sini." Ia tersenyum tipis. "Aku juga takut. Sekarang, di detik ini. Jantungku berdebar sama kerasnya dengan jantungmu. Kau tahu kenapa aku masih bisa bergerak? Bukan karena aku tidak takut. Karena aku tidak melawan takutnya. Aku biarkan dia ada, lalu aku tetap bergerak. Itu saja. Itu rahasianya."
Sebuah peluru menampar karung pasir di atas mereka, menjatuhkan pasir ke pundak. Galih tersentak, tapi matanya tetap di Bara.
"Sekarang kita lakukan satu hal kecil," kata Bara. "Bukan menyerang. Bukan jadi pahlawan. Cuma satu hal. Kau ambil senapanmu—pelan-pelan—dan kau pegang. Itu saja. Belum tembak. Cuma pegang."
Tangan Galih yang gemetar bergerak, mencari senapan di pangkuannya, mengangkatnya. Berhasil.
"Bagus. Sekarang kita berlutut—pelan—dan kau intip lewat celah karung. Aku di sebelahmu. Aku tak ke mana-mana. Kalau kau lihat asap di seberang sana, itu tempat mereka. Belum usah tembak. Cuma lihat."
Bersama, mereka mengangkat tubuh sedikit. Galih mengintip lewat celah, dan Bara merasakan tubuh anak itu menegang melihat tanah tak bertuan untuk pertama kalinya di bawah tembakan. Tapi ia tidak membeku lagi. Ia melihat.
"Kau lihat asapnya?" tanya Bara.
"L-lihat, Bang."
"Sekarang—kalau kau siap, cuma kalau kau siap—kau arahkan ke sana, dan kau tarik pelatuknya pelan. Jangan disentak. Pelan, seperti memeras. Buang napas dulu, baru tarik."
Galih membuang napas. Senapan itu menyalak di tangannya, menendang pundaknya, dan untuk sesaat ia tampak terkejut oleh dirinya sendiri, oleh kenyataan bahwa ia melakukannya. Ia tak mengenai apa pun—itu tak penting. Yang penting jarinya bergerak. Yang penting ia menyeberangi jurang antara membeku dan bertindak, jurang yang sama yang pernah Bara seberangi dengan tangisan, di malam Sapto mati.
"Itu," kata Bara, dan ada kelembutan yang aneh di suaranya. "Itu, Galih. Kau melakukannya. Kau melangkah maju walau takut. Tahu namanya itu apa?"
Galih menatapnya, masih gemetar, tapi sesuatu telah berubah di matanya, sebuah pintu kecil yang terbuka. "Apa, Bang?"
"Berani," kata Bara. "Itu namanya berani. Bukan tidak takut. Tapi takut dan tetap maju."
Baku tembak mereda tak lama kemudian, seperti yang Bara duga sejak awal. Musuh menarik patrolinya. Tak ada korban di pihak mereka. Galih duduk di dasar parit, menatap senapannya seakan benda itu telah berubah jadi sesuatu yang lain, dan air mata mengalir diam di pipinya—bukan air mata ketakutan, melainkan air mata seseorang yang baru saja menemukan bahwa ia lebih kuat dari yang ia kira.
Wira mendekat, duduk di sisi lain Galih, dan menepuk pundaknya tanpa kata. Bara menyaksikan dari kejauhan, dan dalam hati ia berbicara pada lelaki yang jauh di sebuah ranjang gereja: Saya teruskan, Pak. Saya teruskan apa yang Bapak mulai. Lalu ia bangkit, menyeka lumpur dari lututnya, dan kembali pada pekerjaan tanpa akhir untuk menjaga mereka semua tetap bernapas satu hari lagi.